Part 4

2.1K 122 10
                                    


Teman

Di sekolah tawa riang anak-anak seakan menjadi penghapus segala rasa sakit yang kurasakan tadi dirumah. Inilah kenapa aku memilih pekerjaan menjadi seorang guru tanpa ragu. Aku suka dengan anak-anak dan aku merasa terhibur dengan tawa riang mereka. Jika sedang berada disekolah seperti ini aku merasa perlakuan menyakitkan apapun yang Vino berikan aku merasa dapat menghadapinya dengan kuat. Hingga aku menoleh pada Raina, sungguh sedih hati ini disaat kulihat Rania tidak ikut tertawa bersama teman-temannya dan hanya menunduk memainkan pensilnya dibuku. Entah apa yang menjadi kesedihannya setiap hari seperti itu.

Suara bel yang kencang dan memekakan telinga namun membuat hati para siswa senang terdengar. "Baik, pelajaran kita hari ini sampai disini. Terima kasih semuanya dan sampai berjumpa lagi besok ya." Semua muridku berhamburan keluar kecuali Rania. Dia masih duduk dibangkunya dengan memandang lagi ke arah yang sama. Aku menghampirinya dan dia menyambutku dengan senyumannya, ada perasaan menghangat setiap kali melihat senyumnya itu. "Rania menunggu ayah?," tanyaku dan dia langsung mengangguk. "Boleh Bu Hanna temani?," tanyaku lagi, mencoba mengobrol lebih banyak lagi dengannya.

"Boleh, Bu Hanna kan sudah jadi teman Rania jadi harus menemani Rania." Aku sangat senang dan langsung saja duduk disebelahnya lalu mengelus kepalanya.

"Rania, sering menunggu ayah menjemput seperti ini?."

"Iya, ayah sangat sibuk tapi dia selalu menyempatkan diri untuk menjemput aku. Makanya aku tidak langsung keluar kelas kalau sudah bel karena tau ayah pasti terlambat paling sebentar 20 menit. Jadi katanya aku harus menunggu ayah dikelas saja, jangan diluar." Aku paham sekarang, jadi itu alasan Rania yang tidak langsung keluar kelas saat bel sekolah berbunyi.

"Oh begitu, apa ayah saja yang selalu menjemput Rania?." tanyaku lagi.

"Tidak, kadang supir di rumah yang menjemput Rania kalau ayah sedang ada di luar kota atau luar negeri," jawabnya polos.

"Ibu Rania?." Saat aku bertanya itu ekspresi Rania langsung berubah, aku tidak mengerti kenapa Rania seperti terlihat sedih dan langsung menunduk. Aku merutuki kebodohanku karena pertanyaan itu, apa mungkin penyebab kesedihan Rania adalah ibunya sendiri?. Ah tapi aku tidak bisa mengambil kesimpulan langsung.

"Maaf Rania kalau pertanyaan ibu membuat Rania sedih." Rania langsung mengangkat kepalanya dan menggeleng dengan senyuman yang sangat lebar. Terlihat kalau dia sedang berusaha menutupi sesuatu.

"Bu Hanna, bagaimana kalau ibu sekarang yang berbicara tentang kehidupan ibu?." Rania begitu antusias, akupun mengangguk. Aku tau sekarang sepertinya dia tidak ingin membicarakan ibunya, memang lebih baik mengobrol hal lain jika Rania tidak mau. Aku tidak ingin Rania menjadi tidak ingin berteman denganku.

"Baiklah, Rania ingin tau apa tentang Bu Hanna?." Rania tampak berpikir dengan ekpresi yang lucu dan gumamannya.

"Mmmhh.. Apa Bu Hanna sudah bekeluarga?"

"Sudah," jawabku kemudian menunjukan cincin nikahku. Seketika aku teringat bagaimana Vino melamarku dulu dengan romantis dan penuh cinta.

"Bu Hanna?." Rania membuyarkan lamunan. Aku hanya bisa tersenyum kikuk padanya.

"Apa Bu Hanna sudah mempunyai anak?," kali ini giliran aku yang terdiam dan menunduk. Bagaimana aku menjelaskan pada anak seumur Rania?. Bingung. Seperti mengerti kalau aku kebingungan untuk menjawab, Rania langsung berkata, "tidak apa-apa bu. Jika Bu Hanna tidak mau menjawabnya Rania mengerti kok."

Aku dibuat heran dengan sikap Rania. Dia masih kelas empat SD, tapi seperti sudah dewasa dan mengerti masalah orang dewasa. Apa karena sebenarnya tadi dia juga merasakan seperti aku, jadi dia mengatakan itu?. Aku berucap terima kasih padanya dan memeluknya. Aku dibuat terkesan oleh kedewasaannya. Tidak salah aku memilih teman seperti Rania ini.

RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang