1
Ada beberapa peristiwa yang paling membahagiakan bagi Flo selama delapan belas tahun ia hidup di dunia ini. Sebagian adalah kenangannya bersama Ana, satu-satunya sahabat yang dia miliki. Sebagian lagi adalah saat dimana ayah bundanya masih berada di sisinya.
Dan semua kenangan tersebut benar-benar tersimpan rapi dalam lemari kenangan di otaknya. Sesekali Flo berharap kenangan tersebut dapat menjelma menjadi mimpi dan menepikan semua mimpi buruk yang Flo alami. Dan seperti sebuah keajaiban, keinginan Flo terwujud entah bagaimana caranya.
Di sebuah hamparan savana luas, kedua tangan Flo bertautan dengan ayah bundanya. Berjalan tanpa arah, hanya menikmati udara yang lembab dan sejuk.
Seluas mata memandang, yang Flo lihat hanya hamparan rumput kuning dan hijau, seperti tak berujung. Flo mencium samar wangi bundanya kemudian menyimpannya dalam memori baik-baik.
Kebahagiaan Flo tidak berlangsung lama karena tiba-tiba langit menjadi gelap dan bulan dengan cahaya semerah darah menggantung dengan kokohnya. Tangan yang semula digenggam oleh ayah serta bundanya, kini kosong. Menyisakan rindu yang tak bertepi. Tepat dihadapannya, Ana sedang berdiri dengan luka dimana-mana. Flo tercekat.
"Ana!"
Hatinya merasa sakit melihat sahabatnya sebegitu menderita.
"Flo, tolong gue," cicit Ana sambil mengulurkan tangannya. Flo tersenyum sambil menahan tangis.
Namun, sekuat apapun Flo berusaha menggapai uluran Ana, tubuhnya tidak bergerak. Ia menjerit keras tatkala melihat Ana melotot. Mata Ana hanya menampilkan warna putih tanpa lensa. Penyebabnya adalah kehadiran seorang cowok yang tiba-tiba menggigit leher Ana dengan rakus. Semakin lama darah Ana mengering sehingga tubuhnya membiru seiring jerit histeris Flo yang jatuh terjongkok dan hanya bisa menutup telinganya. Flo tidak sanggup melihat Ana di ambang maut. Ia benar-benar frustasi.
"Tolong, siapapun tolong. Hentikan ini."
2
Napas Flo tersengal-sengal kala ia membuka kedua matanya. Satu yang Flo syukuri, semuanya hanya mimpi. Namun, kelegaannya hanya berlangsung sekejap mata ketika matanya bertumbukan dengan sepasang mata kelabu itu.
"Eh copot monyet lo kodok bencong!"
Cowok itu mengerutkan kening tidak suka. "Permisi, tapi gue bukan 'copot monyet kodok bencong'. Gue Ale. A. El. E. Ale!"
Flo meringsut ke belakang. Semakin bersandar ke pohon besar yang sejak semalam menjadi kasurnya. "Ale? Ale-ale? Itu kan merek minuman yang biasa dijual di toko kelontong," ujarnya lirih namun masih bisa didengar oleh Ale.
"Lo siapa? Teman-teman gue yang lain dimana?" Flo bertanya dengan hati-hati. Dia adalah orang asing, entah baik atau jahat Flo masih belum yakin. Tapi mengingat semalam Flo tertidur dan dia tidak melakukan hal macam-macam, Flo sedikit mengurangi kewaspadaannya. Flo mengingatnya. Cowok aneh bertaring yang kemungkinan besar telah menyelamatkannya dari sebuah tragedi. Entah apa tujuannya, Flo tidak tau.
Sialnya, cowok di depannya hanya diam dan malah memandanginya. Dipandangi oleh sepasang mata kelabu yang menawan, sukses membuat Flo tergugup. Alhasil, samar-samar di pipinya menyebar rona merah. "Jangan ngelihatin gue kayak gitu!"
"Kenapa?"
"Y--ya terserah gue dong. Ih!" ujarnya sembari mendorong pelan tubuh Ale. Flo berdiri dengan pohon sebagai tumpuannya. Betisnya sakit dan pegal akibat berlari semalaman di tengah hutan. Ditambah lagi berbagai macam luka baret di kakinya yang menambah penderitaan Flo.
"Aduh." Hampir saja ia terjatuh kalau tangan Ale tidak sigap menangkap tubuh Flo. Flo akui, wajah Ale cukup lumayan untuk seukuran orang yang berkeliaran di hutan. Pakaiannya juga bukan berupa rok rumbai-rumbai. Ingin sekali Flo bertanya siapa sebenarnya Ale. Tapi Flo takut. Ia terlalu takut mengetahui kebenarannya. Sejatinya Flo sudah mengetahui berbagai keanehan dalam diri Ale. Mulai dari taringnya, matanya, dan suhu tubuhnya yang benar-benar dingin seperti kulkas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Time for the Moon Night
Fanfiction[TAERIN | TAEHYUNG × YERIN] Status : on going Genre : fanfiction & fantasy Aku, kamu, dan sinar rembulan. Ada satu waktu dimana Ale dan Flo pertemukan dalam satu garis lurus di bawah siraman rembulan. Ale yang memanfaatkan Flo. Dan Flo yang terlalu...
