.
.
.
"P' Na kembalikan, kasihan Yut" anak kecil yang di panggil Na tersebut hanya menjulurkan lidahnya mengejek anak kecil lainnya yang menatapnya ingin menangis
"DADDY!!!" Teriakan yang cukup mengelegar yang membanggungkan Singto dari alam bawah sadarnya. Dengan tampang yang masih berantakan juga baju tidur yang Singto keNakan, dia pergi mencari asal suara dan terlihat dua orang anak kecil yang saling bertengkar. Yang satunya sedang berada di atas bangku dan yang satunya tengah menagis menghampirinya.
"Na, apa yang kau lakukan pada adikmu? Dan cepat turun Na! Nanti kau jatuh" Singto menghampiri anak kecil yang masih setia berada di atas bangku dengan memegang sebuah boneka berbentuk kambing putih. Ah, Singto tau sekarang permasalahannya ada dimana
"Pai, berhenti menagis, Na cepat kembalikan boneka Pai" Singto mengendong anak laki-laki yang berada di bangku tadi, Singto mengambil boneka yang ada di tangan Na, dan memberikan pada anak laki-laki yang sedari tadi menagis kareNa di kerjai oleh kakaknya. Sebenarnya Singto bingung kenapa Na begitu senang menjahili adiknya sendiri sampai membuatnya menagis.
"Kenapa Na begitu nakal? Kasian Pai, P'Na tidak boleh begitu lagi mengerti" Singto menurunkan Na dan menasihatinya sejenak, Na yang dapat teguran dari daddynya menatap Singto dengan mata berkaca-kaca.
"Oh jangan lagi"
"PAPAAAA~" bagus Singto kau membuatnya menagis, dan sekarang dia tidak akan diam jika bukan Krist yang turun tangan. Ahh kenapa harus di hari dia libur di suruh menjaga ke dua anaknya ini. Krist cepatlah pulang.
"Cup.. Na maafkan daddy" Singto meNarik Na pada pelukannya dan menenepuk punggung kecil anaknya pelan, berusaha membuat anaknya berhenti menagis. Sementara dia sibuk menepuk punggung anaknya dengan tangannya, mata Singto sedang mencari dimana Handphonenya berada.
"dimana sebenarnya handphonenya aku letakan" Singto yang medumel dengan kesal karena tidak melihat handphonenya, dia beralih pada kamarnya dan terlihatlah handphonenya yang tergeletak di kasur. Singto mendial angka satu untuk melakukan panggilan cepat.
Di letakannya handphonenya pada bahu dan kupingnya, dengan tangan yang masih menepuk punggung Na yang masih menagis memanggil Krist
"Hallo P' Sing ada apa?"
"Krist, Na menagis. aku tidak bisa membuatnya berhenti menagis"
"hei! Kau apa kan anakku?"
"dia anak kita Krist, bukan Cuma anakmu"
"ya,ya,ya dia anak kita, cepat berikan teleponenya pada Na"
Singto yang mendapat perintah seperti itu langsung menempelkan telephonenya pada kuping Na yang masih setia menagis memanggil Krist.
"Na, sayang~"
"Papa..hiks daddy jahat pada Na"
"Cup.. masa anak papa menagis, memang apa yang daddy lakukan apa pada Na?"
"daddy memarahi Na"
"kenapa daddy memarahi Na?"
"Na mengerjai Pai lagi, Na cuma mau Pai bermain bersama Na. tidak bersama Yut saja, Na tidak nakalkan papa?"
Krist yang mendengar dari sana cuma menghela nafas dan tersenyum, Na memang sering mencari perhatian dari adiknya yang berbeda tiga tahun tersebut. Sedangkan Pai sang adik hanya meresponnya dengan seadanya dan malah asik dengan boneka pemberian Off teman kuliah Krist dan Singto dulu.
"Na tidak Nakal, tapi bila ingin bermain dengan N' Pai, Na hanya perlu mengajaknya, tidak dengan merebut mainannya sayang. Sekarang Na berhenti menagis oke, dan pergilah meminta maaf pada daddy dan N' Pai"
"Tapi-"
"P' Na kan sudah besar, sebentar lagi papa akan pulang dengan membawa sebuah hadiah misteri, dan hadiah ini hanya untuk anak baik dan penurut. Na mau hadiahnya bukan?"
"Na mau~, baiklah Na akan meminta maaf pada N' Pai dan daddy"
"Anak pintar, kalau begitu berikan telephonenya pada daddy"
Na yang berad di gendongan Singto menggoyangkan kakinya, pertanda meminta turun dari gendongan Singto, Singto yang tau keingiNan dari ankanya menurunkannya dan meletakan aNaknya hati-hati di lantai. Na menyerahkan handphonenya pada Singto dan berlai keluar kamar menemui adiknya Pai
"hallo P' Sing?"
"iya Krist?"
"P' Sing sebentar lagi aku pulang, tolong jaga anak-anak, aku tidak ingin melihat mereka bertengkar lagi. Lagi pula kau sudah tau apa yang dilakukan Na hanya ingin menarik perhatian Pai, jangan terlalu keras pada Na ya P' "
"Hem, aku tau Krist, dan sekarang aku merasa bersalah pada Na"
"minta maaflah pada Na P' Sing, kalau begitu aku tutup dulu telephonenya P'. Sepertinya dokter sudah datang"
"hem, Krist cepatlah pulang. Aku mencintaimu"
"iya aku akan pulang setelah dokter memeriksa ma, aku juga mencintaimu P' Sing. Bye~"
BIP..
Seletah telephonenya di mataikan Singto langsung menyusul kedua anaknya yang tengah berada di halaman belakang entah sejak kapan. Dia tersenyum sejenak, sepertinya merawat dua anaknya tidak seburuk yang dia fikirkan. Lagi pula ini bisa menjadi Quality time yang belum sempat Singto berikan pada anak-anaknya.
.
.
.
END
Yuhyuuu hutang ku banyak, heheheh aku gak tau ini sebenernya FF apaan wkwkwkk, udahlah pokonya mah selamat membaca jangan lupa berikan saran dan kritik kalian di komentar dan jangan lupa berikan suara berharga kalian juga :)
Akhir kata oca ucapkan terimakasih :)
KAMU SEDANG MEMBACA
PERAYA FAMILY
FanfictionCerita keseharian tentang Singto dan Krist yang menjadi Orang tua dari dua anak laki-laki. dimana kesabaran, ketelatenan dan ketulusan mereka di uji oleh tingkah kedua anaknya.
