My Perfect Boyfriend - 12

2K 192 1
                                    

Affan yang masih terlihat kacau dengan luka lebam yang menghiasi wajahnya memaksakan diri untuk masuk ke kantor. Dia tidak peduli tanggapan teman-temannya nanti jika melihat kondisinya saat ini. Dengan senyum yang selalu terpancar di wajah tampannya, Affan berusaha menyapa setiap pegawai kantor yang ia kenal.

"Hey bro, omg!!!! muka lo kenapa banyak polkadotnya begitu." Affan terlonjak kaget saat sebuah suara mengintrupsi dirinya.

Lidya menyapa Affan yang sedang berjalan lalu terkejut dan nyaris berteriak ketika melihat wajah Affan yang di penuhi banyak luka lebam.

Affan menatap malas cewek aneh yang ada di sebelahnya ini. Lidya ini sebenarnya cewek yang cantik dan juga menarik. Namun kebiasaannya yang suka menganiaya para kaum lelaki, membuat setiap laki-laki yang di dekatinya merasa jengah.

"Lo ngagetin gue aja" protes Affan pada Lidya.

Lidya mendesah pelan sambil memandang Affan "Lagian sih, gue dari tadi panggilin lo. Lo nya malah gak denger." Amuknya garang.

Affan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak memperdulikan ocehan Lidya, ia lalu meninggalkan cewek itu sendirian. Saat ia berjalan melewati ruang Account Officer, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Abel.

Abel kembali menatapnya. Tatapan itu berbeda dari tatapan yang di lihat oleh Affan terakhir kali. Ia sudah tidak melihat ada lagi tatapan menyedihkan yang ada di wajah gadis itu. Namun tatapannya saat ini lebih menyiratkan kecemasan dan kegelisahan ketika melihat lelaki yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.

Affan membalas tatapan itu dengan lembut seperti mengerti apa yang ada di isi kepala gadis itu. Ia tersenyum kecil dan berjalan pelan bermaksud untuk mendekat ke arah Abel. Namun reaksi yang di tunjukkan Abel membuat pria itu seketika menghentikan langkahnya.

Saat Abel menyadari Affan ingin mendekatinya, Abel lalu buru-buru meninggalkan Affan dan masuk ke ruang kerjanya. Affan yang melihat itu hanya menatap sendu ke arah gadis yang sudah menghilang di balik pintu ruang kerjanya.

Abel berkali kali berguling kesana kemari di atas ranjangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Namun matanya tidak mau terpejam juga. Sesekali ia melirik ke arah ponselnya lalu meraihnya. Tapi itu di urungkannya karena perasaan gengsi sudah hinggap di dirinya.

Sebenarnya, saat ia berpapasan dengan Affan di ruang kerjanya tadi, Abel sempat melihat kondisi wajah Affan yang bisa di katakan kurang baik. Ia melihat beberapa lebam di wajah Affan. Ingin sekali ia menanyakan apa yang terjadi pada pria itu, Namun hal itu tidak jadi di lakukannya karena dia tidak ingin pria itu menganggap dirinya terlalu peduli pada pria itu. Lagian, dia dan Affan juga belum saling mengenal. Untuk apa dia terlalu peduli.

Abel menggeleng kepalanya pelan berusaha untuk mengusir bayangan Affan dari dalam pikirannya. Sejak tadi dia terus memikirkan pria itu. Menilik palung kecil di hatinya, ia menyadari jika ada rasa asing di hatinya. Tapi dia tidak tahu apa itu.

*****************

Pukul 06:30 Abel sudah tiba di kantornya. Sesekali menguap, gadis itu berusaha menahan kantuk karena aktivitas tidurnya yang melewati jam batas. Tadi malam, akibat pergulatan pikirannya yang tidak menemukan ujung, Akhirnya gadis itu terlelap sekitar pukul 02:00 pagi.

Sambil sedikit sempoyongan, Abel berjalan menuju ruang absen. Saat ia sudah selesai melakukan scan kehadiran, ia mendengar salah satu pegawai kantor tengah berbicara mengenai seseorang yang ia tahu.

"Eh, ini si Affan WA gue tadi. Dia bilang hari ini dia nggak masuk" Kata Beni, salah satu anak marketing di kantor ini.

"Oh ya, tumben dia nggak masuk. Tapi bisa aja sih, kemarin gue liat dia kacau begitu." Timpal salah satu teman Beni yang sama-sama menjabat sebagai marketing.

My Perfect Boyfriend~Where stories live. Discover now