XXIX: Last Chance

1.4K 265 66
                                        

Ragamu memang masih menjadi milikku, tapi tidak dengan hatimu.
-Kim Tae Hyung

***

Kehebohan sempat terjadi di bioskop siang itu. Banyak orang berbondong-bondong mengerubung di tempat pembelian tiket. Pasalnya, seorang idol dari grup ternama bertingkah sangat aneh. Usai Eun Bi mengatakan bila dia telah mengingat semuanya, gadis itu menghilang begitu saja. Meninggalkan Jung Kook dengan tanda tanya besar di kepalanya.

Yang membuat orang-orang berkumpul bukan hanya Jung Kook yang berbicara sendiri, tetapi juga Jung Kook yang meneriakkan nama Sin Bi dengan histeris. Tentu saja Jung Kook masih mengira bahwa Eun Bi adalah Sin Bi.

Tak sedikit orang yang merekam kejadian itu dengan kamera ponselnya. Akal sehat Jung Kook sudah lenyap entah kemana. Tak peduli lagi pada tatapan aneh para pengunjung bioskop.

Laki-laki itu terus berlari ke sana kemari. Mencari sesosok gadis bernama Hwang Sin Bi. Atau nama sebenarnya adalah Hwang Eun Bi. Ketakutan benar-benar menyelubungi Jung Kook. Takut bila dia tidak bisa menemukan gadis itu lagi.

***

Rumah sakit Hyungsung merupakan tujuan utama Eun Bi. Entah mengapa setelah kilasan balik memorinya membenturnya keras, rumah sakit ini lah yang muncul dalam kepalanya. Semuanya tidak asing lagi bagi Eun Bi saat melintasi lorong rumah sakit yang cukup sepi.

Sampai akhirnya gadis itu tiba di depan ruang inap VIP bertuliskan Hwang Eun Bi. Eun Bi terdiam sejenak. Mengamati ukiran nama yang terpampang di depan pintu seraya menyentuhnya dengan jemarinya.

"Hwang Eun Bi. Ini namaku." gumam Eun Bi pelan. "Ternyata aku masih hidup."

Eun Bi juga tidak tahu mengapa dia bisa sampai ke rumah sakit ini. Ia hanya mengikuti instingnya untuk datang ke sini. Dan siap menerima segala kejutan yang ada di dalamnya.

Seusai bertarung dengan pikirannya sendiri, Eun Bi memilih masuk ke dalam ruang inapnya. Instingnya terlalu kuat untuk dikalahkan. Sebab ini lah waktu yang tepat untuk bertemu dengan orang-orang terdekat yang telah lama dia tinggalkan.

Eun Bi tercekat kala mendapati tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan selang regulator terpasang di hidungnya. Di sisi ranjang, terlihat Tae Hyung dengan kepala menunduk. Tangan lelaki itu menggenggam erat sebelah tangan Eun Bi.

Dia lah laki-laki yang selama ini Eun Bi rindukan. Seharusnya Eun Bi sadar dari awal dia bertemu dengan Tae Hyung. Seharusnya Eun Bi bisa menafsirkan perasaannya sendiri bahwa Tae Hyung adalah orang yang dia cintai.

"Oppa..." bibir Eun Bi bergetar menyebut satu kata itu.

Tae Hyung mengangkat kepalanya dan terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya. Mengira tengah bermimpi, Tae Hyung sampai-sampai tidak mampu mengerjapkan matanya barang sedetik.

"Oppa, maaf. Aku baru bisa ke sini sekarang."

"Eun Bi-ya.... Benar kau Eun Bi?" tanya Tae Hyung tak percaya.

Eun Bi mengangguk kecil. "Ini aku Eun Bi." sorot mata sendunya seakan menggambarkan perasaannya selama ini.

Setetes kristal bening luruh dari sudut mata Tae Hyung. Betapa Tae Hyung tak dapat menyembunyikan kebahagiaan dan keharuan yang menderanya sekaligus. Ini lah manusia. Terkadang manusia dapat menangis dalam keadaan bahagia sekali pun.

UNSEEN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang