5. Perjalanan Kelabu

39 6 0
                                    


Author updatenya dini hari yaa, lagi banyak kerjaan heheh. Terima kasih. Jangan lupa vote nya

Kamar tidur Nata berantakan tak tertata, ia masih memejamkan matanya dan tak sadar kamar tidurnya berserakan akibat ulahnya, alarm berbunyi berkali-kali tapi ia tetap tidak ingin membuka matanya. Sampai akhirnya Bibi Ira masuk ke kamarnya untuk membangunkannya.

"neng.. Bangun.. Udah jam 6, nanti telat loh." ucapnya perlahan

"ah biarin deh bi, ngantuk banget ini bi, besok aja deh sekolahnya." ucapnya dengan setengah sadar.

"bener nggak mau sekolah? Bibi bilangin papa loh." bujuk bibi sambil tersenyum.

"eh jangan-jangan bi! Iya Nata bangun nih, udah bibi keluar dulu, Nata mau mandi." ucapnya dengan nada yang tak teratur

Nata paling nurut dengan ayahnya, meskipun ayah dan ibunya telah bercerai tetapi hubungan Nata dengan ayahnya masih sangat erat, bahkan lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Ia sering bercerita tentang kehidupan sehari-harinya, mulai dari sekolah, teman-temannya bahkan soal asmara.

Setelah usai mandi dan berpakaian seragam lengkap, Nata bergegas menyantap roti lapis isi dua buah tomat tersebut sambil menyambar susu sapi murni, dengan cepat ia menghabiskan sarapannya agar tidak terlambat. Lalu nata segera berangkat sekolah, ia suka sekali bersepeda motor daripada menaiki mobil mewahnya, alasannya sepeda motor anti macet. Sesampainya didepan gerbang sekolah, seseorang melambaikan tangannya bermaksud memanggil Nata. Dihampirinya pria paruh baya itu. Ternyata ia adalah ayah Nata, Pak Agus Dirgantara.

"Nata? Gimana kabarmu? Sehat kan? Papa kangen sama kamu, gimana kabar mamamu juga?" pertanyaan bertubi-tubi diajukan kepada Nata.

"Nata sehat pa, kalo mama, Nata nggak tau, dia aja pergi pagi pulang pagi, gimana Nata tau kabarnya. Papa gimana? Sehat kan?" jawab Nata sambil memeluk papanya.

"Papa sehat nak. Ya sebagai anak yang baik itu harus tau gimana kabar mamanya, ditelfon sekali-kali nak, nggak boleh ngelawan loh ya!" jawab ayahnya dengan rasa bersalah.

"iya pa nanti Nata telfon. Udah dulu ya pa, Nata mau masuk dulu, ntar sore Nata kerumah papa, mau cerita banyak heheh."

"iya masuk gih, papa tunggu dirumah." jawab pak Dirgantara sembari meninggalkan Nata.

Nata berjalan menuju kelasnya dengan langkah terbata-bata, karena jam menunjukkan pukul 7.02, dengan segera ia masuk kedalam kelas, tapi satu hal yang menghambat Nata masuk kelas, Pak Trisno melambaikan tangannya dan memanggil Nata.

"Nata? Sini dulu nak" beliau memanggil dengan nada halus.

"iya pak." Nata berjalan menuju arah Pak Tris dengan mimik wajah sebal

"kenapa kok telat?" Tanya nya

"iya pak, saya kesiangan, tadi didepan juga dipanggil sama papa" jawabnya jujur

"ohh.. Yaudah kamu ambil surat telat dulu di BK, terus silahkan masuk kelas." jawab Pak Tris sambil berjalan masuk ke dalam ruangannya.

Nata berjalan pelan-pelan menuju ruang BK, bibirnya manyun tak ada hentinya. Sesampainya di ruang BK, ia meminta surat izin masuk kelas lalu ia segera berjalan menuju ruang pembelajaran. Didalam kelas ia masih memikirkan kejadian semalam yang menimpa dirinya.

Semalam Nata pergi kumpul bersama club muralnya, mereka berencana untuk menggambar sisi selatan gedung pabrik besi di tengah-tengah kota Bandung. Pabrik tersebut kala itu sedang terjadi PHK besar-besar an, Nata dan teman-temannya ingin menyampaikan aspirasi dan simpati mereka melalui mural. Sesampainya di lokasi mereka mulai menjalankan rencananya, pabrik tersebut dijaga ketat oleh satpam dengan tujuan mengantisipasi dan mengamankan datangnya demo yang dilakukan oleh pegawai, tapi soal keamanan sudah tertulis di rencana. Dua orang dari anggota YMC menarik perhatian satpam dengan cara mengajak berbincang beberapa satpam didepan, setelah penjagaan mulai lengah, Dimas memberi kode lambaian tangan yang berarti satpam sudah lengah, Nata dan beberapa anggota YMC mulai masuk ke dalam pabrik melalui pagar besi sebelah selatan, satu persatu dari kami berhasil masuk dan mulai menggambar pola yang sudah direncanakan, Nata ditugaskan untuk mewarnai pola yang sudah terpampang di sisi gedung tersebut. Setelah semua rencana sudah beres, mereka bergegas keluar dari gedung tersebut, tapi rencana tidak berjalan mulus sesuai ekspektasinya, tiga orang satpam menyalakan senternya dari kejauhan, dengan sigap mereka bersembunyi dibalik drum minyak yang besar, setelah keadaan membaik, Nata dan teman-temannya berlarian untuk bisa keluar dari pabrik secepatnya, tapi apa daya mereka.. Diluar pabrik tersebut sudah berbaris beberapa orang mengenakan seragam hitam dengan kaitan benda lonjong disebelah pinggulnya, mereka tak bisa lari kemanapun. sebelum itu, dua orang temannya tadi gagal untuk mengalihkan pandangan satpam, sehingga para satpam mulai curiga dan akhirnya mulai mencari di tempat kejadian. Nata tidak kehabisan akal, ia mengambil tiga buah batu kecil yang berada di samping sepatu Vans Authentic original miliknya, dilemparkannya batu tersebut ke arah pagar besi dan mulai berteriak "pak maling pak! Kejar pak kejarr! " Setelah para satpam teralihkan pandangannya, Nata dan teman-temannya berlari secepat mungkin, tetapi dua orang temannya tadi tak bisa kabur karena sudah diikat sebelumnya oleh satpam. Nata berlari kencang menuju base camp, ia dan beberapa temannya berhasil lolos. Dengan nafas yang tak teratur, Nata merebahkan tubuhnya di sofa dengan wajah yang sangat letih. Setelah keadaan aman, Nata bergegas pulang dan mulai megistirahatkan tubuhnya yang remuk. Salah satu alasan Nata terlambat sekolah adalah kejadian semalam.

Bel istirahat berbunyi, Nata dan tiga sahabatnya berjalan menuju kantin langganannya.

"Buu... Nasi gorengnya empat yaaa! Gapake lama, sama minumnya es jeruk empat ya bu!" Teriakan keras Fitri yang membuat para siswa menganga.

"oke neng! Lima menit lagi jadi." sahut ibu kantin

"eh fit, suara lo bikin ngilu di telinga njirr, sadar dikit napa kalo suara lo cempreng." olok salma.

"tau tuh Fitri, tetep aja kerjaannya wkwk" sahut Intan dan Nata hanya mengangguk setuju.

"iyadeh maafin gue, gue salah." ucap Fitri memelas.

Setelah semua pesanan datang, mereka mulai melahapnya dan habis seketika.

Bel pulang telah menghiasi hati para pelajar, hal yang sama juga terjadi pada Nata, ia amat gembira layaknya anak kecil yang dikasih balon. Ditengah jalan menuju perjalanan pulang, Nata baru ingat jika ia berencana mampir ke rumah papanya, dengan segera Nata putar balik menuju arah rumah papanya.

****

Senja JalananTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang