Writer's POV
Tomas menghempaskan badannya ke tempat tidur. Penat rasanya setelah seharian kuliah ditambah lagi dia kesulitan beradaptasi dengan lingkungan. Berat sekali menunaikan permintaan terakhir Kakek. Dia benci harus meninggalkan Bapak dan Mamak di Berastagi sana. Terlebih membayangkan bagaimana Mamak, harus menggantikan tugasnya menjaga perkebunan jeruk keluarga mereka. Sekarang sedang musim panen, pasti Mamak sedang sibuk.
Dering telepon, memutus pikiran Tomas. Diliriknya nama yang tertera di layar handphonenya. Tanpa menunggu lama, telepon itu segera diangkat.
"Assalamu'alaikum." Seru suara perempuan di ujung sana.
"Wa'alaikumsalam," jawab Tomas.
"Kenapa kau tidak telepon-telepon? Mamak tunggu telepon kau. Lupa kau dengan Mamak, hah?" omelan di ujung telepon menerbitkan senyum di bibir Tomas. Rindu rasanya dengan omelan itu.
"Aku banyak kegiatan, Mak. Mamak tahulah, aku sulit sekali beradaptasi. Diehet au, gara-gara logat. Aku juga tidak suka makanan manis."
Mamak menghela nafas. Dia paham, Tomas memang orang yang introvert. Selalu butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Dibayangan Mamak, Tomas saat ini sedang berjuang melawan sifat alamiahnya. Meskipun terkesan kasar, Mamak selalu yakin bahwa Tomas adalah anak baik.
"Mamak yakin, kau pasti bisa Tom. Sabarlah, Kau." Suara Mamak melunak mendengan keluhan Tomas.
"Mak," suara Tomas terdengar menggantung.
"Apa?"
"Masihol Au." Suara Tomas pelan terdengar. Semburat merah muncul di pipinya.
Apa-apaan ini, macam anak perempuan cengeng saja aku, batin Tomas menahan malu. Mamak, nun jauh di sana tersenyum kecil.
"Butuh waktu 19 tahun untuk mendengar ucapan Kau itu, bah." Kekeh Mamak mulai terdengar, membuat Tomas bertambah malu.
"Ingatlah, Tomas. Perubahan itu pasti ada, manusia adalah makhluk Allah yang dikaruniai kecerdasan tinggi. Beradaptasi, salah satunya. Kau pasti bisa." Nasihat Mamak merasuk ke dalam pikiran Tomas.
Perbincangan itu masih berlangsung sampai sepuluh menit ke depan. Setelah Mamak menutup telepon, Tomas berbaring menatap langit-langit. Kakinya terpentang sampai ke ujung tempat tidur. Ya, badan yang besar dengan tinggi mencapai 190 sentimeter membuat Tomas selalu kesulitan dengan tempat tidur buatan pabrik yang hampir sama rata panjangnya.
Setelah beristirahat dan mandi sore, Tomas pun keluar kamar. Di luar hanya ada Tunggal yang sedang menonton televisi. Sementara, Mbah sedang menyiram tanaman di luar. Satu-satunya tugas yang dikerjakan Mbah setelah cucu-cucunya tinggal di Sleman.
Tomas duduk dengan seenaknya di samping Tunggal yang menoleh sebal. Bukan rahasia, kalau dua sepupu ini seringkali berseteru. Mereka adalah musuh bebuyutan bahkan sejak kecil. Tidak terhitung berapa kali mereka bertengkar.
Memiliki usia yang sama, postur tubuh yang juga nyaris sama, membuat mereka seringkali bersaing. Pernah, suatu kali ketika lebaran bersama di Sleman mereka bertengkar hebat. Saat itu mereka masih kanak-kanak. Dan dalam kemarahannya, Tunggal mengambil sapu sedang Tomas mengambil pel. Mereka seakan sedang main anggar yang berakhir dengan memar besar di mata Tomas dan benjol sebesar telur bebek di kepala Tunggal. Keduanya dihukum oleh Kakek. Mereka diharuskan bermain melanjutkan lagu. Kebayang kan, bagaimana lucunya hukuman itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bhinneka Tunggal Family (Completed)
Ficção AdolescenteIni cerita tentang Bhin - Bhinneka - dengan keempat saudaranya. Mereka disatukan dalam satu rumah. 5 remaja hampir seusia, berbeda bahasa, berbeda selera kecuali opor ayam dan sambal goreng ati. Banyak peristiwa yang mereka alami. Mulai dari yang ba...
