Rumah Altana saat ini dipenuhi dengan balon-balon bertema rose gold. Setelah melewati masa UTS yang hampir membuat kepalanya meledak dikarenakan harus belajar, ditambah dengan memikirkan Alvan, kini Altana masih menyibukkan diri dengan mendekor rumahnya untuk acara ulang tahunnya yang diadakan nanti malam. Tentunya ia tidak sendiri. Ada Zach yang bersedia membantunya.
Orang tua Altana saat ini tidak ada di rumah karena pergi menjenguk nenek kesayangannya yang sedang sakit. Sebenarnya Altana juga ingin ikut. Namun, keadaan tidak memungkinkan karena dirinya juga harus menyiapkan dekorasi untuk acara ulang tahunnya nanti malam.
"Lo udah denger kabar dari Alvan?" tanya Altana dengan mata yang terfokus untuk membuka double tape.
Zach yang sedang memasang lampu lantas menggeleng. "Nggak ada kabar. Chat gue nggak dibales, pernah tiga kali telepon juga nggak diangkat."
Altana menurunkan bahunya lalu menunduk. Hal yang sama juga terjadi pada dirinya. Ia mengirimkan Alvan sebuah undangan sejak hari Senin, tapi sampai saat ini pun belum dibaca olehnya. Entah harus bagaimana Altana menghadapi acaranya malam ini. Ia terlalu pesimis jika Alvan tidak akan datang ke pestanya.
Setelah selesai dengan tugasnya, Zach turun dari tangga lalu duduk di sebelah Altana yang tengah sibuk menggunting double tape. Zach menyingkirkan benda itu dan menggantikannya dengan sebuah kotak kecil. Altana mengangkat alis. "Ini apa?"
Zach menuntunnya untuk membuka kotak tersebut. "Gue mau jadi orang pertama yang ngasih lo hadiah ulang tahun. Selamat ulang tahun, Ta. Maaf kalau gue belum bisa ngabulin permintaan lo."
Altana terbelalak saat melihat sebuah cincin di dalamnya. "Lo ... ngelamar gue?"
Lelaki itu mengangguk singkat. Ia juga menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Like you said, iya. Nembak jadi pacar udah biasa. Maka dari itu, mau nggak jadi tunangan gue?"
Altana terpaku. Otaknya berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan Zach barusan. Tunangan? Zach ingin menjadikannya tunangan? Astaga, yang benar saja. "Zach!"
Lelaki itu tidak menghiraukan seruan Altana dan justru menarik tangan kanannya untuk melingkarkan cincin tersebut di jari manis sahabatnya. Altana menganga dibuatnya. "ZACHHH!"
Semburan tawa dari lelaki itu membuat Altana berhenti berteriak. Menjauh dari Zach kemudian melepas cincin tersebut. Altana merasakan pipinya yang memanas karena malu. Ia mengembalikan cincin tersebut ke tangan Zach lalu menggeleng frustasi. "Nggak, gue nggak bisa! Jangan aneh-aneh!"
Zach memegang perutnya karena sakit akibat tertawa. Ia sampai terjatuh dari sofa karenanya. "Pipi lo merah banget anjrit!"
"Zach nggak lucu!" teriak Altana melotot.
Lelaki itu mengangguk dan kemudian menghela napas. Masih sedikit tertawa, namun mencoba untuk menahannya di depan Altana. "Lo geer banget, siapa juga yang mau ngelamar lo. Gue kan udah bilang mau ngasih hadiah ulang tahun. Kenapa lo bisa kepikiran kalau gue bakal ngelamar lo?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.