Salahku?

1.1K 37 6
                                        

Chapter 3

Si Kero, gelas susu bergambar kodok kartun yang sedang bernyanyi, berwarna hijau tua, hadiah dari ibu ketika memenangkan lomba mewarnai saat usiaku delapan tahun. Melayang untuk kemudian pecah menjadi kepingan, meninggalkan noda hitam kecoklatan yang masih berasap di dinding yang berwarna kelabu, tertutup debu. Tak lama, tangan besar itu mendarat di pipi, meninggalkan rasa panas yang berdenyut-denyut. Ingin rasanya melawan balik, meneriakkan cacian dan makian, juga keputusasaan yang selama ini kupendam.

“Dasar gak becus! Bikin kopi aja gak bisa! Kasih gula biar manis, anak TK aja tau!” tangannya bergerak ke arah pinggang, terburu-buru melepaskan ikat pinggangnya.

Kalau ingin minuman manis, minum saja sirup! Jangan minta dibuatkan kopi! Ingin rasanya kuteriakkan kata-kata itu, tapi semuanya tersangkut di tenggorokan, begitu kulihat ikat pinggang itu melayang.

Kututup mata, dan mulai berimajinasi. Membayangkan tempat-tempat di mana aku tidak perlu menahan ini semua. Sebuah pantai di saat senja, dengan angin laut yang membawa aroma kelapa, menjadi tempat favoritku. Ada ibu di sana, tersenyum sambil duduk santai di pasir putih, di tangannya tergenggam sebuah batok kelapa dengan hiasan payung kecil, dan sebuah sedotan berwarna kuning cerah.

Ctaaarrrr!!!

Suara lecutan dan rasa perih tak tertahankan di lenganku, membuat sosok ibu memudar. Kuedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, tapi ibu tak terlihat dimanapun.

Ctaarrrr!!!

Suara lecutan itu lagi, kali ini kutatap kaki kanan, ada segaris memar berwarna merah darah di sana. Kualihkan pandangan, pantai berpasir putih dan anginnya yang berbau kelapa itu, juga mulai pudar. Yang tersisa hanya rasa sakit yang berdenyut-denyut perih di seluruh tubuh.

“Jawab! Jangan cuman bengong kaya orang bego! Dasar anak sialan, diajakin ngomong malah diam, tolol!” teriakan yang menuntut jawaban, dari sebuah pertanyaan yang entah apa, membuyarkan seluruh pantai imajinasiku. Tangannya, dia benamkan ke kepala lalu ditariknya kuat-kuat, memaksaku berdiri dan mengikuti langkahnya ke kamar.

“Masuk! Jangan keluar sampai tahu caranya membuat kopi, anak perempuan tidak berguna!” pintu pun terbanting keras, sampai tembok-tembok kamar ikut bergetar. Tak lama, terdengar suara pintu depan dibuka, kemudian dibanting supaya tertutup lagi. Akhirnya dia pergi juga, pasti ke tempatnya mpok Ati untuk minum-minum, menghabiskan uang jerih payah ibu, seperti biasanya.

Lemas, kusandarkan tubuhku ke tembok kemudian meringkuk di lantai. Hanya dua lecutan kali ini, dia tidak sedang mabuk, jadi tidak separah biasanya. Tidak sampai ada luka yang mengeluarkan darah pula, sepertinya aku beruntung kali ini.

Tapi sampai kapan begini? Sampai kapan dia akan memukuli aku dan ibu? Sampai kami berdua mati? Tidak! Harus ada cara untuk menghentikannya!

Haruskah kuterima tawaran nenek Elis? Tidak … tidak! Itu bodoh!  Kelinci abu-abu yang memiliki tompel, di tempat yang sama dengan anak sok jagoan bertubuh gempal dengan tompel besar di pipi kiri, pastilah hanya sebuah kebetulan. Mungkin nenek Elis sudah memiliki kelinci itu dari dulu? Siapa yang tahu, kelincinya-kan banyak sekali. Tapi kemana anak bertubuh gempal, yang dipanggil Tompel oleh nenek Elis itu pergi? Sejak hari itu, hanya dua anak lainnya yang terlihat berkeliaran tidak jelas.

“Dien, … Andien, kamu tidur sayang? Ibu masuk ya?” suara ibu yang terdengar sangat lelah, membuyarkan lamunanku. Tidakk lama kemudian pintu pun terbuka, dan sebaris sinar lampu dari ruang depan menyelinap masuk.

“Kenapa gelap-gelapan? Sedang apa, kok meringkuk di lantai begitu?” suara lelahnya mulai terdengar panik. Diamatinya tubuh, lengan dan kakiku. Wajah ibu berubah sendu, saat matanya mengamati lebam-lebam yang sekarang berwarna biru.

KELINCICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang