Prolog

141 2 0
                                        

"Aku pernah mencintaimu sederas hujan turun, namun kau malah memberiku badai."

----------

Suara dentuman drum terdengar sangat nyaring. Tidak ada yang melewatkan acara kali ini, semua murid berkumpul di tengah lapangan, ikut memeriahkan acara penutupan MPLS untuk siswa baru.

Lorong-lorong tampak sepi, kelas pun sama. Tetapi, ada anak yang sedari tadi duduk diam di bawah rindangnya pohon taman belakang. Dia adalah Azril, murid baru yang selalu datang terlambat selama masa MPLS berlangsung.

Cowok itu menyandarkan tubuhnya pada pohon, matanya terpejam, ada sumpalan telinga yang kini sedang memutar lagu. Dia sangat menikmatinya.

Angin bertiup, menerbangkan helaian rambut hitamnya. Dia berharap suasana tenang ini berlangsung akan berlangsung lama.

Tapi harapannya pupus ketika hentakan kaki yang nyaring terdengar saling bersahutan. Azril mendengus sebal, menyadari ketenangannya akan segera hilang. Namun cowok itu tetap memejamkan matanya, seolah tidak mendengar suara apapun.

"Gue nggak mau ketemu lo lagi, brengsek!"

"Please, dengerin penjelasan gue!"

Suara itu tampak tidak asing bagi Azril, seperti suara..., "Rifki?" ucap Azril sangat pelan. Cowok itu membuka matanya perlahan, melihat keributan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan ya, dugaannya benar. Lagi-lagi sahabatnya itu berulah.

"LO CIUMAN SAMA CEWEK LAIN! Apa lagi yang mau dijelasin, ha?"

Rifki menghembuskan napas berat, dia mengacak-acak rambutnya dengan kesal. "Lila sayang, kamu salah paham. Cewek itu yang cium aku dulu--"

"Dan lo menikmatinya bukan? Udah ya, gue sudah muak berurusan sama cowok kayak lo!" Lila mengepalkan tangannya dengan kencang. Tubuhnya masih bergetar hebat. Pengkhianatan seperti ini tidak pernah terbayangkan akan dialami olehnya. Dia selalu percaya pada Rifki, namun kepercayaannya malah dibalas dengan rasa sakit.

"Kita putus!" ucap Lila telak. Air matanya luruh. Dia berbalik, namun tak langsung pergi. Matanya melirik gelang pasangan yang selalu dia pakai.

Lila menoleh pada Rifki, melihat lengannya yang ternyata tidak memakai gelang yang sama. Tiba-tiba, Lila tertawa sarkas menyadari betapa bodohnya dia karena mencintai orang yang salah.

Dengan amarah yang memuncak, Lila menarik gelang yang dia pakai sampai melukai tangannya. Dia melemparkan gelang itu pada Rifki dan disambut dengan ketekejutan.

Apa yang mereka lakukan? Memangnya Azril yang sebesar ini nggak kelihatan ya? Sepertinya mereka berdua terlalu asyik dengan perdebatannya sampai tidak sadar ada Azril yang tengah duduk di belakang mereka, mengamati pertengkaran itu dengan senyum geli.

Azril membuang nafasnya, lalu beranjak dari tempat dia duduk. Dia pergi menghampiri Rifki yang terus diam sambil melihat tubuh Lila yang semakin menjauh.

"Bukannya simpanan lo masih banyak?" ucap Azril, berbisik di telinga Rifki.

"Yang ini beda. Gue beneran suka sama dia."

"Baru suka, belum cinta kan?"

Rifki mendengus. "Udah lah, cowok dingin kayak lo mana tahu rasanya jatuh cinta."

Jatuh cinta? Dua kata itu yang kini membuat Azril menarik napas dalam. "Gue pernah mencintai seseorang dengan hebatnya, tapi gue tetap ditinggalkan." Lalu cowok itu pergi, meninggalkan Rifki yang masih membeku di tempatnya.

Sementara itu, Lila tengah duduk dengan isak tangis yang memilukan. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Jika sakit hati akan semenyakitkan ini, mungkin satu tahun lalu dia tidak akan menerima ajakan Rifki untuk berpacaran dengannya.

Benar-benar bodoh. Lila terus merutuki dirinya dengan frustasi. Cewek itu terus menangis sampai tidak menyadari tangannya yang terus meneteskan darah.

"Semoga lo dapet balasan yang sama, Rifki brengsek!"

Kali ini, Azril merasa terlalu banyak ikut campur dalam masalah orang lain. Lihat, sekarang cowok itu malah berjalan lurus dari tempat yang seharusnya dia lewati.

Azril menghela nafas, melihat bagaimana gadis di depannya ini seperti tidak ada semangat hidup. Darah dari tangannya terus menetes, membuat Azril semakin tidak tega melihatnya.

Bukankah sahabatnya itu sudah sangat keterlaluan?

"Lo mau bunuh diri?" Azril menarik lengan kanan Lila, dia membuka dasinya lalu membelitkan pada luka yang ada di tangan Lila. "Masih banyak cowok yang lebih baik dari anak tengil itu. Gak usah mikirin hal yang merugikan lo!"

"Termasuk lo?"

Azril menatap Lila cukup lama, sampai akhirnya, "Gue.... tergantung."

---------------------------------

Tbc

GAME OVER [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang