Dasar tolol, tidak pintar-pintar juga kau wahai Cara Sucia yang kampungan! Ingin kujewer kupingku sendiri, aku memang tolol! Sudah tahu bagaimana ganasnya Carlotha memperlakukan aku dengan sinis, masih saja aku nempel kayak perangko antik.
Sekarang kami semua berada di dalam taxi butut menuju mall terbesar di kota ini. Masih setia juga aku ikut, tidak tahu malu ingin melihat jalanan beraspal dan bangunan tinggi menjulang. Sementara saldo uang di dompet di bawah seratus ribu rupiah, itu sudah termasuk rencengan-rencengan koin emas lima ratus rupiah. Duhai mamakku di kampung, ini anakmu lagi sok kota, nempel terus ama orang kaya...kepingin liat mall.
Aku baru sadar, ketika mataku bertabrakan dengan jari-jari kakiku yang serupa jahe kurus berbonggol...astaga, aku lupa ganti sendal. Aku masih setia memakai sandal akupuntur yang serupa sandal hotel tapi dengan sol yang lebih tebal. Berbiji-biji kasar lapisan atasnya menekan kulit telapak kakiku. Duh, pantaslah ada istilah Kabayan masuk kota, inilah aku sang Kabayani!
Aku pasrah tak berani bersuara, salah sedikit bisa dirajam dengan lidah bercula tiga belas.
Di dalam mall meringis-ringis dan terhingis aku berjalan, dihajar sandal akupuntur. Semua toko itu luar biasa indah tumpah ruah menawarkan apa saja yang bisa dibeli dengan uang. Sayangnya uang itu tak kumiliki. Nanti yah, kalau aku sudah lulus kuliah, dapat kerja, dapat gaji...anganku sambil menatap berkunang-kunang ke deretan sepatu cantik merk Rotelli.
Tiba-tiba kurasakan udara memanas, sejuknya AC pendingin dalam mall termakan oleh udara panas ini. Aku menjadi gerah...aku menoleh ke sumber panas kawah berapi itu.
Matanya awas bagaikan cerpelai. "Jangan keenakan kau! Pulangnya ingat kau bayar ongkos taxi!"
"Ah?" Aduh iya aku sungguh tidak punya sopan santun. Numpang saja dan lupa berbagi ongkos taxi. Tapi sesungguhnya, dari dasar dompetku yang paling dalam, aku cukup tahu diri. Sudah kurencanakan akan kubayar taxi pulangnya. Tapi teror ongkos taxi ini sudah mendahului.
"Iya kubayar pulangnya," jawabku cepat-cepat. Aduh, gampang pula aku diintimidasi!
Sosialita merk kw kelas dua itu pun menyeringai cukup puas. Dan berjalan berlalu meluncur memasuki butik-butik baju. Aku memilih masuk ke factory outlet dengan kertas-kertas besar bertuliskan obral di gerobak besinya. Segala jenis baju teronggok menjadi satu, nasi campur saja kalah ramainya. Gelisah aku memikirkan isi dompetku yang akan dikurangi ongkos taxi sesuai sumpahku, aku mundur. Dan berjalan-jalan saja sepanjang jalanan mall yang lebar.
Tapi jangan salah, pas-pasan begini, semua mata menoleh memandang. Entah kagum entah galau melihat sandal akupuntur yang aku kenakan. Chin up girl! You are so beautiful!
Teror itu menyerempet lagi, dengan tulang pipinya yang tinggi bagaikan kuda bangsawan, "Ingat yah kau bayar ongkos taxi pulang! Ingat, ongkos taxi!"
Ingatlah untuk punya harga diri, jangan betah disiksa oleh orang yang sebenarnya tidak lebih pintar dari gayanya. Hanya saja orang itu lebih kejam...tertanda 'salah sendiri kok mau'.
KAMU SEDANG MEMBACA
1997 - Menuju Paris
Short StoryKisah tentang anak SMP kelas 2 yang bercita-cita muluk ingin menginjakkan kakinya di Paris, memandang ke langit Paris, dan berdiri mematung di depan lukisan The Last Supper - Leonardo da Vinci. Apa dayanya, di celengan kalengnya hanya ada sebelas ri...
