Aisa Febbyola Maulina. Dia teman sebangku ku disekolah, dia humoris dan sederhana walaupun ayahnya seorang pengusaha dia tidak pernah memilih-milih teman dalam bergaul. Seperti dia berteman dengan ku, walupun baru beberapa bulan kami berteman, kami merasa sangat akrab bagaikan sudah berteman selama bertahun-tahun.
Aisa sangat mengerti bagaimana perasaan ku saat itu, dia mencoba menghiburku dengan kekonyolan nya, mengajakku jalan-jalan, bahkan dia menawarkan akan membelikan semua yang aku inginkan jika itu bisa membuat ku bisa kembali ceria seperti sebelumnya. Tapi aku menolak seluruh keinginannya.
Ya. ..Semenjak kepergian Ayah aku menjadi lebih pendiam, lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar, jarang sekali aku keluar rumah kecuali saat sekolah. Aku sempat berputus asa, tapi karena Bunda aku sadar bahwa hanya aku harapan satu-satunya untuk Bunda.
Hari demi hari berlalu kini setahun setelah kepergian Ayah aku mulai terbiasa, aku mulai bisa menjalani hari-hari tanpa Ayah walaupun kadang masih teringat tetang nya. Aku kembali seperti dulu hanya saja satu yang berbeda yaitu tanpa Ayah.
Sudahlah. ..mungkin kini saatnya aku harus memulai hidup mandiri. Agar aku bisa menghilangkan kesedihan setiap pulang sekolah aku tidak langsung pulang tetapi main dirumah Aisa, tentunya aku sudah berpamitan pada bunda.
Seperti biasanya setelah sepulang sekolah aku kerumah Aisa. Saat dirumah Aisa aku duduk diruang tamu dan Aisa sedang kekamarnya untuk menganti pakaian. Walupun keluarga Aisa merupakan keluarga terpandang didesanya, Aisa tidak memiliki pembantu rumah tangga.
Saat aku duduk sambil membaca novel, tiba-tiba ada seorang laki-laki muncul dari balik pintu sambil mengucap salam. Aku terkejut melihat laki-laki itu, dan "Nah itu kan laki-laki yang menjemput Aisa waktu itu" pikirku dalam benak. Ya memang dua pekan yang lalu Aisa dijemput sorang laki-laki dan aku pikir itu pacarnya. Tiba-tiba laki-laki itu memecah lamunan ku "Em mbakk, Aisa nya ada?"ucapnya "Em-m-em itu lagi dikamar"jawab ku dan tiba-tiba Aisa muncul.
"Eh elu Yud ngapain?"sapa Aisa, "Enggak apa-apa mbing! Cuma mau pinjem buku ke elu aja!"jawab laki-laki itu, aku semakin bingung kenapa Aisa dipanggil dengan sebutan "mbing" sama laki-laki itu jangan-jangan itu panggil sayang laki-laki itu pada Aisa. Ahhhk. ..sudah lhk itu bukan urusan ku!. "Ambil aja Yud!"perintah Aisa, "Dimana? Diruang belajar elu mbing?"sahutnya "Ya iya lah masa iya dikandang bebek!"jawab Aisa kesal. Aku hanya tertawa kecil. Laki-laki itu pun berjalan menuju ruang belajar Aisa, lalu setelah 10 menit dia kembali dan berkata "Pinjem dulu ya mbing , minggu depan gue balikin", "Ya terserah elu, mau dibalikkan tahun depan juga gapapa"ledek Aisa, "Ah udah ahk susah ngomong ama elu mbing! Gue balik dulu mbing! Assalamualaikum", "Wa'alaikimussalam" jawab ku dan Aisa hampir bersamaan.😊
Maaf ceritanya agak aneh, tapi insyaallah kedepannya seru kok:v
Jangan lupa kasih sarannya ya:)
@SagitaSeptiawan
KAMU SEDANG MEMBACA
LETIH
Short StoryKehilangan seseorang yang sangat kita cintai bukanlah suatu hal yang terlalu buruk, jangan terlalu larut dalam kesediaan mulai jalani dan rasakan sebuah kebahagian kecil yang amat berkesan
