"I'm fine, Dim."
***
Setelah kejadian ucapan Dimas waktu itu, membuat Nana sedikit ge'er. Dimas mengatakan mereka mungkin berjodoh dan ucapan ajaib itu mampu menjungkir balikan hati Nana. Meskipun itu hanya ucapan canda recehan tapi bagi Nana itu seperti sebuah harapan.
Nana mengambil dua potong cheesscake dari dapur kemudian membawanya ke ruang tamu, disana terlihat Nami sedang sibuk dengan buku-bukunya.
"Gini nih kalo kerja kelompok di rumah lo Na, Mama lo pasti bikinin kita chesscake." Nami segera menyambar kue keju tersebut dengan bersemangat Nana menatap Nami malas.
"Niatnya mau belajar apa makan Nam?"
"Dua-duanya." Nami tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapihnya.
"Heuh."
"Na?"
"Ya,"
"Gue mau nanya serius nih,"
"Iya apa?"
"Lo itu sebenernya suka kan sama si Dimas?" Nami menatap Nana curiga, matanya menyipit sedangkan tangannya memegang sepotong cheesscake.
"Mau tau aja atau mau tau banget?"
"BANGETTT!!!"
"Jujur enggak ya?" Nana menatap Nami dengan jail.
"Bilang aja, gue janji gak bakal bilang siapa-siapa." Nami menegakan tubuhnya dan menatap Nana serius.
"Males ah, elo kan comel lagian kan Dimas udah punya pacar kali."
"Yah ko gitu sih, berarti kita bukan sahabat ya Na masa sih lo gak percaya sama gue." Nami menekuk wajahnya sedih.
"Bukan gitu juga kali. Kenapa sih lo selalu nanya gitu mulu,"
"Kan pengen tau!"
Nana mendelik, "Udah ah ngapain ngomongin yang gak jelas."
"Selama janur kuning belum melengkung elo masih punya kesempatan." Ucapnya dengan semangat 45 Nana hanya menatap Nami tak habis pikir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ogah banget kalo harus jadi PHO pikirnya, itu gak baik dan Nana bukan orang seperti itu.
"Terserah lo aja deh." Nana memilih fokus pada buku-buku di depannya.
"Ya lo mah gak asik,"
"Hm.."
***
Jam sudah menunjukan pukul 16.00 WIB tapi Nana masih sibuk dengan tugas-tugasnya.
"Susah banget sih!" Nana mengacak rambutnya frustasi, sudah hampir 2 jam dia menghambiskan waktunya dengan soal-soal tersebut. Harus berapa kali dia menjelaskan bahwa dirinya membenci pelajaran Matematika.
"Na kita tanya ke Dimas aja yuk?" Nami menyandarkan kepalanya ke kepala kursi, menaikan kakinya ke atas meja kemudian menutup matanya Nami juga terlihat sama frustasi seperti Nana.
"Ayolah kita suruh Dimas ngerjain ini aja yak?"
"Okay gue telepon dia nya dulu,"
Nana mencari kontak Dimas di ponsel bercase banana-nya, setelah menemukan kontak Dimas Nana menekan tombol hijau pada layar ponselnya. Tanpa menunggu lama telepon pun tersambung.
"Hallo?"
"Iya Na?"
"Dim elo dimana?"
"Euh gue lagi diluar nih, kenapa?"
"Elo bisa ke rumah gue gak sekarang?"
"Sorry Na gue lagi sama Febri nih di Puncak."
"Puncak?" Nana mengerutkan keningnya, ngapain mereka berdua ke Puncak? Pikirnya.
"Iya nih, gue di undang sama keluarga Febri jadi gak enak aja kalo gue nolak. Oh iya emang lo ada perlu apa? Elo baik-baik aja kan Na?"
"Gue gak baik-baik aja Dim disaat lo menghabiskan waktu dengan pacar lo!" Batin Nana, dalam hati yang paling dalam Nana ingin sekali mengatakannya tapi mana mungkin. Nana menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menghirupnya kembali menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Eung... Tadinya gue mau minta bantuan lho ngerjain PR Matematika," Tuturnya kemudian.
"Hmm... Gue malem ini rencana mau pulang ko, jadi besok aja gimana?"
"Okay gak masalah."
"Hm..."
"Yaudah, gue tutup ya."
"Oh iya Na."
"Take your time." Entah kenapa Nana mengatakan kalimat tersebut secara spontan, Nana yakin Dimas pasti akan merasa aneh mendengar kalimat tersebut plus dengan nada bicaranya yang seperti orang yang sedang cemberu, ah memang dia sedang cemburu sekarang. Hatinya bergemuruh, tentu saja.
"Sampai ketemu besok."
Tuttttt..............
Nana menutup teleponnya secara sepihak, Dimas di undang oleh keluarga Febri yang artinya mereka sudah sangat dekat. Dan disini Nana masih mengharapkan balasan perasaan dari Dimas padahal sudah terbukti cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan.
"Na Dimas gak bisa?"
"Eh.. Iya katanya dia lagi di Puncak."
"Yaudah kita kerjain besok ajalah sama Dimas."
"Okay."
Nana merasakan hatinya tidak tenang, Dimas dan Febri mereka memang pasangan serasi dan Dimas tentu jatuh cinta sedalam-dalamnya pada Febri, Febri itu populer, cantik dan pintar tidak sebanding dengannya.
"Bodoh Na, lho bodoh kalo masih suka sama dia." Batinnya.
"Dia pacar orang bego! Udah lupain mereka, I'm fine Dim. I'm fine." Lanjutnya.
Bersambung....
Untuk semuanya yang sudah berbaik hati menghabiskan waktunya hanya untuk membaca cerita absurd ku ini, makasih banyak yahh salam sayang
Love qhrinia.... ❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Totally Of Love
JugendliteraturKisah persahabatan antara dua manusia yaitu cewek dan cowok yang akhirnya saling jatuh cinta namun mereka bingung bagaimana cara memulai mengungkapkan perasaan masing-masing. Dibumbui dengan pemanis, pengasin dan pemait. Apakah mereka akan saling...
