Tuan rumah yang baik mengajak kami ikut makan siang di warung Coto Makassar yang waktu itu baru satu dua warung saja yang buka di kota buaya.
Berangkatlah kami dengan mobil pribadi, setidaknya aku tidak harus ketakutan lagi dituduh hanya ingin menjadi penumpang gelap tanpa bayar taxi.
Santai, relax dong! Aku mulai bersandar-sandar dengan nyaman di dalam mobil. Setiba di warung, aku juga masih bersantai-santai ingin menikmati sedikit waktu tanpa intimidasi yang berarti. Apalagi sang tuan rumah juga ada di antara kami.
Setelah masing-masing dari kami memesan, aku makan dengan bahagia, dengan sedikit sopan demi pencitraan sebagai anak lulusan SMU yang santai hepi. Aku selalu sanggup dan pasti akan membayar sendiri apa yang aku makan...walau pas-pasan, bukan berarti orang lain yang harus menanggungnya kan? Kecuali memang dengan tulus ditraktir...hehe.
Rindu juga dengan rasa khas dari kuah daging yang enak ini, apalagi ditambah seiris perasan jeruk nipis dan sesendok kecil lombok tumis. Mantaplah...heaven!
Semuanya makan dengan lahap...suasana menjadi sedikit bersahabat.
Selesai makan, tuan rumah berjalan ke meja kasir hendak membayar. Aku mengekor, menyodorkan sehelai lembaran uang dari dompetku, yang sudah kuhitung pasti cukup untuk membayar lebih daripada yang kumakan.
Tuan rumah menolak, sampai ketika aku mendengar suara guntur tertawa menggelegar dari belakangku, "Kasih keluar uang kok yah uang kecil."
Aku bisa membayangkan, bibirnya pasti membentuk seringai mak lampir yang melecehkan.
Apa salahku harus berhadap-hadapan dengan penyihir dari goa tersombong ini?
Aku menunggu apakah Carlotha akan mengeluarkan uangnya juga, jika ingin melecehkan apakah dia juga berani mengeluarkan uang lebih besar daripada uangku?
Ternyata tidak, dengan mata berair-air bagaikan menang pertempuran adu mata tanpa berkedip, Carlotha berjalan pergi sambil tertawa-tawa. Tawa terculas yang pernah aku dengar. Aku membayar untuk makanannya!
Mangkok-mangkok coto berlompatan menari ke sana ke mari, seolah ikut menertawakanku. Tapi lombok-lombok tumis yang berada di dalam wadah plastik itu mengingatkanku...sabar, keculasannya tidak akan membunuhmu. Perempuan jahat itu, akan baik pada waktunya.
Tersenyum santai aku berjalan kembali ke mobil, akan kubuktikan...uang pangkal kuliahku yang 4 x lebih kecil jumlahnya daripada uang pangkal kuliahmu itu akan berguna ke setiap rupiahnya.
Girls speak out!
KAMU SEDANG MEMBACA
1997 - Menuju Paris
Short StoryKisah tentang anak SMP kelas 2 yang bercita-cita muluk ingin menginjakkan kakinya di Paris, memandang ke langit Paris, dan berdiri mematung di depan lukisan The Last Supper - Leonardo da Vinci. Apa dayanya, di celengan kalengnya hanya ada sebelas ri...
