Seharusnya kau tidak perlu lagi menanyakan siapa pemilik hatiku. Karena kau sendiri pun sudah tahu jawabannya.
***
"Sejak kapan?" rahang Jung Kook tampak mengeras dari sebelumnya. Dwilensanya mengilat marah seakan siap membunuh Tae Hyung saat ini juga.
"Jung Kook-ah, aku--" Tae Hyung ingin menjelaskan namun lagi-lagi ucapannya dipotong cepat oleh Jung Kook.
"Aku bertanya sejak kapan kau memiliki kemampuan itu?" kali ini nada bicara Jung Kook terkesan sangat tegas.
Tae Hyung menghela napas dalam. "Sejak masih kecil."
Tak ayal jawaban Tae Hyung membuat Jung Kook tertawa mendengus. Sebab Jung Kook tak habis pikir, bagaimana mungkin selama ini Tae Hyung bisa merahasiakan kemampuannya itu dari semua orang?
"Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya? Kau tahu cercaan apa yang aku terima dari orang-orang saat mereka tahu aku mulai mempunyai kemampuan sialan ini?!" serbu Jung Kook berapi-api. Jung Kook merasa ini tidak adil.
"Jung Kook-ah..." Tae Hyung tercekat tak sanggup berbicara lebih banyak. Bukan hanya tercekat, pria Daegu itu juga mulai didera perasaan bersalah.
"Kau enak bisa dengan santainya menutupi kemampuanmu itu sementara aku harus mati-matian menanggung beban sendirian." sungut Jung Kook emosi. Kedua telapaknya mengepal cukup erat hingga garis-garis uratnya menonjol.
"Aku... Minta maaf." pada akhirnya Tae Hyung mengalah dan enggan melanjutkan perdebatannya dengan Jung Kook. Kepala pria itu sedikit menunduk.
Tertawa sinis, Jung Kook merotasikan kedua bola matanya malas lalu berdecih. Ia tak serta merta menerima permintaan maaf Tae Hyung begitu saja. Kejadian yang beberapa menit lalu dilihatnya sangat mengejutkannya.
Alih-alih menyahut perkataan Tae Hyung, justru Jung Kook membalikkan tubuh. Sesaat sebelum ia mengambil langkah keluar, Jung Kook mengucapkan sepenggal kalimat yang sukses membuat Tae Hyung tertohok. "Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat. Jauhi gadis itu."
Sementara itu, sedari tadi Sin Bi berusaha mencuri dengar dari balik pintu. Ia menempelkan satu telinganya di daun pintu, berharap agar dapat mendengar apa yang Jung Kook dan Tae Hyung bicarakan.
Setelah sebelumnya Jung Kook memergoki dia dan Tae Hyung sedang berduaan di kamar, Sin Bi langsung diperintahkan untuk menunggu di luar. Mulanya Sin Bi menolak karena bagaimana pun ini salah dia juga. Namun, tatapan Tae Hyung seakan memintanya untuk mematuhi titah Jung Kook.
Sin Bi yang terlalu bersemangat menguping sampai-sampai tidak sengaja menembuskan kepalanya ke pintu. Alhasil kepala gadis itu menyembul masuk ke dalam tepat tatkala Jung Kook hendak memutar kenop pintu.
Spontan Jung Kook berjengkit kaget dan melompat ke belakang sembari memegangi dadanya. Jantungnya seolah nyaris copot dari tempatnya. Dalam kondisi apapun, Hwang Sin Bi memang senang sekali membuat Jung Kook serangan jantung.
"Astaga, Hwang!" pekik Jung Kook keras.
Alih-alih menarik kembali kepalanya dan meminta maaf, Sin Bi malah memasang ekspresi paling polos yang dia punya. Tak lupa dwinetranya mengerjap beberapa kali.
"Jeon... Aku bisa jelaskan semuanya." kata Sin Bi pelan. Gadis itu tampaknya masih betah dalam posisi setengah membungkuk dengan kepala menembus pintu.
"Singkirkan kepalamu itu! Aku ingin lewat!" Jung Kook mengibaskan tangannya.
"Tapi kau mau memaafkan Tae Hyung, kan?" Sin Bi masih mempertahankan posisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNSEEN (END)
Fiksi Penggemar[Completed] Pasca mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, dan setelah bangun dari koma, Jeon Jung Kook menjadi lebih peka terhadap sekitar. Terutama terhadap "mereka" yang hanya bisa dilihat indra ke enam. Bermula dari situ lah, Jung K...
