Chapter 1: Pertandingan Basket

8K 797 134
                                        

Sorak-sorai penonton membuat Altana Ivory semakin bersemangat untuk memasukkan bola basket ke dalam ring

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sorak-sorai penonton membuat Altana Ivory semakin bersemangat untuk memasukkan bola basket ke dalam ring. Sepatu biru mudanya berdecit, saat seseorang mencegatnya, ia mencoba untuk mengambil alih bola yang dipantulkan di lantai. Saat bola basket kembali Altana dapatkan, dengan segera ia melempar bola ke dalam ring hingga suara dentingan poin berbunyi.

Satu poin untuk Altana.

Gadis berumur tujuh belas itu menyeringai sembari menatap lawan mainnya.

Pertandingan kembali di mulai dengan Altana yang memimpin. Ia men-dribble bola basket itu. Namun sayang, lawan mainnya mengambil alih bola berwarna merah itu dengan cepat. Bulir-bulir keringat yang ada di dahi, ia seka dengan jari-jarinya. Sungguh, demi apapun Altana kelelahan.

Ia membungkukkan punggung seraya memegang perutnya saat merasakan sakit yang tak tertahankan.

Inilah yang Altana benci saat ia ditakdirkan menjadi seorang perempuan, yaitu menstruasi.

Seharusnya ia dilahirkan untuk menjadi seorang lelaki, tapi apa daya takdir berkata lain.

Sembari membungkuk, Altana mengamati teman-temannya yang berusaha mengambil alih bola yang berada di kubu lawan. Oke, bagaimana pun caranya, Altana meyakini dirinya sendiri bahwa ia harus menyelesaikan pertandingan ini dengan skor yang terbaik. Mencoba untuk bangkit dan menghiraukan rasa sakit pada perutnya, Altana langsung berlari hingga tak sadar bahwa kakinya tersandung oleh kaki orang lain hingga terdengar suara debuman. Wajah Altana tepat menyentuh ubin lapangan.

Sakit, rasanya sangat sakit.

Suara peluit dari sang wasit membuat para penonton yang bersorak-sorai langsung terdiam dan mengamati sosok Altana yang meringis kesakitan. Wasit yang berumur sekitar tiga puluh lima membantu Altana untuk berdiri dan melihat hidung Altana yang meneteskan cairan bernoda merah. "Hidung kamu berdarah."

Altana mengusap darah pada hidungnya dengan cepat lalu memohon kepada wasit itu untuk tidak menukarkan posisinya pada pemain lain. "Pak, saya masih mau main. Tolong, jangan suruh saya istirahat."

Wasit itu menggeleng. Ia memberikan sebuah kode pada pelatih dengan menyuruh pemain cadangan menukarkan posisi Altana, membuat mood perempuan tinggi semampai itu memburuk. Suara peluit kembali mengisi pertandingan. Altana yang masih berada di tengah lapangan, kembali mendengus. Wajahnya datar dan terlihat ogah-ogahan untuk meninggalkan lapangan. Namun, pelatih dan wasit menyuruh Altana untuk meninggalkan area di mana saat ini ia sedang berdiri.

"Semangat, Nyet! Semangat!" seru seorang lelaki sambil tersenyum ke arah Altana. Salah satu tangan lelaki itu memegang pundak perempuan cantik yang terkenal dingin di sekolahnya.

Altana mematung, tak menghiraukan panggilan jeleknya itu.

Tangan sahabatnya-Zach sedang merangkul Kara dari kursi penonton.

ILLEGIRLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang