05| Tidak Suka Dikasihani

1.1K 141 95
                                        

Jangan datang hanya karna untuk singgah, ini hati bukan tempat bermain.
-Clarissa Anindya-
.
.
.
.

Happy Reading
Budayakan vote dan comment setelah membaca

* * *

Usai jam istirahat berakhir, Risa mengangkat tangan sedikit sambil menghentikan langkahnya di koridor yang mulai sepi.

"Gue toilet dulu," ucapnya pelan pada ketiga temannya. "Kalian duluan aja."

Dara, yang berjalan di sebelahnya, mengangguk sambil tersenyum tipis. "Oh, oke."

"Mau ditemenin nggak, Ris?" tawar Agita, nada suaranya penuh perhatian.

"Nah iya, takut si kutu beras ngintilin lo ke toilet, kan gawat," celetuk Fay sambil mengangkat kedua alisnya, membuat wajahnya terlihat sengaja konyol.

Risa hanya menghela napas. "Nggak usah," jawabnya singkat, lalu segera melangkah menjauh, meninggalkan mereka bertiga yang masih berdiri di koridor.

Begitu tiba di depan pintu toilet, Risa merasa sedikit lega. Tidak ada suara ribut atau derap langkah banyak orang di dalamnya.

"Syukurlah... nggak seramai kemarin," batinnya. Dia mendorong pintu perlahan dan masuk.

Udara di dalam toilet sedikit pengap, aroma sabun cuci tangan samar tercium. Risa berjalan ke arah wastafel, berniat membasuh wajahnya yang terasa gerah. Namun, baru saja tangannya akan memutar keran, suara tawa kecil yang asing menghentikan gerakannya.

Dari cermin, dia melihat pantulan tiga sosok gadis berdiri tak jauh darinya. Mereka bukan sembarang siswi—Risa langsung mengenali mereka. The Queen.

Deva Alvareta berdiri di tengah, bersandar santai pada wastafel lain sambil memainkan rambut panjangnya. Kedua temannya, Zhavira Laurel dan Regia Putri, berdiri sedikit di belakang, masing-masing dengan ekspresi sinis khas mereka.

"Risa si gadis..." Deva memiringkan kepala, pura-pura berpikir keras. "Eh... gue panggil dia apa ya, gengs?"

"Bisu? Nggak bisa ngomong? Atau... apa ya?" sahut Vira sambil terkekeh.

Komentar itu memancing jawaban dari mulut Risa. "Sama aja, bego!"

Deva melangkah maju, tumit sepatunya beradu dengan lantai keramik. "Ternyata bisa ngomong, gengs. Gue kira bisu," katanya, menatap Risa dari atas ke bawah.

Risa melirik sekilas ke arah pintu. Toilet benar-benar sepi—tidak ada yang berani masuk kalau The Queen sudah menguasai tempat ini. Ia memutuskan untuk membatalkan niatnya ke toilet. Lebih baik keluar sekarang juga.

Namun, saat dia baru memutar badan, Deva memberi isyarat cepat dengan dagunya. Seketika, Vira dan Gia bergerak, masing-masing mencengkeram lengan Risa dari kanan dan kiri. Tarikan mereka kuat, membuat Risa tak bisa melangkah.

"Risa, Risa..." Deva mendengus sambil melangkah mendekat. "Lo ini nggak ada kapok-kapoknya ya berurusan sama gue."

Risa mengernyit. "Maksud lo?" tanyanya, suaranya datar.

Tanpa aba-aba, Deva meraih dagu Risa dan mencengkeramnya keras. Jari-jari tajamnya menekan kulit wajah Risa, memaksa gadis itu menatap matanya langsung.

"Lo tau nggak kesalahan lo apa?!" suaranya meninggi, nyaris menjadi bentakan.

Risa hanya diam. Ia benar-benar tak tahu apa yang dimaksud Deva.

"Bener-bener bisu ya lo?!" geram Vira, matanya menyipit.

"Jawab dong?!" tambah Gia, mencengkeram lengan Risa lebih kuat.

CLOSED HEART (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang