1
"Belum lama. Beberapa saat yang lalu mereka lewat," ujar Sokha setelah melacak keberadaan Ale dengan indra penciumannya yang tajam. Sokha adalah salah satu keluarga Fallen yang memiliki kemampuan mendeteksi apapun melalui bau. Perasaan, orang, atau apapun itu. Mudahnya, ia bisa 'melihat' segala sesuatu lewat bau.
"Mereka? Maksud lo Ale nggak sendirian?" tanya Saga sembari mengambil ranting dengan bercak darah di permukaannya. Bercak darah Flo.
Sokha melipat tangannya sembari menjawab pertanyaan Saga."Tepatnya, sekarang dia sedang bersama seorang gadis. Manusia. Kemungkinan besar menuju kota."
Saga menyeringai.
"Kedengarannya misi kali ini akan menyenangkan."
"Terserah. Gue pingin urusan ini cepat-cepat kelar. Jadi jangan main-main, kakak." Sokha menekankan kata kakak. Kalimatnya kental sekali dengan ancaman. Sokha tau persis bagaimana watak Saga. Meski ia tertua diantara Ale dan Sokha, Saga adalah pria kekanakan yang suka mencari masalah. Yah, walaupun kalau dibuat perbandingan, Saga tidak ada apa-apanya dibanding Ale dalam membuat ayah murka. Ale benar-benar representatif dari vampir gila. Dan Saga adalah bagian sintingnya. Benar-benar sebuah anugerah yang tidak tertandingi. Satu-satunya alasan mereka masih dimaafkan oleh kaum vampir khususnya para gadis karena wajah mereka yang ethereal.
"Well, kita lihat saja nanti." Saga berlalu tak acuh. Meninggalkan Sokha yang masih menyimpan kedongkolan untuk kedua kakaknya. Sokha menghentakkan kakinya kemudian berbalik mengejar Saga sambil berteriak.
"Sialan! Hei tunggu!"
2
Keluar dari muntahan cahaya membuat kepala Flo pening. Ia segera berjongkok sebelum badannya ambruk. Terakhir kali Flo merasakan perasaan seperti ini adalah ketika dua tahun lalu ia menaiki sebuah wahana roller coaster kemudian berakhir dengan penyesalan. Mual, pusing, dan meski kakinya menapak di tanah, Flo tetap merasa tubuhnya melayang ke nirwana. Flo tidak tau ini tempat apa. Samar-samar ia melihat beberapa coretan pilog dari dinding lembab yang ia punggungi dan beberapa kilatan cahaya mobil.
"Payah." Suara Ale yang terkesan dingin merambat ke dalam telinga Flo namun ia abai. Bagi Flo, saat ini kondisi tubuhnya adalah nomor satu.
Beberapa menit Flo bertahan dengan posisi seperti itu sementara Ale hanya mengamatinya dalam diam. Manusia benar-benar lemah. Ini adalah kali pertama Ale mengajak manusia untuk melakukan teleportasi. Ale ingin melihat sejauh mana kemampuan manusia dalam melewati dimensi ruang dan waktu. Ia penasaran, akankah mereka dapat bertahan hidup? Dan satu pertanyaan yang selama ini bercokol di dasar pikirannya terjawab sudah. Meski seperti sedang sekarat, tapi gadis di depannya masih hidup.
Untunglah, karena kalau ia mati maka artinya Ale harus susah payah mencari manusia lain sebagai objek percobaan. Merepotkan.
"Gila, sebenarnya lo makhluk macam apa?" tanya Flo lirih namun masih bisa di dengar. Flo masih syok. Kini ia benar-benar merasa takut kepada Ale. Bisa Flo pastikan Ale bukanlah manusia dan hal tersebut membuatnya merinding.
Ale terkekeh mendengar pertanyaan Flo. Selama ini ia heran. Meski Ale sudah menunjukkan perbedaannya dengan manusia biasa, namun Flo tidak memiliki tanda-tanda takut dengan dirinya. Ale menantikan saat-saat dimana Flo memiliki rasa takut itu sehingga ia bisa leluasa memberi tekanan kepada Flo.
"Nama lo siapa?" tanya Ale.
Dengan gemetar dan wajah masih telungkup ia menjawab. "Flo..."
Tawa Ale semakin besar melihat Flo yang ketakutan. Berbanding terbalik dengannya, Flo sedang cemas dan gusar. Keringat dingin keluar membanjiri telapak tangannya yang dingin.
"Tolong----"
"---jangan sakiti gue." Flo memohon dengan nada suara sumbang. Bahkan untuk berbicarapun suaranya tercekat-cekat seperti tercekik.
"Terus apa untungnya buat gue?" Sebaris kalimat Ale membuat jantung Flo semakin bertalu-talu.
Ale melanjutkan kalimatnya sambil meraup dagu Flo dengan jemarinya. "Apa untungnya gue biarin lo hidup?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Time for the Moon Night
Hayran Kurgu[TAERIN | TAEHYUNG × YERIN] Status : on going Genre : fanfiction & fantasy Aku, kamu, dan sinar rembulan. Ada satu waktu dimana Ale dan Flo pertemukan dalam satu garis lurus di bawah siraman rembulan. Ale yang memanfaatkan Flo. Dan Flo yang terlalu...
