Part - 27

54.7K 8.4K 538
                                        




Aiden marah besar, dia tidak pernah merasa dikhianati lebih dari ini. Bagaimana bisa Hera lari begitu saja! Seharusnya perempuan itu mengerti kalau saat ini mereka sedang dalam situasi genting. Kenapa perempuan itu selalu mencari masalah?

Aiden menghantamkan tinjunya ke tembok, entah sudah berapa kali dia melakukan itu. Dia marah, kecewa dan ingin sekali membenci Hera dan membiarkan saja perempuan itu yang sekarang entah ada di mana. Namun hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau dia mengkhawatirkan Hera. Dia tidak mungkin mengabaikan Hera begitu saja! Itulah alasan kenapa dia tidak ingin berurusan dengan perempuan apalagi sampai melibatkan perasaan.

Perempuan membuatmu lemah, batinnya.

Aiden mengusap wajahnya kasar. Lalu membuka lemari mencari jaket anti peluru miliknya, Aiden mengenakan itu dan melapisinya dengan jaket kulit berwarna hitam, pistol, pisau dan senjata lainnya sudah terselip di kantong-kantog celananya.

Aiden memutuskan memecah tim mereka, beberapa rekannya yang lain sudah pergi untuk membuntuti anak buah Liam, malam ini mereka harus berhasil untuk menyergap Liam, rencana mereka itu tidak bisa dibatalkan begitu saja, apalagi semua ini sudah dipersiapkan secara matang. Seharusnya Aiden juga ikut dalam rombongan tetapi karena istrinya yang cantik tapi bodoh itu melarikan diri, dia sebagai suami yang baik harus menyelamatkan.

Aiden tersenyum masam. Dia keluar dari kamarnya, menuruni tangga. Rekan-rekannya yang lain juga sudah bersiap. "Aku hanya akan membawa beberapa orang." Aiden menunjuk rekan kerjanya untuk membantunya mencari Hera.

"Kau hanya pergi berlima saja?" tanya salah satu dari mereka.

Aiden mengangguk. "Ayo kita pergi."

"Aiden, kita memasuki jantung pertahanan musuh, kita bisa saja terbunuh!" keluh salah satu dari mereka.

Aiden berbalik dan memandang pria berkulit hitam yang baru saja berbicara itu. "Apa kau mau menunggu di sini saja?" tanya Aiden tajam.

Pria itu terdiam, menutup mulutnya rapat-rapat dan mengikuti Aiden keluar dari markas mereka.

Aiden mengambil posisi pengemudi. Dia mengemudi dengan kecepatan luar biasa, mereka menyusuri jalan menuju kota. Lokasi Hera tidak bisa dicarinya, tetapi dia punya feeling yang kuat kalau Hera berada di salah satu rumah sahabatnya. Ya, siapa lagi yang perempuan bodoh itu punya? Beberapa kali Aiden memukul stir, dan meliuk-liukkan mobilnya memotong mobil lain. Orang-orang yang ada di dalam mobil itu memilih diam, baru kali ini mereka melihat Aiden hilang kendali, padahal selama ini pria itu terkenal sebagai yang paling tenang dan tidak mudah panik.

Aiden berusaha menepis bayang-bayang mengerikan di dalam otaknya. Kalau Pedro menemukan Hera, pastinya Aiden sudah mengetahui itu. Tetapi sampai sekarang belum ada laporan apapun. Aiden hanya berharap semoga istri bodohnya itu masih bisa diselamatkan.

******

Hera membuka matanya perlahan, kepalanya pusing sekali. Dia menatap langit-langit berwarna abu-abu gelap, merasa asing dengan tempat itu. Hera menoleh ke kanan dan ke kiri, tentu saja ini ruangan yang asing, karena baru kali ini Hera masuk ke tempat ini.

Dia tertidur di ranjang besar yang ditutupi sprei berwarna gelap, di sampingnya ada sofa-sofa besar yang terlihat mewah, di samping kirinya ada dua jendela besar yang ditutupi oleh gorden berwarna gelap. Kamar ini terlihat mewah namun dengan sentuhan gelapnya malah terlihat menakutkan.

Hera mengingat hal terakhir sebelum dia tidak sadarkan diri. Dia sedang adu mulut dengen Pedro dan melemparkan guci ke arah pria itu namun tidak mengenainya, kemudian pria itu menyuntikkan sesuatu di bahunya. Hera memegangi bahu kanannya, rasa suntikan itu masih terasa. Kepalanya juga pusing karena obat bius itu.

The Bodyguard (DIHAPUS UNTUK PROSES PENERBITAN)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang