Part three

20 3 0
                                    

For what to remember the past when he has transformed into a different one.

----------------------

Before that.

     Lelaki itu berjalan dikoridor kelas 11, dengan tangan yang dimasukkan kedalam kedua saku celana abunya, dengan dua kancing atas yang terlepas, dengan rambut agak berantakan. Darga, mempesona para gadis.

'Ih.. Ka Darga ganteng banget'
'Cool deh'
'Emaknya ngidam apaan ya sampe ganteng begitu'

Terdengar beberapa bisikan para siswi yang masuk kependengarannya, tapi Darga tetap Darga, ia tidak mau peduli.

"Dar!". Ceta, salah satu dari tiga sahabat Darga memanggilnya. Darga memalingkan tubuhnya.

Terlihat Ceta berlari-lari kecil kearah Darga dengan senyum kecil yang ramah. "Kelapang yo!" Ajak Ceta. Sementara Darga diam, berfikir dua kali dalam hal itu. "Ayolah Dar, masa kerjaan lo cuma bolak-balik kelas kantin sih," Ucap Ceta.

Lalu Darga menganggukan kepalanya.  "Hmm."

"Hmm apaan nih maksudnya?  Iya atau enggak? " Tanya Ceta. "Iya."

---------------

  Lapangan basket nampak sepi, hanya ada gerombolan Darga dan ketiga sahabatnya, Ceta, Gege, dan Deno. Mereka sedang anteng-anteng bermain, namun diusik oleh kehadiran Hito dan Kawanannya yang tiba-tiba.

"Heh lo semua!" Teriak Hito.

Sontak keempat laki-laki itu pun berhenti dan berbalik.

"Kita?" Ceta menunjuk dirinya dan ketiga temannya.

"Iya lah bego," Ucap Hito dengan Senyum bengis. "Kalem aja dong bacotnya! " Gege mulai bersuara, namun ditahan oleh Darga.

"Gue gak ada masalah sama kalian bertiga, gue cuma mau dia," Ucap Hito sambil menunjuk Darga dengan telunjuknya.

"Apa masalah lo ama Darga!" Tanya Deno dengan raut kalem. "Lo mau tahu!"

"Tanya tuh sama bos lo! " Ucap Hito disusul tawa dari kedua temannya.
"Asal lo tau ya, bos lo itu udah ngebuat salah satu temen gue BABAK BELUR!"Ucap Hito dengan nada tidak santai.

"Itu bukan salah gue, itu salah temen lo. Jangan nuduh gue yang nggak-nggak" Akhirnya, Darga bicara.

"Alah.. Bacot lo! sini maju kalo lo bukan pecundang kaya bokap lo!"

Mendengar sautan Hito, Darga lepas kendali. Ia maju dan memberi satu pukulan keras pada pipi Hito. Mereka berdua tersulut oleh amarah.

"Cih.. Punya nyali juga lo," Ucap Hito sembari meludahkan darah akibat pukulan Darga.

"Gue kira lo itu pengecut, sama kayak bokap lo"

Darga kembali melangkah maju dan menyambar kerah Hito, "Jangan lo berani sebut-sebut nama keluarga gue,  lo ngerti," Ucapnya dengan penuh penekanan. Mata Darga Memerah, tersulut api amarah.

Tak disangka, lapangan kini penuh oleh murid-murid yang ingin menyaksikan perkelahian mereka berdua, tak ada yang berani melerai, sampai..

"Stop!  Darga!  Hito!  Berhenti! " Teriak seorang gadis berambut coklat ikal. Dia.. Isla. Sontak Hito dan Darga berhenti.

"Lepas," Ucap Hito. Darga pun melepaskan mangsanya.

Hito melihat Isla lalu mengalihkan pandangannya kearah Darga dengan tatap kebencian, berpaling dan pergi bersama kawanannya.

"Udah,  bubar lo semua! " Teriak Isla. Setelah semua murid bubar, kini hanya tersisa mereka berdua ditengah lapangan. Darga mengelap darah diujung bibirnya.
Dengan sigap Isla mengeluarkan sapu tangan, tapi Darga menolak dengan acuh.

"Dar.. " Lirih Isla.

"Kan udah gue bilang, lo jangan pernah ikut campur urusan gue lagi," Ucap Darga dengan nada dingin.

"Tapi Dar"

"Sa."

Isla diam.

"Udah, cukup!  Jangan ganggu gue lagi!" Darga pergi meninggalkan Isla yang menunduk.

Baru beberapa langkah, Darga mendongak kearah balkon kelas 11 , tampak seorang gadis berambut hitam legam memperhatikannya, pandangan mereka bertemu. Hati Darga kembali berdegub.

Tapi Darga tetap Darga, ia hanya tidak mau peduli.

------------------

Pukul 16.15

Hari ini hujan turun kembali setelah beberapa bulan mengambil cuti. Membuat Mars merasa dingin setiap saat. Rumah pun serasa terbuat dari es saja.

"Moui kamu kedinginan gak? " Ucap Mars menunjuk-nunjuk aquarium bulat miliknya. Sementara Moui, seperti biasanya ia tidak menggubris.

Mata Mars beralih kearah balkon, embun-embun yang tercipta dari suhu udara yang dingin akibat hujan itu banyak menempel dipintu balkon yang terbuat dari kaca.

Ia berdiri disana, lalu tanpa disadari jarinya menggoreskan tiga huruf.

R... A.... I

Mars memandang tulisannya, membiarkan pikirannya terbawa oleh angan-angan muda. Berharap semoga tidak ada yang menghancurkannya.

"Mars.. "Mamanya memanggil dari lantai dasar. "Apa ma? " Mars menjawab sembari keluar dari kamar.

Ia mulai melangkah turun melewati anak tangga satu per satu.

Saat tiba dilantai dasar, tampak mamanya sedang mengaduk segelas susu cokelat hangat.

"Mama buatin kamu susu."

Sontak ia langsung tersenyum menghampiri mamanya dan memeluknya dengan erat.

Mother always knows best.

"Gimana sekolahnya?" Rum bertanya.
"Lancar sangat ma haha" balas Mars sembari terkekeh.

"Besok mama ada kegiatan sama om Ramli, kamu gak apa-apa kan ditinggal sendiri?" Tanya Rum. Mars yang sedang meneguk susu cokelatnya tertegun. "Sehari doang kan ma?" Tanya nya.

"Kayaknya sih dua hari", jawaban Rum ditimpal oleh hela nafas pelan Mars. "Yaudah Mars bisa sendiri kok"

Rum tersenyum dan mengecup kening anak semata wayangnya, "Mommy love you more than you love me."

SpaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang