3. happy meal

32 10 0
                                        

  
Kubuang pandanganku darinya, kutemukan Kafeel yang baru memasuki area Ballroom. Dengan sigap aku langsung  menghampirinya, berharap ia mengerti perasaanku saat ini. Tapi tidak, saat ia ternyata menghampiri orang itu. Bukan diriku.

Kafeel menyapa orang itu, ia terlihat sangat akrab setelah melakukan high five. Langkahku terhenti dengan sendirinya saat itu. Aku tak tahu sekarang bagaimana perasaanku, yang jelas aku ingin pulang. Orang itu terlihat bicara padanya, pada Kafeel yang sesekali melirikku dengan wajah bingung. Aku yakin orang itu membicarakanku. Sampai akhirnya Kafeel mendatangiku dengan diam. Tanpa mengapit lenganku seperti awal, tanpa memujiku, tanpa itu semua.

Kami berjalan hingga pada lampu merahpun tak ada yang membuka pembicaraan. Aku gengsi dan mungkin diapun begitu. Hingga pada akhirnya kuberanikan untuk menyapanya. Berharap ia memahami kondisiku saat ini.

"Kaf"
"Del"
"Kamu dulu Kaf"
"Ngga, kamu dulu"

Aku harus apa? bilang agar ia mengerti dan mempercayaiku daripada orang itu? Apa mungkin dia percaya padaku, orang yang baru ia kenal 2 hari yang lalu.

"Kaf. Aku gak tahu kamu bicara apa dengannya tapi yang jelas dia yang sudah buat aku hancur dua tahun yang lalu. Sampai aku benci dengan semua pria, sampai aku benci dengan diriku sendiri. Mulai detik itu aku selalu kasar dengan pria, hanya karena aku gak mau dikasari lagi. Dia pernah menamparku. Mungkin kamu akan berfikir tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Api tersebut dia yang membuatnya Kaf, aku menemuinya sedang bermesraan dengan perempuan lain di taman kota. Dan aku hanya memutuskan hubunganku saat itu juga. Namun dia mengancam ingin membuhunku. Lalu aku berusaha lari darinya, sialnya tanganku terjangkau dan ia menamparku. Kaf maaf jika aku mengganggu acaramu, aku hanya ingin pulang"

Karena emosi, aku ternyata bercerita dengan air mata yang mengalir dipipi. Aku teringat kejadian hari itu yang hampir membuatku gila karena depresi. Aku takut untuk keluar rumah, aku takut untuk beraktivitas apapun. Aku, jadi seorang Della yang penakut.

Kafeel memberhentikan laju mobilnya. menatapku yang masih menangis, lalu memelukku. Kubalas pelukannya dengan erat.

"Kaf. A..ku ta..tak..takut" bisikku.

"Kamu hanya perlu tenang Del, ada aku. Aku percaya padamu, mulai sekarang aku yang akan menjagamu dari ketakutan apapun. Kita drive thru dulu. Perempuan dalam pelukanku membutuhkan happy meal."

***

Hari ini, seorang Andre Restu Ulani pulang ke tempat ia mengadukan keluh kesahnya,ia pulang kerumah. Namun rumah yang sebenarnya adalah Mama. Dia Papaku, hanya seorang karyawan swasta yang mempunyai banyak kesibukan. Wajahnya letih, pakaiannya kusut. Kusambut Papa dengan membawakan kopernya,Varo yang membawakan teh hangat, sedang mama memijat bahu Papa yang katanya sakit sebelah.

"Handphone Mama mana? Hanna tadi telponku, katanya besok ia ingin menginap untuk 3 hari." jelas Papa yang membuatku kaget.

"Handphone Mama di charge. Yasudah, nanti kurapihkan kamarnya."

"Pa, Ma. aku gak mau Tante Hanna disini. Sendiri saja merepotkan apalagi sekarang dengan bayinya." aku membayanginya lalu menggelengkan kepala.

"Gak boleh gitu sayang. Kamu tahu kan Tante Hanna hidup sendiri dan harus menghidupi bayinya, kita harus membantu nak." jawab Papa yang disetujui oleh Mama.

Tante Hanna, adik Mamaku yang telah bercerai saat usia kandungannya memasuki 3 bulan. Aku tak mengerti berawal darimana aku benci dirinya, yang jelas sampai hari inipun aku benci padanya. Sifatnya yang munafik, kelakuan yang menjengkelkan, dan semacamnya.

Pernah waktu itu, aku berdebat dengan Mama karenanya. Dia bilang aku mencuri alat-alat kecantikannya padahal ia hanya mempunyai sabun pencuci muka, bedak, dan lipstick yang bisa dihitung dengan jari. Skincare dia tak pantas dibandingkan denganku. Bukan bermaksud sombong, maksudku apa untungnya dia mengadu domba aku dengan Mama. Banyak cerita menjengkelkan lainnya tapi aku malas menceritakan, dari hal ini saja kalian paham kan?

***

Hari ini aku memulai lembaran baru, menutup lembaran tentang masa menengah pertama lalu menyimpannya dalam kenangan.

Selamat datang,
Masa yang katanya paling indah
Masa yang katanya akan dirindukan
Masa yang katanya suka curi-curi pandang
Masa yang katanya banyak menyimpan rindu pada lawan jenis
Masa yang katanya
Ah,sudahlah cuma katanya.
Aku akan buktikan mulai hari ini, apa itu benar atau hanya sekedar "katanya".

Batinku saat dalam perjalanan diiringi lagu Puisi Pagi yang dinyanyikan oleh MarcoMarche, dan ditemani semilir angin dari jendela metro mini. Karena terlalu asyik dengan memandangi kemacetan dari jendela, ternyata sudah ada orang yang duduk di sebelahku. Aku sadar karena tadi ia mencolek bahuku, aku pikir ia mengajakku kenalan atau orang yang ku kenal. Ternyata ia menunjuk pada tas yang aku pangku didepanku, tasku terbuka. Aku malu, karena kecerobohanku ia melihat pembalut dan celana dalam yang kusimpan tadi pagi, antisipasi jika "ia" berantakan.

"Hehehe, hmm makasih kak"

Aku panggil dia kak karena pada lengannya terdapat garis coklat yang merupakan ciri khas SMA, astaga. Satu lagi kesialanku. Dia kakak tingkatku. SMA Nusa Mandiri. Lalu setelah ia tersenyum setengah lekukan, aku tidak ingin melihatnya lagi. Cerobohnya kamu Della.

Aku sudah memasuki halaman sekolah ini, cukup besar dan hijau. Satu persatu para murid baru ini diarahkan untuk memasuki ruangan kelas masing-masing dibantu oleh beberapa kakak Osis yang sesekali menjahili murid baru ini. Aku masuk pada ruangan yang bertuliskan X-2, sudai ramai dengan bermacam seragam.

Masa Orientasi Sekolah tahun ini hanya sebatas pengenalan sekolah. Semenjak maraknya kasus bullying dari kakak tingkat sampai menimbulkan korban bunuh diri, pemerintah hanya membuat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang susunan acaranya hanya mengenalkan lingkungan, materi-materi, yang maaf menurutku membosankan.

"Adella?" panggilnya.

"Ya?" aku bingung karena aku tidak mengenalnya.

"Heran ya? gue Andra, teman angkatannya Elvan," ada jeda

"Maaf maksud gue Kafeel. Waktu itu dia nitipin lo sama gue, katanya jangan sampai lecet. Jadi kalo ada apa-apa bilang aja sama gue." jelasnya diiringi tawa.

Karena senang dan bingung aku hanya senyum padanya lalu mengacungkan ibu jari sebagai tanda persetujuan. Lagi-lagi ulahmu Kafeel. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu kamu lagi, sampai berjumpa lusa.

Aku berjalan kedepan gerbang sekolah baruku, katanya ojek online pesanan Mama sudah ada didepan. Aku melangkahkan kakiku dengan sesekali bersenandung atau menendang kerikil-kerikil kecil didepan kakiku.

"Neng cakep baek, besok-besok kalo jalan kaga usah iseng ye. Kerikilnye kena kaki gue." kata seseorang didepanku.

"A.. Aduh kak maaf a..aku gak sengaja."
"Tapi niat" batinku saat melihat penampilannya yang sudah pasti langganan ruang BK.

"Chandra" katanya seraya menyodorkan tangannya untuk dijabat

***

rechazadoStories to obsess over. Discover now