TIME | 5

92 10 0
                                        

1

"Kayaknya lo perlu bikin tulisan pakai stabillo di depan pintu. Tulisannya gini nih 'pintu harap didorong, jangan ditarik. Nanti kelihatan gobloknya'." Ale menyambut Flo yang baru selesai mandi dan berganti pakaian dengan kalimat menyebalkannya. Seiring dengan dengusan Flo, tawa Ale membahana. Membuat handuk di kepala Flo melayang dan menabrak wajah Ale. Telunjuk dan ibu jari Ale menyingkirkan handuk tersebut dengan ekspresi jijik. "Apaan nih. Benda purbakala kok masih disimpan," ujarnya sambil melemparkan handuk Flo ke lantai dengan cueknya.

Flo tidak meladeni guyonan Ale. Ia lebih memilih sibuk dengan otaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana keadaan guru dan teman-temannya? Dimana Anna? Siapa Ale? Serta bagaimana cara Flo menjelaskan semua ini kepada kakek?

Flo lelah. Baik secara fisik maupun psikis. Sambil menghela napas panjang, Flo melemparkan tubuhnya ke sofa. Tepat di samping Ale yang diam-diam mengamatinya.
"Setelah ini gue harus gimana?"
Pertanyaan yang tentu saja diajukan untuk dirinya sendiri.

"Jalani saja, karena takdir akan tetap mengejar lo meski lo gak ngelakuin apa-apa." Ale menjawab seolah pertanyaan itu ditujukan untuknya.

Dengan ragu Flo membalas
"Bagaimana dengan.... teman gue, guru gue?"

"Simpelnya, mereka udah gak ada. Gak ada dalam artian benar-benar raib fisik dan jiwanya. Mereka mustahil ditemukan dimanapun. Sekalipun dalam ingatan."

Flo tercekat.

"Maksud lo...."
Jantung Flo seakan terhenti saat itu juga. "Apa yang sebenarnya terjadi sama mereka Ale!?"

"Secepatnya lo bakal tau. Tapi gue rasa ini bukan waktu yang tepat. Gue aja masih bingung bagaimana bisa lo mengingat mereka padahal seharusnya gak begini cara kerjanya. Semua masih abu-abu Flo. Buat lo juga gue." Yang dikatakan Ale bukan sekedar omong kosong. Ale benar-benar merasa clueless dengan apa yang ia hadapi sekarang. Namun bukan Ale namanya kalau tidak semakin tertantang dengan apa yang kini dihadapinya. Sesosok manusia penuh misteri yang mungkin akan membawanya dalam petualangan seru di dunia manusia.

"Apa ada kemungkinan mereka hidup?" Mereka yang Flo maksud sebenarnya lebih ditujukan kepada Anna. Satu-satunya orang yang dia kenal betul. Bukan maksud kejam namun selama ini teman seangkatannya tidak memandang Flo lebih dari ATM berjalan. Mengingat kakeknya adalah seorang pengusaha kelas kakap ditambah lagi desas-desus mengenai harta warisan melimpah yang jatuh ke tangannya semenjak kedua orang tuanya meninggal membuat setiap orang yang berpapasan dengannya di sekolah mencari muka. Caper sana caper sini, semuanya dijabanin hanya untuk membuat Flo terkesan dan berharap dimasukkan dalam lingkup pergaulannya. Flo bukannya gadis naif. Ia tau semuanya. Bukan hanya itu, mereka juga diam-diam membicaran Flo yang terkesan dingin dan tidak mau bergaul dengan orang-orang biasa. Bah!
Sekarang Flo hanya berharap Anna masih hidup dan bisa survive di dalam hutan. Semoga.

"Ada satu cara buat memastikan." Kata Ale

Flo diam menghabiskan bermenit-menit menunggu Ale melanjutkan kalimatnya. Tetapi Ale tidak berminat, ia memilih tenggelam dalam senyap. Membuat Flo yang penasaran setengah mati membuka mulut.
"Gimana caranya?"

"Mereka tidak bisa ditemukan bahkan dalam ingatan. Periksa ingatan orang-orang terdekat mereka dan lo akan tau jawabannya."

2

Tangan Flo mengeratkan jaket maroon-nya sebelum mengetuk pintu kayu berwarna cokelat. Udara dingin yang menyerang tak menyurutkan langkah Flo menyambangi kediaman Anna ditemani Ale yang bersandar di pilar sambil melipat tangannya cuek. Memastikan apakah sahabatnya masih berada di dunia ini. Satu sisi ia merasa khawatir, satu sisi ia takut. Flo takut ketika pintu terbuka dan ia menyebutkan Anna, mereka merasa asing. Maka ketika pintu terbuka dan menampilkan sesosok cowok jakung yang ia kenali sebagai kakak Anna, Flo merasa gugup dan kikuk. Benaknya bertanya-tanya. Apakah dia akan mengenali Anna?

Sebelum membuka percakapan, cowok tinggi bak tiang listrik di hadapannya memotong duluan. Sebaris kalimat yang membuatnya hampir kehilangan kewarasan dan berhasil membuat Ale di belakangnya sedikit tertarik.

"Loh Flo, Anna-nya mana?"

Sebelum Flo mengatakan sesuatu, dengan cepat tangan Ale menggandeng atau lebih tepatnya menarik Flo pergi. Pikiran Flo yang melayang entah kemana membuat kaki-kakinya pasrah mengikuti kemana Ale membawanya.

3

Gelap dan mencekam.

Anna bukan jenis gadis manja seperti Flo yang takut dengan gelap atau rimba. Dirinya adalah pecinta alam akut. Berbagai gunung telah ia taklukkan, berbagai hewan telah ia jadikan kawan. Anna tidak takut.

Berbekal insting dan segenggam nekad, Anna membelah semak tinggi yang menghalangi jalannya. Anna semakin yakin kalau dia telah masuk ke dalam bagian hutan yang lebih dalam dari malam sebelumnya.
Ia tersenyum. Berharap menemukan apa yang selama ini dicarinya.

Sesuatu yang berbahaya namun menantang.

Sesuatu yang begitu membuat adrenalin dalam dirinya terpacu kuat.

Sesuatu yang menarik rasa penasarannya semakin dalam.

Satu yang perlu kau tau. Ia tidak menghilang. Ia sengaja.

Langkah Anna melamban ketika merasakan ada sosok yang ikut berjalan di belakangnya. Ia berbalik untuk menemukan sosok pemuda tinggi dengan rajahan tato merah yang menyala-nyala selaras dengan bulan merah di atas mereka. Kuduanya sama-sama tersenyum kemudian menyeringai.

"Ketemu," ujar Anna bak seorang anak yang menemukan mainannya yang hilang.

"Nyalimu besar juga... manusia."

Anna kembali menyeringai.

"Penguasa kegelapan dengan kekuatan cahaya."

"Sedikit koreksi, penguasa kegelapan dan cahaya dengan kekuatan kami sendiri."

"Gue menginginkan sesuatu."

"Sebagai imbalannya?"

"Apa yang setimpal dengan menghancurkan jiwa seseorang?"

"Well, hukum yang berlaku disini adalah darah dibayar dengan darah. Mata dibayar dengan mata. Kau paham?"

Anna menaikkan alisnya. Pilihan yang sulit namun setimpal dengan apa yang ia dapat. Hasrat Anna melihat oang itu menderita sangat besar sampai-sampai ia rela membuat suatu perjanjian terikat dengan makhluk kegelapan. Anna bukannya tak tau. Ia tau bahkan sangat tau. Bahkan ia tau persis apa yang menimpa teman-temannya.

"Jiwa ditukar dengan jiwa. Aku ingin jiwanya sementara jiwaku sebagai imbalannya."

Dia tersenyum. Ia melangkah mendekati Anna seiring dengan perubahan fisiknya yang sangat kentara. Taring panjang dan urat-urat nadi yang mencuat mampu membuat Anna sedikit gentar. Hanya guncangan kecil namun tidak sampai membatalkan niatnya. Tekad Anna sudah bulat.

Malam itu, teriakan Anna mengiringi lolongan anjing hutan. Mengisi setiap sudut dalam celah pohon.

Jiwa yang diambil tidak dapat kembali. Jiwa yang diminta akan segera digerogoti.

Hanya bulan merah yang menjadi saksi betapa sakitnya Anna malam itu.

.

.

.

TBC

____________________________________

Jumat, 1 Juni 2018

Pekalongan | 16.45

Time for the Moon NightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang