Like a fairytale, i waited for the prince to come.
--------------------------
Ada dua hal yang tidak Mars suka yaitu, sekolah, kedua bagun pagi. Dan sialnya kedua hal itu saling berhubungan satu sama lain. Seperti pagi ini ,Mars kesiangan untuk yang kedua kali.
"Mamaaaa!!!! " teriaknya histeris saat melihat jam dinding besar dikamar menunjukan pukul 06.40 . Suara gaduh yang ia timbulkan akibat terlalu risih untuk mandi dan mempersiapkan perlengkapan sekolah.
Alhasil mandinya pun tak lama.
"Ma, ayo berangkat! " ucap Mars sembari menarik tangan Mamanya menuju mobil.Untung jarak antara rumah dan sekolahnya tidak melebihi waktu 6 menit. Tepat seperti prediksinya, Mars tiba pukul 09.57 .
'Sial! 3menit lagi! '
"Ma, Mars masuk ya. Dahh. Assalamualaikum," ucapnya dengan tergesa-gesa. Mamanya hanya menggeleng "waalaikumsallam."
Derap langkah yang Mars timbulkan dilorong koridor menciptakan bunyi yang tidak sedap didengar, koridor sudah mulai sepi. Memang belum bel namun pikirannya melayang ke jadwal pelajaran pertama kelasnya, matematika.
"Duh, Bu Betty pasti udah masuk." mars mulai resah.
Ia berlari kecil menaiki tangga, dan.. Sampailah ia didepan kelasnya.
Tok tok.
Mars mengetuk pintu dengan pelan.
"masuk.. "Ceklek
Pintu terbuka, nampak Bu Betty sedang duduk dimeja guru. "Maaf bu, saya kesiangan," ucap Mars.
"Kamu ini perempuan suka bangun siang ya! taruh tas kamu! Lari 2 keliling lapangan lalu kembali kesini lagi! Cepat! " Teriak Bu Betty, sontak Mars tergesa-gesa menaruh tasnya dan berlari keluar.
'Sial banget gue hari ini'
Mars baru dua kali ini telat, tapi hari ini lebih parah dibanding 2 minggu lalu. "hufft.. " Mars mengusap keningnya.
2 keliling lapangan basket sangat lama bagi mars, rasanya seperti 1 kali mengelilingi komplek rumah.
Mars kembali ke kelas dengan wajah kusut. Beruntung Bu Betty mengizinkannya kembali duduk.
"Oke, anak-anak kumpulkan tugas yang kemarin ibu beri, dalam hitungan 3, satu.. "
'Mampus, kertasnya ga kebawa'
Maka bertambahlah kesialan Mars hari ini.
---------------------
Istirahat,
"Udah dua kali lo telat, gak bosen? "ucap Nuri. "Baru juga dua,"celetuk Anggit yang langsung dibalas degulan tangan oleh Nuri.
"Gue kayaknya tidur kemaleman, jadinya pagi kesiangan," ucap Mars sembari menulis tugas Bu Betty yang baru. "Serba salah ya lo."
Tiba-tiba..
"Hai Mars," Agam datang sembari memamerkan gigi-gigi putih nan cemerlang. "Mars aja yang disapa? Kita enggak gitu? " Sindir Anggit.
"Lupa gue ada kalian, ga keliatan sih," Ucap Agam. "Gak keliatan matalo burem, badan segede nuri aja gak keliatan! "Anggit tertawa terbahak-bahak. Nuri sontak mendelik.
"Oh ya btw, kalian bertiga gak kekantin?" Tanya Agam. "Males banget kekantin, penuhhh," Balas Nuri.
"Oh, tadi sih gue mau ngajakin kalian, bareng kekantin gitu tapi ya kalau kaliannya gak mau yaudah," Ucap Agam.
Sontak Nuri langsung membelalakan matanya, "Eh, mars kita kekantin aja yuk. Laper.. " Ucap Nuri dengan wajah memelas. Mars dan Anggit menautkan kedua alisnya "Lah tadi situ gamau, sekarang jadi tiba-tiba gini," Ucap Mars tidak mengerti.
"Nah, Nuri aja mau. Ayok!" Ajak Agam. "Ayolah Mars.. Anggit" Rayu Nuri.
Lalu mereka berdua pun mengangguk "Yaudah deh."
------------------
Suasana kantin sangat ramai, sangat-sanggat ramai. Membuat Mars pusing melihatnya.
"Mau pesen apa?" Tanya Agam.
Anggit berfikir sambil mengetuk-ngetuk telunjuknya didahi. "Ah.. Batagor deh, yang kuah ya gam. Minumnya es teh," Ucap Anggit, "Gue juga, samain kayak Anggit," Pinta Nuri dengan senyum.
Agam menggangguk "Lo Mars?" Mars nampak masih bingung. "Gue siomay aja sama air putih," Ucapnya singkat. "Oke." Agam berjalan menuju jajaran penjual untuk memesan pesanan mereka.
Jari-jari Mars mengetuk-ngetuk meja, merasa bosan karena Anggit dan Nuri sedang berbincang berdua.
'Nyesek gue tadi gak bawa novel'
Makin lama makin bosan, apalagi pesanan mereka juga belum datang. Lalu, tiba-tiba mata Mars menangkap sosok yang sangat ia kenali, Rai.
Berjalan dengan langkah yang dramatis, memantulkan bola basketnya, menebar senyum, membuat Mars ingin Pingsan.
Mars melongo. "Hoii!" Tangan Nuri melambai-lambai tepat didepan wajah Mars. Mars pun terkisap "Eh."
"Kenapa lo?" Tanya Anggit.
Mars menggeleng, "Ah.. Suka bohong deh Mars." Selidik Nuri. "Dih, apa enggak ri, gak ada apa-apa kok," Ucap Mars penuh keraguan.
"Oh, usut punya usut ri, Rai lewat tuh. Pantes jadi salting gini, hahaha."
'sial,ketahuan'
Pipi Mars memerah.
"Ngaku Mars." Nuri mencolek dagunya. Mars tetap diam sambil memasang wajah kesal.
"Walaa.. Ini diaa, pesanan kita semua." Tiba-tiba Agam datang dengan membawa senampan makanan dan minuman. Sontak Nuri dan Anggit bertepuk tangan kecil.
"Ada apaan sih?" Tanya Agam.
"Tanya tuh sama dia"Ucap Nuri sambil menunjuk Mars menggunakan dagunya. Agam menatap Mars, tapi Mars mengangkat kedua bahunya.
Agam pun menggaruk-garuk kepala.
"Udah lo makan aja, gausah garuk garuk udah kayak monyet tau gak," Celetuk Mars yang langsung disambut oleh tatapan tajam Agam.
