#3 SMA (05/06/2022)
Clarissa Anindya dikenal sebagai gadis cerdas, pendiam, dan keras kepala-terutama soal urusan hati. Ia membangun dinding setinggi langit untuk menjauh dari segala bentuk perasaan, terutama yang datang dari laki-laki.
Tapi Noval A...
Menutup diri itulah tujuanku. Tujuan yang membuat aku mengerti bahwa ditinggalkan tanpa kepastian itu sakit.
Sakit yang membuat hatiku untuk menutupnya. Menutup semua perasaanku padanya dan menguburnya dalam-dalam. . . Jangan lupa vote dan komennya Happy Reading!
🥀🥀🥀
Kringgg... Kringgg...
"Jam berapa sih... perasaan masih malem," gumam Risa dengan suara parau, masih setengah sadar. Tangannya meraba-raba nakas, mencari jam weker yang bersuara nyaring. Begitu berhasil menemukannya, dia mematikannya tanpa membuka mata.
Rasa kantuk masih menggantung di kelopak mata, membuat tubuhnya enggan beranjak. Beberapa saat kemudian, barulah Clarissa Anindya, gadis yang lebih sering dipanggil Risa itu perlahan membuka mata.
Dia terdiam sejenak, lalu mengucek matanya dengan malas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang entah tercecer di antara mimpi dan kenyataan.
Setelah merasa cukup sadar, dia duduk di tepian ranjang dan bangkit perlahan. Dengan langkah gontai, dia menyibakkan gorden jendela. Cahaya matahari menembus masuk, menyapa kamar mungilnya yang rapi dan tenang.
Tumben Mama nggak bangunin aku pagi ini...
Batinnya berkata sembari menuruni tempat tidur dan mengenakan sandal rumah. Baru saja dia hendak berjalan menuju kamar mandi, sesuatu di atas meja belajarnya membuat langkahnya terhenti.
Sepasang mata Risa langsung tertuju pada setangkai bunga mawar merah yang tergeletak begitu saja di atas tas. Tanpa pembungkus, tanpa pita, tanpa pelindung. Hanya sekuntum mawar, lengkap dengan duri-durinya yang dibiarkan begitu saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alis Risa terangkat.
Bunga?
Dari siapa?
Dia melangkah pelan, mengambil mawar itu dengan hati-hati. Rasa heran semakin memuncak saat ia menyadari benda itu tidak datang sendirian. Di bawahnya, sebuah notebook miliknya terbuka, padahal biasanya Risa selalu menutup dan menyimpannya rapi di rak kaca, berjejer bersama catatan penting menjelang ulangan.
Tangannya terulur, menarik notebook itu perlahan. Di salah satu halaman, ada tulisan tangan yang tak asing. Risa membaca perlahan, memastikan tidak satu pun kata terlewat.
Dear Risa,
Gue harap lo masih bisa tetap senyum setelah baca tulisan gue ini :)
Sebelumnya gue mau minta maaf sebesar-besarnya. Mungkin saat lo bangun dan baca surat ini, gue udah nggak bisa di samping lo lagi. Gue cuma bisa pamit lewat surat—karena hari ini, gue udah pergi. Jauh dari lo. Jauh dari kehidupan lama gue. Gue mulai hidup baru... dan itu bukan di Jakarta lagi.
Oh ya, makasih ya? Lo udah jadi motivasi gue buat berubah jadi lebih baik. Makasih juga karena kemarin lo mau ngeluangin waktu buat jalan sama gue sebelum pergi. Gue janji, gue nggak akan pernah lupain lo.
Intinya gue bakal selalu sayang sama lo, Clarissa Anindya.
-F ___________________________________________
Butiran air mata mengalir perlahan, tanpa aba-aba. Risa terdiam. Hatinya tercekat. Ruangan seolah membeku. Bahkan suara kicau burung di luar jendela tak mampu menepis sunyi yang tiba-tiba menyelimuti dirinya.
Kepergian itu... benar-benar tanpa peringatan.
Tanpa pelukan terakhir. Tanpa suara.
Padahal, lelaki itu pernah bilang bahwa mencintai bukan hal yang sulit, kalau dilakukan dengan terbiasa.
Tapi nyatanya, yang dia tinggalkan bukan sekadar bunga atau surat... melainkan luka. Sebuah rasa yang menggantung, menggumpal di dada dan tak tahu harus dikirim ke mana.
"Buat apa disayang, kalau akhirnya dijatuhkan?" bisik Risa lirih. "Buat apa mencintai, kalau ujungnya patah hati?"
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Risa merasa, jatuh cinta adalah kesalahan yang tak ingin dia ulang untuk kedua kali.