Abel masih berdiri dan diam di tempat pijakannya. Ia membiarkan Affan mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. Abel tahu bahwa Affan sedang menangis, itu ditandai dengan isakan pelan yang pria itu keluarkan. Abel ingin berbalik dan melihat kondisi lelaki itu sekarang, tapi pelukan erat yang Affan berikan membuat Abel tidak bisa bergerak se-sentipun.
"Sampai kapan kamu terus peluk aku seperti ini? Lepasin sesak nih." ucap Abel meronta sambil terus menatap ke depan.
Affan mendengakkan kepalanya. Pria itu menghapus pelan air mata yang sedikit banyaknya telah membasahi matanya. Sebegitunya Affan merasakan kenyamanan ketika memeluk Abel.
"Maaf..." kata Affan lalu melepaskan pelukannya pada Abel.
Abel berpura-pura bernafas seperti layaknya seseorang yang baru saja terlepas dari suatu yang membuat dadanya sesak. Sungguh, rasanya Abel ingin sekali menanyakan apa dan kenapa lelaki itu menangis. Tapi rasa gengsi Abel yang terlalu tinggi melebihi tinggi bukit yang saat ini mereka daki, membuat Abel mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih lanjut pada Affan. Ia lalu berbalik ke belakang dan matanya membalas tatapan mata Affan yang nyaris sembab.
"Kamu berani ya peluk aku nggak pakai izin. Gimana kalau aku kaget trus nggak sengaja aku dorong kamu dari atas sini." Gerutu Abel pada Affan.
Mendengar ocehan Abel, Affan terkekeh pelan. Seketika ia lupa akan kejadian dan permasalahan yang membuat ia terlihat seperti layaknya pria yang sangat lemah. Abel memang selalu bisa membuat Affan menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun mereka baru kenal beberapa bulan, tapi kepolosan Abel selalu berhasil membuat Affan ingin selalu menggoda gadis tersebut.
"Nggak masalah asal yang dorong kamu itu aku. Kalo aku mati, aku kan bisa gentayangin kamu trus aku ajak kamu mati bareng aku."
Mendengar itu, Abel lantas memukul lengan keras Affan. Bukannya Affan yang kesakitan akibat di pukul Abel, justru Abel yang mengerang tangannya sakit akibat memukul lengan kekar Affan.
"Kata-kata kamu nyeremin tahu nggak. Siapa juga yang mau mati sama kamu, Kalau kamu mau mati, mati aja sendiri. Bila perlu sekalian kamu gali kuburan kamu juga." Keluh Abel sambil menyedekapkan tangannya di atas dada.
"Marah? Hemm" goda Affan mencolek pipi Abel.
Abel menjauhkan wajahnya dari tangan nakal Affan. Tanpa disadari, pria itu mengecup pelan bibir Abel membuat Abel membesarkan pupil matanya akibat perlakuan Affan.
Tidak di sangka, Gadis itu memberikan ciuman kepada Affan. Kali ini Affan yang dibuat terkejut oleh tindakan Abel. Tanpa di komando, mereka saling berbalas ciuman satu sama lain.
"Kamu ternyata cewek yang good kisser. Kamu nggak sepolos yang aku duga"
Abel yang masih merapikan rambutnya yang berantakan mendelik kesal kearah Affan. "Mesum!!!!"
Affan terbahak. Ia kembali memberantaki lagi rambut Abel yang hampir rapi. Membuat gadis tersebut kembali berdecak kesal.
"Pasti mantan kamu yang kemarin seneng banget bisa selalu dapat ciuman kamu"
Abel melihat Affan dengan kaget. Matanya nyaris tidak berkedip karena mendengar ucapan yang baru saja pria itu keluarkan.
"Mantan? Apa maksud kamu?" Suara Abel bergetar saat menyebutkan itu pada Affan.
Affan yang sadar akan ucapannya menoleh menatap Abel. Ia merutuki otaknya yang selalu tidak bisa menyaring setiap kata per kata yang keluar dari bibirnya. Pria itu langsung memikirkan seribu cara agar bisa memberi alasan yang logis pada Abel.
"Maksud aku pasti sebelumnya kamu pernah pacaran kan? Dan nggak mungkin kamu sama pacar kamu setiap ketemu cuma pegangan tangan atau nongkrong. Pasti kamu juga penah ngerasain ciuman sama dia." Ucap Affan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil merutuki kebodohannya.

YOU ARE READING
My Perfect Boyfriend~
ChickLitSetelah ditinggal menikah oleh pria yang ia cintai sejak 5 tahun terakhir, membuat Abel Anita menjadi pribadi yang dingin dan cenderung menutup diri. gadis itu seakan membuat benteng tinggi untuk dirinya agar siapapun tidak dapat masuk dan mengusik...