Kata orang cinta itu muncul karna terbiasa, tapi kalo kata gue cinta itu muncul karna ada rasa, soalnya kalo gaada rasa gimana bisa jadi cinta hehe.
-Noval Adrian-
.
.
.
.
Happy Reading
Budayakan vote dan comment setelah membaca❣
* * *
Kejadian kemarin masih menempel kuat di benak Risa, seperti duri yang sulit dicabut.
Dia benar-benar tidak mengerti—bagaimana mungkin ayahnya bisa muncul lagi di hadapan dia dan ibunya tanpa sedikit pun terlihat menyesal?
Padahal pria itu menghilang begitu saja enam tahun lalu, meninggalkan mereka setelah menceraikan ibunya, lalu pindah ke Jakarta bersama istri barunya dan kedua anak tirinya.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, dia datang begitu saja, meminta maaf... seolah kata-kata itu cukup untuk menghapus semua luka.
Pikiran Risa berputar cepat, kacau, membuat dadanya sesak. Dia tidak mau membuang waktu memikirkan orang yang sudah memilih pergi. Langkahnya segera dia percepat agar segera sampai di kelas.
"RISA!!!"
"WOEEEEE!!"
"JANGAN CEPET-CEPET JALANNYA!!"
"UHUK—UHUK!"
"ADUH, BENGEK GUE KAMBUH!!"
Teriakan itu memecah lamunannya. Risa menghentikan langkah, menoleh ke belakang, dan mendapati sosok yang sudah dia kenal sangat baik.
Fay.
Dengan napas ngos-ngosan, gadis itu berlari terhuyung, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah karena memaksakan diri mengejar. Begitu berhasil mensejajarkan langkah, Fay langsung membungkuk, kedua tangannya bertumpu di lutut, berusaha mengatur napas.
"Ngapain lo ngejar gue?" ucap Risa datar, empat kata yang terasa seperti tamparan kecil bagi Fay.
Fay mendongak, wajahnya masih merah.
"Lo bikin gue bengek, ogeb!"
"Aduh... turun lima kilo kayaknya gue," lanjutnya dramatis. "Nambah kurus aja badan gue... astagfirullah."
Risa hanya menggeleng pelan, tatapannya setengah heran, setengah malas menanggapi.
"Salah sendiri," balasnya singkat.
Fay mendecak. "Lo budeg apa gimana, Ris? Gue ngejar lo kan mau ke kelas bareng! Eh lo malah jalan terus kayak dikejar setan!" ocehnya panjang lebar.
"Ya udah," sahut Risa tanpa emosi.
Fay menatapnya seperti baru saja mendengar sesuatu yang luar biasa menyebalkan.
"Subhanallah..." desahnya.
"Temen apa bukan ini?" lanjutnya sambil menatap ke langit, seolah minta pencerahan.
"Sembuhkanlah hati teman hamba, ya Tuhan..." Fay menengadah dramatis.
Risa memutar bola mata. Tanpa menunggu Fay selesai dengan sandiwaranya, dia kembali melangkah.
"Risa! Masa gue ditinggalin lagi?!" seru Fay dari belakang.
"Risa!!"
"Tungguin woi!!"
Langkah Risa tetap mantap. Di belakangnya, suara Fay terdengar makin kencang, tapi dia memilih untuk tidak menoleh—kadang, lebih mudah berjalan tanpa menanggapi apa-apa, terutama setelah pagi yang sudah membuat kepalanya cukup berat.
* * *
Seperti biasa, tiga bocah tampan tapi kelakuannya sengklek—Noval, Dion, dan Azil—sudah nongkrong duluan di kantin Mpok Ipeh sebelum jam pelajaran dimulai. Ini rutinitas mereka: duduk di bangku panjang dekat etalase gorengan, memesan teh manis hangat, dan sarapan gehu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLOSED HEART (COMPLETED)
Novela Juvenil#3 SMA (05/06/2022) Clarissa Anindya dikenal sebagai gadis cerdas, pendiam, dan keras kepala-terutama soal urusan hati. Ia membangun dinding setinggi langit untuk menjauh dari segala bentuk perasaan, terutama yang datang dari laki-laki. Tapi Noval A...
