Seberapa sering kau mendorongku untuk pergi,
Aku akan tetap bertahan di tempatku berpijak,
sampai pada titik di mana kau membutuhkanku.
***
"Adiknya meninggal 2 tahun lalu."
Beberapa saat keheningan tercipta, suara danton Tae Hyung terdengar seolah menjawab isi pikiran Sin Bi. Lantas Sin Bi menoleh dan tak jauh dari tempatnya berdiri, ada Tae Hyung di sana. Duduk di kursi depan kaca rias. Tangan lelaki itu memegang ponsel yang tertempel di salah satu daun telinganya.
Tae Hyung tak mengindahkan Sin Bi yang kini melayangkan tatapan penasaran terhadapnya. Meskipun bulu kuduknya meremang lantaran merasa diperhatikan, Tae Hyung terus berbicara dengan seseorang di seberang telepon. "Ini sudah 2 tahun lamanya dan Jung Kook masih bersikeras ingin mengungkapkan fakta dibalik kematian adiknya. Ah, hyung, kau sudah menemukan bocah itu?"
Tanpa sadar Sin Bi mendekati Tae Hyung. Rasa ingin tahu gadis itu semakin memuncak kala Tae Hyung membahas perihal peristiwa masa lalu Jung Kook. Dia juga ingin tahu apa yang menyebabkan kematian adik Jung Kook sampai-sampai lelaki itu belum bisa menerima kematian adiknya sampai detik ini.
"Ah, rupanya masih belum ketemu. Lalu bagaimana siaran langsung kita?" Tae Hyung menghela napas berat.
Mendengar bila Jung Kook belum ditemukan, gerakan tubuh Sin Bi semakin gelisah. Dia mengeratkan buku-buku jemarinya hingga memutih. Sin Bi berdecak. "Kemana perginya dia?"
"Tenanglah. Jika dia sudah lelah, dia akan pulang ke apartemen dengan sendirinya." Celetuk Tae Hyung santai. Walaupun Tae Hyung terlihat sedang menelpon seseorang tapi lagi dan lagi dia seolah-olah berbicara dengan Sin Bi.
***
Langit telah berubah gelap di mana bulan sabit menggantikan peran matahari untuk menerangi bumi. Kerlap kerlip gemintang yang terhampar luas di langit menambah kecantikan malam itu. Namun untuk pertama kalinya, Sin Bi mengabaikan keagungan langit. Seluruh fokusnya sepenuhnya tersita oleh Jung Kook. Dan selama dia berkelana menjadi nyawa tanpa raga, baru kali ini dia mencemaskan seorang manusia.
Di luar apartemen Jung Kook, Sin Bi berjongkok seraya jemarinya bermain di aspal yang ditutupi setengah salju. Kepalanya dia letakkan di antara kedua lutut. Semilir angin musim dingin yang berhembus tak memengaruhi gadis itu untuk menunggu di luar. Sebelumnya Sin Bi sudah mengecek ke dalam tapi apartemen lelaki itu kosong tak berpenghuni. Maka Sin Bi memutuskan untuk menunggu Jung Kook di luar.
Menggosokkan kedua tangan, Sin Bi bergumam pelan. "Dia pergi kemana sih? Kenapa belum pulang juga?"
***
Jung Kook pikir orang yang menelponnya tadi benar-benar akan menampakkan jati dirinya bila Jung Kook datang ke tempat kejadian. Rupanya perkiraan Jung Kook meleset. Hampir 2 tahun lamanya pasca kematian So Mi, orang ini meneror Jung Kook tanpa henti. Orang itu terus mengatakan bahwa So Mi meninggal lantaran bunuh diri.
Meskipun bukti-bukti yang didapat polisi menguatkan dugaan bunuh diri tersebut, Jung Kook tak serta merta percaya begitu saja. Dia yakin ada dalang di balik ini semua. Ada yang sengaja menutup-nutupi motif pembunuhan adiknya. Jung Kook tidak tahu pasti bagaimana So Mi meregang nyawa, tahu-tahu polisi datang dan mengatakan bahwa mayat sang adik ditemukan mengambang di kolam renang.
Di depan guci abu milik mendiang sang adik, Jung Kook berdiri dan kepalanya tertunduk dalam. Ada begitu banyak penyesalan di dalam dirinya. Seharusnya dia bisa mengungkap kasus itu dengan cepat. Ketika hari terakhir melihat So Mi, seharusnya Jung Kook tidak membiarkan sang adik pergi ke luar sendirian. Dan tidak seharusnya hidup So Mi berakhir dengan sia-sia.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNSEEN (END)
Fanfiction[Completed] Pasca mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, dan setelah bangun dari koma, Jeon Jung Kook menjadi lebih peka terhadap sekitar. Terutama terhadap "mereka" yang hanya bisa dilihat indra ke enam. Bermula dari situ lah, Jung K...
