Ini cerita tentang Bhin - Bhinneka - dengan keempat saudaranya.
Mereka disatukan dalam satu rumah. 5 remaja hampir seusia, berbeda bahasa, berbeda selera kecuali opor ayam dan sambal goreng ati.
Banyak peristiwa yang mereka alami. Mulai dari yang ba...
Aku menjinjing berbagai barang belanjaan di belakang Rarina yang berjalan cepat menembus kerumunan orang di pasar. Rarina berbelok cepat, aku sampai harus berlari supaya nggak ketinggalan. Peluh membanjir di keningku.
Besok Mbah ulang tahun. Kami sepakat untuk membuat pesta kecil-kecilan. Rarina si tukang masak, memaksaku dan Mas Tunggal untuk nemenin dia belanja ke pasar Beringharjo. Tapi seperti kuduga, Mas Tunggal macet di tengah jalan. Dia memilih untuk makan pecel sayur di depan pasar ketimbang belanja.
Aku mengeluh dalam hati, kenapa harus naik-naik tangga sih? Banyak banget nih bawaannya.
Setelah menawar, menimbang dan mengambil keputusan di antara puluhan barang yang akan dibeli, akhirnya selesai juga. Terus terang, aku nggak berperan apa-apa disini selain menjadi tukang bawa barang. Tapi toh Rarina lihai membujuk untuk mendapat harga murah.
Kami turun dengan lambat menuju gerbang pasar melewati kios yang menjual baju-baju. Nah, kalau soal baju aku nggak ngeluh deh. Sambil berusaha lihat-lihat, aku mengingat tempat yang menjual baju incaranku.
Sementara itu, Mas Tunggal lagi asyik nyeruput es teh manisnya. Kuteguk saliva dan mempercepat langkah. Terdengar pekikan dan teriakan orang-orang di belakang Mas Tunggal.
BUKKKK
Aku mengaduh ketika sesuatu menabrakku dengan keras. Tak ayal, barang-barang yang kupegang nyaris berhamburan. Dengan mata berkunang-kunang, aku mencoba melihat apa yang menabrakku.
Yang kulihat hanya sekelebat warna kuning berlari cepat melewatiku. Rarina membantuku berdiri sambil mengumpulkan belanjaan yang terserak. Lalu menuntunku ke tempat duduk plastik sambil mengoceh panjang lebar tentang seseorang yang menabrakku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
Jadi di sinilah kami satu jam setelah insiden yang cukup menghebohkan di depan pasar beringharjo. Aku memperhatikan ruangan ini dengan seksama, maklum baru pertama kali di ruangan ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Untung kamek nggak beli bahan yang gampang basi. Cuma kasihan itu ayamnya kepanasan kali ya. Untung kau tadi cepat punya akal buat masukin plastik ayam ke plastik es batu. Kalau nggak kan kasihan," kata Rarina sambil menyenderkan punggungnya santai.