Part one

63 5 3
                                    


my heart melts when your eyes meet my eyes.

-------------------

Ada yang yang lebih Mars gemari dibanding segelas susu coklat panas yang ia tengak saat malam hari, selain warna pastel, selain acara televisi liv and maddie. Yaitu..

Rai.

Primadona sekolah bhakti, kapten tim basket, punya kharisma tinggi. Menurut mars rai itu absoulutely perfects.

"Gue gak nyangka hari ini pak endang gak masuk," Ucap Nuri, sahabat Mars.
"Iya, tumben banget pak endang absen, biasanya juga udah nongkrong dikelas," Celetuk Mars sembari terkekeh. Nuri mengeleng.

Tiba-tiba Anggit datang sembari memegang buku tugas matematika dan memasang wajah memelas.

"Nuri.. Bantuin gue dong ngerjain tugas matematika bu Betty, gue semalem ngantuk parahh," Rengek Anggit. "Lo mah kapan sih yang lo gak tidur, kerjaan lo kan molor.dikit-dikit nguap, dikit-dikit molor," Ucap Nuri sembari mengambil buku tugas yang anggit pegang.

"Hehe.. Tau aja lo mah." Anggit terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Sementara Nuri membantu Anggit mengerjakan tugasnya, Mars dialihkan sementara oleh mereka berdua, ia memilih membuka buku novel yang baru ia beli kemarin, baru merasakan ketenangan yang hakiki, tiba-tiba pintu kelas digebrak.

"woy!!! Hito berantem sama Darga dilapang!! udah bonyok itu!" mendengar teriakan Gerald, anak laki-laki kelas ips1 sontak berlarian keluar.

'Darga? '

"Mars, ikut gak? Penasaran gue," ajak Nuri.

Lamunannya buyar akibat tepukan Nuri , lantas ia menggangguk.

Saat mereka bertiga keluar kelaspun sudah terlihat segerombolan siswa yang mengerumuni 2 orang yang terlibat adu jotos. Siapa lagi kalau bukan Hito sibiang onar SMA bhakti, tapi seorang lagi, Mars tidak mengenalnya.

Mereka bertiga diam, tidak berani ikut turun kelapangan, takut terlibat adu jotos mending jaga jarak aman.

"ngeributin apaansih? Segala pake adu jotos, ribet amat ya," celetuk Anggit.

"kayaknya sih ada bau-bau masalah perselingkuhan." Nuri mengendus-ngendus kekanan dan kekiri. Mars menggeleng. "nuduh yang enggak-enggak lo," ucap Mars.

Lalu tiba-tiba datang seorang gadis berperawakan tinggi, berparas cantik dan putih memasuki kerumunan.

"Nah nah liatkan, apa kata gue. Inimah masalah cewe! " Celetuk Anggit dengan heboh sembari menunjuk-nunjuk gadis tersebut. "Apaan sih lo nggit, biasa aja kali, gausah pake segala nunjuk-nunjuk." Nuri mendelik.

Mars tetap memperhatikan kerumunan tersebut, sampai gadis itu melerai keduanya. Dan Hito pun mengalah dan memilih pergi.

"Yah.. Bubar deh, garame," ucap Anggit. "Lo sering nonton ftv-ftv tentang perselingkuhan ya! " Tuduh Nuri kepada Anggit, "Tau aja lo." celetuk Anggit. "Pantes, keliatan," ucap Nuri sambil berlalu masuk kedalam kelas. Anggit menyusulnya.

Tapi Mars masih diam ditempat, melihat gadis dan lelaki yang berada dilapangan basket, sedang berbicara, seperti adu cekcok, lalu sang lelaki pergi meninggalkan gadis tersebut. Baru beberapa langkah mata lelaki asing itu menatap mata mars, sontak ia terkejut dan membalikan badan, melangkah kembali menuju kelasnya.

----------

Matahari sedang senang dengan langit, sehingga membuat awan cemburu dan pergi. Menyisakan panas yang terlalu panas untuk dirasa. Sampai - sampai mars menghabiskan 3 gelas jus mangga sekaligus.

"Ahh.. " Mars mengelap ujung bibirnya dengan tangan. "Seger banget inii," ucapnya.

"Moui mau? " Tawar mmars pada Moui, ikan mas koki kecilnya. "Eh gausah deh, Moui kan udah diair. Pasti seger, " ucapnya lagi.

Rumah begitu sunyi, hanya suara Mars yang sedang berbincang dengan Moui. Mamanya sedang pergi kesupermarket sementara ayahnya sedang bertugas dikalimantan. Ia adalah anak semata wayang, jadi wajar ia selalu mengajak Nuri dan Anggit menginap, agar tidak kesepian.

Mars melangkah menuju kamarnya yang terletak dilantai dua, kakinya baru menginjak tangga ke 10 namun bel rumah berbunyi.

(suara bel rumah)

"Iya sebentar." sontak Mars berlari-lari kecil kedepan. Tangannya menggengam knop pintu .

Ceklek.

Pintu terbuka, nampak Nuri dengan senyum andalannya sambil membawa sekantung kresek putih.

Mars menautkan kedua alisnya,
"Gue mau mainn, ishh" ucapnya dengan nada sebal. Mars tertawa. "Tumben lo kesini."

"Bukannya gue emang selalu kesini," ucap nuri. "Iya-iya bercanda doang, yu masuk."

Beruntung Nuri datang, mengusir penderitaan Mars yang sendirian dirumah.

Mereka berjalan menuju kamar Mars, saling berbagi cerita,curhat,sampai gosipin kakak kelas.

"Gue balik ya Mars, udah jam 4. " ucap Nuri, "Cepet amat ya, perasaan tadi baru jam 1,"ucap Mars disambut anggukan kepala Nuri.

Selepas pulangnya Nuri, Mars kembali masuk kedalam. Mamanya sudah pulang sekitar pukul 3 tadi.

"Ma.. "Panggil Mars dengan pelan. Mamanya menyahut "Apa? "

"Papa kapan pulang? Udah 2 bulan loh" Tanya Mars dengan wajah memelas. "Satu bulan lagi Mars, insyaallah,doain aja papa kamu cepat pulang dengan selamat ya," ucap mamanya sembali menaruh tangan kanan dipundak Mars.

Mars menggangguk dan tersenyum.

"Mars keatas ya,"ucap Mars.

Kedua kaki nya melangkahi anak tangga menuju kamarnya.

Ceklek

Pintu terbuka.

Kamar dengan nuansa biru muda dan tua menyejukkan matanya, tangan mars meraih sebuah lukisan pohon tua dengan bunga berwarna-warni disisi sisi kanan dan Kiri .

Mars tersenyum. Mengingat ayahnya yang dulu melukiskan lukisan didepannya dengan tawa yang renyah Karena Mars terus menangis akibat pohon yang selalu dijadikan tempat Mars bermain didepan rumahnya telah ditebang.

Mars terkekeh kecil.

Tangannya berhenti meraba lukisan dan berjalan kearah kasur, menyelemuti dirinya sendiri lalu berbisik. "Good Night dad." lalu memejamkan kedua matanya dan terlelap.

SpaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang