4. Perasaan suka atau benci?

1.7K 120 65
                                        

"Sebuah memori diciptakan untuk menyimpan berbagai kenangan, lantas.... haruskah aku terus terpaku pada memori yang kau goreskan?"

********************

Dengan hati-hati, Azril menaiki tangga menuju kamarnya. Berjalan mengendap-endap seperti pencuri. Lalu setelah menemukan knop pintu, cowok itu langsung memasuki kamarnya.

Azril melempar tas sekolahnya ke sembarang tempat, tidak peduli jika Ibunya melihat kelakuannya dan memarahinya karena tidak menurut. Dia merebahkan badannya di atas kasur, memejamkan mata sekejap lalu menghela napas.

"Laurel Lila Alesha. Sebenarnya apa yang buat lo jadi menarik dimata Kevin?" Azril kembali mengingat malam di mana dia kalah taruhan. Dan harus terjebak dalam rencana Kevin. Cowok itu menghembuskan napas berat, lalu melirik pigura kecil yang berada di atas nakas. Beberapa detik dia habiskan untuk memperhatikan pigura tersebut, hatinya berdebar seketika.

"Kenapa bisa kalian sangat mirip?" Azril heran. Bagaimana bisa, Lila memiliki sikap jutek seperti dia? bahkan sikap juteknya juga sama.

Apa ini takdir?

Azril lalu bangkit, dengan wajah yang sedikit mengeras. Cowok itu berjalan menuju sofa kamaranya. Dia mendudukan bokongnya pada sofa tersebut. Lalu mengambil gitar yang berada di sebelahnya.

Perlahan Azril mulai memetik gitar, menimbulkan alunan lembut dari melodi yang dimainkan. Kedua matanya menatap lurus pada arah pigura berada. Azril menghembuskan napas lelah namun tidak menghentikan petikan gitarnya.

Saat kau terlalu rapuh

Pundak siapa yang tersandar

Tangan siapa yang tak melepas

Ku yakin aku ...

Azril kembali diam, kini pandangannya mengarah pada langit-langit kamar. Petikan gitarnya mulai pelan, cowok itu membuka sedikit mulutnya bersiap bernyanyi kembali.

Bahkan saat kau memilih

Untuk meninggalkan aku

Tak pernah lelah menanti

Meskipun engkau ....

.... Tak akan kembali

Petikan gitar berhenti, Azril meletakan gitarnya di samping. Kemudian dia menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Cowok itu beberapa kali memejamkan kedua matanya, mencoba menghapus bayangan wajah dia dalam benaknya.

"Dia kan sudah bahagia sekarang. Masih belum ikhlas aja, lo?" sahut suara berat dibelakang Azril. Tidak lama, langkah kaki mulai terdengar mendekat. Azril sudah tahu siapa itu, makanya cowok itu tidak menoleh atau menyahuti kembali.

Azril menghembuskan napas berat. Dia seperti ditampar mendengar fakta yang Rifki ucapkan tadi. Rifki benar, harusnya dia ikhlas bukan malah berlarut-larut.

"Gue kangen banget sama, Ana." ucap Azril dengan lirih. Sudah dua tahun kepergiannya, dan dua tahun juga Azril selalu menyalahkan dirinya setiap hari.

Rifki duduk di depan Azril, dia masih asik dengan handphonenya sehingga tidak langsung menanggapi ucapan Azril tadi. Beberapa detik selanjutnya barulah Rifki melirik Azril, cowok itu tersenyum mengejek sambil menggosok-gosok lengan kanannya.

"Bukannya lo udah dapat penggantinya, ya?" sindir Rifki tepat sasaran.

Azril kini menoleh. Menatap sahabatnya dengan muka masam. "Emangnya, lo! Tiap hari gonta-ganti pasangan terus, anu lo masih aman gak?"

GAME OVER [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang