Chapter 1 - Pulang

166 2 2
                                    

Malam itu merupakan malam yang hangat. Aku tidak berbicara mengenai suhu, melainkan suasananya. Kalau bicara suhu, suhunya sih dingin. Emir sangat senang menyetel AC di kamarnya sampai sangat dingin, kadang sampai bisa membuat aku menggigil dan bahkan sengaja pakai jaket dan kaus kaki di kamarnya. Dan herannya, dia tahan-tahan saja di kamar yang dingin seperti itu hanya mengenakan kaos dan celana pendek.

Tidak, tidak. Aku bukannya ingin bicara suhu, melainkan suasananya. Suasana yang aku sudah sangat familiar, karena sudah sering sekali aku rasakan hampir tiap minggunya, sejak sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu! Wow, sudah selama itu ya! Suasana menghabiskan malam minggu di rumah Emir, dari siang datang ke rumahnya untuk main game dan menonton film, anime, atau apapun itu, sambil mengobrolkan tentang berbagai hal, mulai dari hal-hal sepele sampai ke masalah kehidupan masing-masing, lalu pergi keluar di malam hari selepas maghrib untuk cari makan, lalu kembali lagi ke rumah Emir untuk lanjut main game atau mengobrol sampai tengah malam, sudah rutin kita lakukan hampir setiap akhir minggu dari zaman SMA dulu.

Malam itu tinggal kami berdua, aku dan Emir. Sebetulnya tadi ada Hendra, tapi Hendra sudah pulang duluan dengan mobilnya sekitar jam 8 lewat tadi setelah makan malam. Semenjak punya anak, Hendra jadi tidak pernah pulang malam-malam lagi, katanya tidak ingin anaknya tidur tanpa dia temani. Hendra yang dulu anak badung, sekarang benar-benar sudah menjadi seorang ayah. Hebat juga.

Lalu tadi juga ada Jono, tapi dia sudah pulang sekitar jam 10 naik ojek online. Dia juga tidak bisa pulang terlalu larut, karena meskipun besok adalah hari Minggu, tapi dia harus masuk kerja, karena dia bekerja di kantor berita online dan sepertinya besok dia mendapat shift untuk masuk.

Akupun sama dengan Jono. Bukan, bukan sama dalam hal harus masuk kerja di hari Minggu, tapi sama dalam artian akan pulang dengan naik ojek online. Sebuah teknologi yang sangat memudahkan masyarakat metropolitan yang fasilitas transportasi umumnya tidak sehebat di negara-negara maju, menurutku. Kalau dulu aku seringnya pulang dengan mengendarai sepeda motorku sendiri, sekarang ini aku jauh lebih sering pulan dengan naik ojek online, lebih tenang rasanya karena tidak perlu khawatir mengantuk di jalan ketika pulang larut malam, karena sudah ada yang menyupiri.

Malam itu aku masih bermain game sepakbola dengan Emir. Kami bermain tanpa terlalu fokus dengan gamenya itu sendiri, karena Emir sedang lebih seru menceritakan problematikanya di tempat kerjanya ketimbang serius dalam memenangkan permainan. Akupun sama, aku bermain game hanya dalam setengah sadar, karena kesadaranku lebih banyak untuk mendengar curhatan Emir tentang tempat kerjanya yang penuh dengan sikut-sikutan katanya, dan aku sesekali menimpali dan memberikan komentar ataupun nasihat terhadap curhatan Emir. Ketika pertandingan sepakbola di game sudah selesai, dengan skor 1-0 untuk kemenanganku yang tidak dibanggakan karena sama-sama tidak ada yang main dengan serius, aku melihat jam. Sudah pukul setengah 12 malam lebih. Aku sudah harus pulang.

"Mir, gua pulang ya, udah malam nih", ucapku kepada Emir.

"Oke Ton. Lo udah mesen ojeknya?", tanya Emir kepadaku.

"Belum nih, ini baru mau mesen"

Akupun membuka aplikasi ojek online di HPku, dan langsung membuat pesanan untuk perjalanan dari rumah Emir ke rumahku. Tidak sampai satu menit menunggu, sudah ada ojek yang mengambil pesananku. Di aplikasi dikatakan bahwa ojeknya akan sampai kurang lebih lima menit lagi.

"Wih, udah dapet. Lagi hoki nih cepet dapetnya, udah gitu deket lagi, kayaknya bentar lagi nyampe", kataku kepada Emir.

"Sip, Bro. Eh tapi gua nggak nganter ke bawah ya, lo bawa aja kunci cadangan gua itu di laci meja gua itu buat buka gembok gerbangnya, nanti lo balikin lagi aja kalo main ke sini lagi". kata Emir.

Kamar Emir di lantai dua, dan memang sudah biasa kalau dia sudah mengantuk dia tidak mengantarku pulang ke bawah.

Setelah menemukan kunci cadangan Emir, aku pun mengecek lagi aplikasi ojek online ku. Di aplikasi dikatakan bahwa ojekku sudah sampai.

"Mir, gua balik dulu ya, ojek gua udah sampe nih", pamitku kepada Emir.

"Yo, Bro. Hati-hati di jalan", sahut Emir yang sudah merebahkan diri di kasurnya dengan mata yang sudah temaram.

Aku pun meninggalkan kamar Emir, turun ke lantai bawah yang sudah gelap karena orang-orang rumah Emir sepertinya sudah tertidur di kamarnya masing-masing. Aku keluar dari pintu depan menggunakan kunci cadangan Emir untuk membukanya. Keluar dari pintu depan, aku merasakan secara langsung hawa malam hari ini. Tenang dan sejuk. Dari halaman rumah Emir, lewat celah-celah pagar aku melihat, ojek yang menjemputku sudah datang.

Aku keluar dari pintu gerbang dan menyapa driver ojek itu.

"Malam, Pak", sapaku.

"Malam, Mas. Dengan Mas Anton ya?", tanya driver ojek itu kepadaku sambil tersenyum nyengir.

"Iya betul Pak", jawabku.

Aku mengeluarkan HPku dari kantong celana dan mengecek aplikasi ojek online ku.

"Bapak Wahyu Prasetio ya?", tanyaku sambil membandingkan wajahnya dengan yang foto tertera di aplikasi.

"Iya betul, Mas Anton. Saya Wahyu Prasetio", jawabnya.

Wajahnya memang sama dengan foto yang ada di aplikasi. Aku pun melanjutkan dengan pengecekan kedua, yaitu plat nomor. Plat nomornya pun aku lihat sama dengan yang tercantum di aplikasi. Aku memang orangnya tergolong waspada dan seksama, jadi pemeriksaan seperti ini merupakan hal yang wajib aku lakukan setiap mengendarai ojek online.

"Wah Masnya ini orangnya teliti ya, semuanya diperiksa dulu. Bagus, Mas. Memang harus begitu jadi orang, Mas!", ucap driver ojek itu yang sepertinya menyadari kalau aku dari tadi sedang memeriksa dia.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, lalu mengenakan helm yang dia berikan, dan menaiki sepeda motornya.

"Tahu jalannya, Pak?", tanyaku kepadanya.

"Tahu dong, Mas. Sudah, sudah bisa jalan kita?", tanya driver ojek tersebut.

"Sip. Ayo, Pak", jawabku.

Pak Wahyu sang driver itu pun mengegas motornya dengan halus, dan kami berdua pun menembus malam hari yang sejuk dan tenang ini untuk memulai perjalanan.

GadungWhere stories live. Discover now