7. Rasa Yang Rumit

1.2K 84 9
                                        

"Sepertinya, doaku tidak pernah menembus langit. Atau mungkin, kita sama-sama mendoakan hal yang bertolak belakang?"

**********************

Aroma kopi dari dalam kafe Zero membuat mood Arin sedikit membaik. Cewek itu lantas berjalan masuk, lalu memesan minuman yang menurutnya dapat mengurangi sedikit penat pada siang ini.

Setelah membayar minumannya pada kasir, Arin kembali berjalan menuju tempat duduk yang berada di pojokan cafe.

Senyum di bibir perempuan itu tak pernah lepas. Tentu saja, Arin merasa semangatnya kembali muncul saat foto Azril mulai menghiasi media sosialnya.

Arin sangat sibuk menggulir ponselnya dengan perasaan senang. Bahkan, cewek itu sampai lupa kalau tujuan utamanya datang ke kafe Zero ini adalah untuk meminum kopi agar pikirannya bisa sedikit tenang.

Dentingan lonceng memaksanya untuk menoleh, Arin bungkam seribu bahasa saat tahu siapa yang sekarang tengah dia tatap.

Cowok itu sendiri, tidak bersama Lila?

Hal yang membuatnya sampai bolos adalah cowok itu. Dia patah hati, mendengar teman-teman kelasnya bergosip tentang Azril yang sedang berpacaran sama Lila. Kenapa Lila bisa, sedangkan dirinya nggak?

Kenapa sih Azril tidak pernah lihat Arin lebih dari adik dari mantan kekasihnya dulu, Ana? Kenapa semua perasaan yang Arin miliki tidak pernah Azril terima?

Sudahlah, Arin tidak mau kepalanya tambah pusing. Toh Lila kan masih pacar, bukan isteri. Jadi, Arin masih bisa ambil kesempatan itu kan?

Arin memperhatikan Azril yang tengah memesan minuman. Dalam hati, Arin bertanya-tanya. Untuk apa Azril berada di Kafe ini saat jam pelajaran masih berlangsung? Apa mungkin, cowok itu membolos seperti dirinya?

Lalu Arin tersenyum.

Melihat cowok itu dalam jarak yang tidak terlalu jauh membuat hatinya menghangat. Akhirnya Arin berdehem singkat, lantas dirinya bangkit dari tempat duduk. Cewek itu mulai berjalan menuju meja dimana Azril berada.

Gerakan kaki Arin berhenti, dia menarik napas kuat sebelum menyapa Azril. "Hai Zril, sendiri aja?" tanya Arin, gugup.

Arin menunggu, dengan senyum hangatnya. Dia teramat senang, sehingga tidak menyadari jika cowok di depannya itu tidak ingin menatapnya. Bahkan, Azril sempat mendengus kesal ketika mendengar suara Arin menelusup gendang telinganya.

"Senekat itu?" sahut Azril, dingin.

"Maksudnya, Zril?"

Azril berdiri, tidak bernafsu lagi untuk menikmati minuman favoritnya. Cowok itu menoleh sekejap, lalu tersenyum kecut.

"Daratan sama laut, ibaratkan itu kita berdua. Sekeras apapun lo berusaha menggapai gue, semuanya bakal sia-sia, Rin. Kita hidup di dua sisi yang berbeda!"

Arin terdiam sesaat, mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul dalam dadanya. Cewek itu ingin sekali berteriak sekerasnya, namun tenggorokannya seperti tercekat.

Dengan susah payah Arin menahan tangisnya agar tidak tumpah. Dia berdehem pelan seraya tersenyum tipis. "Aku tahu," jawab Arin. "Sekuat apapun aku meraih kamu, semuanya bakal sia-sia. Tapi untuk saat ini, aku lagi gak pengen jadi lautan. Aku lebih baik menjadi langit, walaupun berada sangat jauh di atas sana, tapi setidaknya... hanya langitlah yang selalu setia mengawasi daratan yang berada di bumi."

Azril menghela napas letih. Ia melirik Arin kembali, sebelum akhirnya meneruskan langkahnya untuk keluar dari kafe.

"Bahkan setelah kepergian kamu, aku masih saja cemburu atas apa yang pernah kamu miliki, Na." lanjut Arin, setelah Azril berlalu pergi.

GAME OVER [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang