Harum mawar membunuh bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
- Payung Teduh, Rahasia
Langit itu gelap membawa udara pengap. Kak Danuja berdiri diam tampak tidak tersentuh. Mobilku ada di depan mata sementara beberapa orang mulai memutuskan siapa harus nebeng dengan siapa setelah acara melayat kami selesai. Sama sekali tidak kuduga, ternyata Kak Danuja termasuk salah seorang yang tidak membawa kendaraan pribadi. Kudengar tadi Andre bilang bahwa Kak Danuja selalu naik kendaraan umum. Ada tiga orang yang membawa kendaraan pribadi ke sini yaitu aku, Andre, dan Kak Bima yang seangkatan dengan Kak Danuja.
"Gue balik naik kereta aja." Kak Danuja menolak dimasukkan dalam daftar sepuluh orang yang harus didistribusikan transportasinya.
Kak Bima berdecak. "Jangan gitu, Dan. Lo udah ke sini sendirian masa pulang sendirian juga. Lo sama Mira aja, sekalian jagain dia. Kalau ada yang gondrong-gondrong gini di mobilnya, kayaknya orang nggak bakal berani ngapa-ngapain."
"Gak perlu ada dia juga gue nggak bakal diapa-apain, Kak." Aku menyerukan protes.
Andre memandangiku. "Benar juga sih, Mir. Udah jam sebelas loh ini. Lama juga tadi kita ngelayatnya. Mendingan lo sama Kak Danuja dan Kak Gio, kan rumah mereka dekatan. Malah bagus ada yang jagain."
"Gue udah janji mau nongkrong sama Bima, Ndre. Makanya nggak bisa pulang bareng Danu naik kereta. Ya, tapi gue setuju bagian Danuja semobil aja sama Mira buat jagain. Rumah lo daerah mana, Mir?" tanya Kak Gio.
"Kebayoran, Kak." Kubalas pertanyaan itu dengan malas.
"Nah, cakep tuh! Rumah Danu sejalur kok ke arah Kebayoran. Biar nanti dia aja yang nyetir."
"Duh, Kak. Gue mending mutar ke timur deh baru balik ke rumah daripada semobil sama Kak Danuja. Lagian kenapa kalian pada ngotot banget? Kak Danuja aja nggak mau."
"Ayo jalan keburu malam," Kak Danuja memutus argumentasiku dengan seenakjidatnya berjalan menuju mobil. "Lo yang nyetir. Gue malas. Unlock mobilnya."
"Kalian ini ribut dari kapan itu belum kelar juga? Mir, lo tuh kenapa deh? Kayaknya Danuja nggak pernah segalak ini sama orang." Kak Bima tampak menahan tawanya menonton kondisi hubunganku dengan Kak Danuja yang tidak baik sama sekali.
Berhubung sudah malam dan aku masih sedikit sedih dengan suasana duka yang baru kulihat, aku tidak menghiraukan ledekan Kak Bima yang badannya lebih kurus lagi dari badanku yang sudah kering kerontang ini. Tidak pakai babibu, aku membuka pintu mobil dan masuk ke bangku kemudi. Kak Danuja masuk ke sisi penumpang di sampingku dan membuka jendela. "Duluan, ya!" ujarnya pada yang lain begitu mobil bergerak.
Kupikir tadinya kami akan diam seribu bahasa sepanjang perjalanan. Ternyata, dia memilih berbicara. "Orang galak bermulut lemes kayak lo paling takut sama apa?" tanyanya dengan nada yang sangat aneh. Suaranya seperti bertanya namun banyak makna terbersit di dalamnya. Walau berbicara denganku, wajahnya tetap terfokus ke depan jalan.
"Gue takut sama takdir. Sama hal-hal yang nggak bisa gue kendalikan," aku menjawab jujur lalu balik bertanya, "kenapa lo bertanya gitu?"
"Lo nggak takut mati?"
"Kenapa harus takut mati?" aku sangat bingung. Jujur daripada takut mati, aku lebih takut pada lintasan cahaya di atas kepala kami. Apa jadinya kalau kami memang berjodoh tapi tidak ada perasaan apa pun di antara kami? Bahkan semobil dengannya pun tidak membuatku merasa meleleh atau mendamba hal-hal yang lebih.
KAMU SEDANG MEMBACA
[SUDAH TERBIT] Teka-Teki Jatuh Cinta #3 (serial CI/BI)
Teen FictionCerita ini dibuat untuk mengikuti gerakan @teenlitindonesia di platform wattpad. --- El Mira mungkin terlihat seperti remaja cewek pada umumnya. Dia suka berat sama Zayn Malik, hobi mix and match baju, sampai tampil kece setiap kuliah. Walau begitu...
![[SUDAH TERBIT] Teka-Teki Jatuh Cinta #3 (serial CI/BI)](https://img.wattpad.com/cover/138126527-64-k347505.jpg)