XXXVII: Because Sin always be with Kook

1.3K 224 13
                                        

Setiap ada luka, pasti akan hadir cinta yang baru. Yang lebih nyata dan terasa. Menghapus duka dalam jiwa. Menghadirkan kisah yang lebih bahagia.

***

"Sin Bi-ya, mianhae..."

Sekali lagi Sin Bi mendengar suara lirih Jung Kook di ponselnya. Detik berikutnya telepon terputus begitu saja. Padahal Sin Bi belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Kekhawatiran Sin Bi bertambah kala Sin Bi menelpon balik Jung Kook--nomornya justru tidak aktif.

Rintik-rintik gerimis bertambah deras seiring kilatan cahaya saling menyambar di atas awan. Menimbulkan suara menggelegar yang mampu membuat para manusia jantungan.

Selama beberapa saat Sin Bi tetap bergeming di tempatnya. Suara sambaran petir sepertinya tidak cukup mampu mengusir Sin Bi dari sana. Pakaian gadis itu mulai basah. Begitu pun dengan rambut panjangnya.

Kepala Sin Bi menunduk. Terisak di bawah derasnya hujan. Menepuk-nepuk dadanya yang terasa sangat sesak. Ia sendiri tidak mengerti atas sakit yang dirasakannya. Apakah sakit ini karena dia merasa bersalah pada Eun Bi? Atau justru karena dia mulai mempunyai perasaan lain pada Jung Kook?

Tatkala Sin Bi tak juga menemukan jawabannya, sepasang kaki berhenti tepat di depannya. Ia juga sudah tidak lagi kehujanan. Dan ketika mendongak--rupanya Tae Hyung mengulurkan sebuah payung di atas dirinya.

"Aku akan mengantarmu menemui Jung Kook." kata Tae Hyung dengan tampang seriusnya.

***

Amarah mulai menguasai diri Kim Shin. Sekeras apapun ia berpikir, ia tidak dapat mengingat apapun tentang kehidupan masa lalunya. Kim Shin memang sudah tahu sebelumnya tentang konsekuensi yang didapatnya saat menjalankan tugas besar ini. Sialnya, dia lupa akan tujuannya menjalankan tugas ini.

"Apa ini termasuk rencanamu?" baru saja datang, Kim Shin langsung memprotes Ketua Song yang sedang membaca buku di bangku kebesarannya. Ketua Song adalah sosok yang memberikan tugas kepada Kim Shin.

"Apa yang kau bicarakan?" Ketua Song menutup bukunya.

"Kenapa bocah itu dapat mengenaliku?" kilatan kemarahan terpancar dari dwinetra Kim Shin.

"Ah--masalah itu?"

"Masalah itu?" ulang Kim Shin tak percaya. "Itu bukan hanya sekedar masalah bagiku!"

"Aku tahu." Ketua Song menghilang lalu tiba-tiba dalam sekejap berdiri tegak di hadapan Kim Shin. "Itulah sebabnya aku tidak percaya dengan manusia."

"Sunbaenim!" Kim Shin berteriak marah.

"Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik selama ini. Apa kau lupa kalau masa kerjamu akan segera berakhir?" Ketua Song berbicara seakan memberikan petunjuk pada Kim Shin.

"Maksudmu?"

Ketua Song berdecak. "Astaga, bahkan kau saja lupa dengan niat awalmu bersedia menjalankan tugas yang aku berikan." melihat kebingungan Kim Shin, Ketua Song berjalan mendekat lalu meremas pelan sebelah bahu Kim Shin. "Biar aku kasih petunjuk. Siapa orang yang sangat ingin kau temui sewaktu kau masih hidup?" kemudian Ketua Song berjalan melewati Kim Shin. Sebelum pergi menembus dinding, kedua kaki Kim Shin kehilangan kekuatannya saat pria tua itu melontarkan kalimat ini.

"Apa yang dikatakan pemuda itu benar. Dan gadis yang kau antar terakhir kalinya... Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya. Sebagai seorang ayah, kau pasti mengenalnya dengan sangat baik."

UNSEEN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang