Hati Yang Terluka

618 79 2
                                        

Rarina's pov

Benar deh, sungguh-sungguh aneh keadaan di rumah sekarang. Aku menghela nafas berat. Meong mondar-mandir di kakiku mencari perhatian. Aku mengelus bulu-bulu lembutnya yang berwarna putih, sambil memperhatikan Mbah yang sedang merawat taman mungilnya.

 Aku mengelus bulu-bulu lembutnya yang berwarna putih, sambil memperhatikan Mbah yang sedang merawat taman mungilnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku melayangkan pandang ke arah kamar saudara-saudaraku. Biasanya hari minggu pagi, kami ngumpul-ngumpul di dapur atau ruang duduk sambil ngemil kue serabi. Tapi seminggu ini suasana di rumah ini berubah. Mulutku mengerucut, bosan banget deh kalau sepi begini. Nggak bisa godain Bhin, berantem sama Asep atau adu mulut sama Mas Tunggal dan Bang Tomas.

Udah seminggu perang dingin antara Bang Tomas dan Mas Tunggal. Eh, Bhin sama Asep ikut-ikutan. Entah karena apa, aku juga belum tau. Awalnya Bhin nyuekin Asep. Berulang kali Asep nyoba buat deketin Bhin, dia cuma ditatap ala orang linglung tanpa kata. Aku menggaruk kepalaku yang nggak gatal.

Akhirnya aku menyeret kakiku menuju Mbah. Meong kabur untuk bermain kejar-kejaran sama pantulan cahaya matahari.

"Mbah," kataku setengah merajuk.

"Kenapa Ra?" Mbah mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga beraneka warna.

"Rari bosan, Mbah. Anak-anak kecil itu pada berantem. Biasanya kan pada berantem eh ini malah diem-dieman. Emang sih, Rari sebel kalau mereka berantem. Ternyata lebih nggak enak kalau sepinya karena diem-dieman." Aku manyun sambil memainkan sebuah batu kecil di taman.

"Yah, begitulah Rari. Seorang Ibu misalnya, mereka mengeluh ketika rumah ramai dengan pertengkaran atau ketika rumah nggak pernah rapi. Padahal saat rumah sepi, keadaan lebih menyiksa." Mbah mengelus kepalaku pelan.

Tiba-tiba mataku memanas. Ingatanku kembali ke keadaan rumah setelah kematian Mamak. Rumah sepi sekali. Biasanya aku mengeluh kalau Mamak ngomel-ngomel. Tapi setelah kepergiannya, aku bahkan merindukan omelannya. Apalagi setelah itu Bapak selalu saja sibuk bekerja untuk mengubur rasa sedihnya. Sering aku menangis di sudut rumah, rindu sekali rasanya akan suasana hangat rumah.

"Kamu bisa mencairkan kebekuan ini, Rari. Eh ngomong-ngomong kamu tentang grup band fenomenal dari kota Garut?" Mbah menoleh kepadaku yang balik menatapnya bingung sambil mengangguk. Kenapa tiba-tiba jadi band?

"Di luar pro kontra yang ada, kita harus memahami sisi lainnya juga Ra. Gimana mereka memperjuangkan keinginan mereka dalam bermusik, bagaimana mereka berusaha meningkatkan hidup keluarga mereka bahkan meski dicaci maki, dijauhi dan dimusuhi. Mereka mencoba bertahan dengan semakin kompak satu sama lain." Mbah tersenyum lembut.

"Maka, seperti pepatah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sebagai saudara kalian bukan hanya disatukan oleh darah dan nama keluarga tapi juga hati. Jadilah pengikat hati-hati itu, Rarina." Mata Mbah bercahaya melihatku sampai aku merinding rasanya.

"Y-ya, Mbah. Rarina usahakan." Entah kenapa kerongkonganku rasanya tercekat saat itu.

*

Malamnya, kami makan malam dalam diam. Syukurlah Mbah sedang pergi, diundang makan bersama dengan tetangga sebelah rumah. Aku berhasil memaksa saudara-saudaraku untuk makan malam bersama. Semoga ayam bakar madu yang kumasak spesial untuk mereka bisa melonggarkan lidah dan hati mereka.

Bhinneka Tunggal Family (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang