Ini cerita tentang Bhin - Bhinneka - dengan keempat saudaranya.
Mereka disatukan dalam satu rumah. 5 remaja hampir seusia, berbeda bahasa, berbeda selera kecuali opor ayam dan sambal goreng ati.
Banyak peristiwa yang mereka alami. Mulai dari yang ba...
Suara sedu Bhin yang tertahan di ruangan tunggu ini sungguh menyiksa. Gue mendekati tempat duduknya, lalu mencoba meredakan tangisnya.
"Sudahlah, Bhin. Mereka pasti akan sehat lagi. Lo tenang aja, Bhin," kata gue sambil mengusap bahunya. Bhin menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku merasa bersalah Mas. Mbah pasti sakit karena melihat kita bertengkar, dan Rarina juga terluka karena pertengkaran sepele kita," sedu Bhin.
Gue menyugar sambil menyandarkan punggung ke dinding yang dingin. Asep saat ini sedang menelpon orangtuanya dan Tomas. Sedang Tomas lagi mengurus administrasi rumah sakit. Gue udah nelpon Ayah dan Ibu tadi sebelum masuk ke ruangan ini. Terlihat seorang dokter jaga keluar dari UGD. Gue dan Bhin langsung berdiri, menyambut dokter itu.
"Kalian cucu dari Ibu Sekar Setiowidjojo? Silakan ikut ke ruangan saya," kata dokter muda itu. Kami berdua bergegas mengikuti dokter itu ke ruangannya. Ruangan itu nggak terlalu besar dan terkesan dingin buat gue.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Saya dengan Aditya yang menangani Ibu Sekar. Kalian dengan?" tanyanya pada kami.
"Saya dengan Tunggal dan ini adik saya, Bhinneka, Dok," sahut gue cepat. Dokter Aditya menghela nafas, mendadak gue merasa panas dingin. Dokter Aditya melepaskan kacamatanya kemudian menggosok pangkal hidungnya seolah berpikir. Gue merasa nggak sabaran, ayo dong buruan ngomong. Deg-degan nih.
"Bu Sekar mengalami aritmia. Kondisinya sekarang sudah stabil, tapi kita harus intensif memperhatikan beliau. Saat ini, saya akan minta kepada keluarga untuk menjaga suasana hati Bu Sekar."
"Apa itu Aritmia, Dok?" tanya Bhin dengan raut muka pucat.
"Aritmia adalah suatu gejala di mana detak jantung yang tidak teratur. Ini bukan berarti jantung berdetak Bu Sekar terlalu cepat atau terlalu lambat. Tapi berarti itu ritme detak jantung tidak stabil. Penderita Aritmia bisa merasakan jantung berdetak terlalu cepat atau biasa disebut takikardi atau bisa juga merasakan jantung berdetak terlalu lambat atau biasa disebut Bradikardi. Namun dalam kasus Bu Sekar, beliau asimtomatik atau tidak merasakan gejala apapun." Jelas Dokter Aditya panjang lebar. Terus terang aku cuma paham 20% saja. Maklum otaknya masih pentium.
"Apakah berbahaya, Dok?" tanya gue.
"Untungnya kalian cepat membawa Bu Sekar ke rumah sakit, sehingga kondisinya dapat ditangani segera." Jawab Dokter dengan lugas sembari mengulas senyum. Bhin membisikkan kata syukur di samping gue.
"Kemungkinan besar Bu Sekar mengalami stres atau shock yang besar sehingga terjadi Aritmia. Boleh saya tahu apa yang terjadi sebelumnya?" lanjut Dokter Aditya sambil memandang gue dan Bhin bergantian. Kami berpandangan dengan serba salah.
"Yah, apa pun itu, saya mohon agar jangan diulangi lagi karena hal itu bisa memicu stres bagi Bu Sekar," kata Dokter Aditya setelah kami terdiam cukup lama.