Malam itu,aku harus menunggu sampai pagi tiba. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bagaimana Elizabeth meraung raungkan Nama Pierre,dan aku turut berduka atas semua itu.
Ketika pagi menjelang,Kedua Elizabeth ini masih tetap terdiam,Elizabeth yang asli bersender dipundakku sambil terus terus menyebut nama Pierre dengan Suara parau dan pelan.
Sedangkan Elizabeth yang lain,ia masih memangku Kepala Mayat Pierre yang sudah dingin.
Memang tentara tentara itu tetap mengirim makanan untuk Elizabeth,dan Menjaga Elizabeth dari jauh agar tidak kabur. Namun,aku tau seberapa kemauan Elizabeth untuk kabur,percuma saja karena ia adalah wanita yang setia kepada Pierre,sampai kapanpun ia akan menunggu pierre. Namun,ada satu pertanyaan yang membuatku bingung,mengapa para tentara tentara kejam itu tetap memberi makan Elizabeth?
"El,maafkan aku sebelumnya... Tapi... Mengapa mereka tetap memberimu makan?" Tanyaku hati hati.
"Sesuai dengan perkataan mereka,mereka tidak akan menyakiti saya secara fisik,namun secara Psikologi. Mereka melakukan itu agar tidak dituduh membunuh saya,namun pada akhirnya mereka juga membunuh saya,tapi saya pikir ini semua sudah benar,saya Tetap menununggu Pierre sesuai dengan Janjinya disurat itu" Jelas Elizabeth sambil tetap melihat kearah jasad Pierre.
Lalu Elizabeth menyobek daun itu,kini daun itu hanya tinggal sedikit lagi. Lalu kami berpindah,kira kira saat sore,namun aku tidak tau tanggal berapa ini,karena menurutku Jasad Pierre mulai dingin.
Seorang lelaki Mengantar makanan untuk Elizabeth,namun ia menolaknya. Sampai akhirnya,sang ketua PKI sendiri lah yang menemuinya.
"Kamu mau apa?" Tanya Lelaki itu lembut.
Elizabeth menoleh kepada lelaki itu.
"Boleh saya minta.... Air hangat? Dan Handuk?" Tanya Elizabeth dengan Mata sembab.
Lelaki itu ragu untuk sesaat,ia menatap Elizabeth lembut dan mengangguk lalu pergi.
Elizabeth kembali menangis,namun Ia menangis sangat pelan.... Pelaaan Sekali.
Tak lama kemudian,datang seorang wanita yang kemarin melepaskan Tali Elizabeth dengan muka masam sambil meletakkan Bak air dan Handuk putih itu kasar.
Elizabeth menoleh kepada Wanita itu yang jelas umurnya Lebih muda daripada Elizabeth.
Sambil berusaha tersenyum,ia menghapus air matanya.
"Terimakasih" Nyarisnya pelan,hampir tidak bersuara.
Wanita itu terdiam sejenak,lalu pergi seenaknya.
Dengan Pelan,Elizabeth mengusap darah yang ada di Bibir Pierre dan dahi pierre,sambil mengajak ngomong Pierre seolah olah Pierre masih hidup.
"Pierre.... Saya memang belum buka surat dari kamu.... Saya tidak berani pierre.... Saya enggak mau.... Kamu ingat ketika-Hiks- ketika kita berada di Pantai? Saat itu kamu gelisah karena takut keluarga kamu tidak memperbolehkan kamu untuk.... Untuk menjadi tentara? Saya ada disini untuk kamu,dan kamu disisini untuk saya.... Jadi bangunlah Pierre... Saya tau orang orang Bilang kamu sudah meninggal... Tapi mereka bohong kan?..... Saya tau kamu cuma tidur Pierre... Hiks.... Ayo bangun.... Lalu kita keluar dari sini secepatnya.... Ya?" Ucap Elizabeth sambil memaksakan untuk tersenyum.
"Saya sendiri yang nanti akan mengobati kamu... Jadi ayo bangun..." Kata Elizabeth,ia benar benar seperti orang gila sekarang.
"Saya memang tidak bisa melakukan apa apa... Tapi saya yakin,setelah kita keluar dari sini,Saya akan melakukan segalanya untuk kamu" Lanjut Elizabeth.
"Pierre... Kamu tau tidak? Banyak orang yang menginginkan kamu bangun, Ade dan Yanti pasti sudah menunggu kepulangan kita. Begitu juga dengan Nyonya Cornet,kemarin beliau ulang tahun,kamu tidak mau mengunjunginya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Past (Short Story)
FanfictionNamaku Niall Horan,umurku 22 tahun, dan aku tinggal di Indonesia. Semuanya baik baik saja, sampai aku bertemu dengan gadis aneh. Gadis itu memakai baju yang lusuh, ia berpakaian Kebaya, bisa kau bayangkan? KEBAYA!! Maksudku, mana ada wanita cantik s...
