TIME | 6

113 12 2
                                        

Terkadang, cinta memang serumit itu.
.
.
.

1

Flo salah dengan mengabaikan eksistensi mbok Ijah. Meski wanita tua itu mendampinginya semenjak kecil, kesetiaannya pada sang tuan lebih besar dari ekspektasi Flo. Sehingga ketika ia berkata untuk merahasiakan tentang kedatangan Ale yang masuk dalam garis hidup mereka, mbok Ijah tidak serta merta menurut. Diam-diam semalam ketika ia pergi ke rumah Anna bersama Ale, beliau menghubungi kakek. Membuat pria paruh baya tersebut kalang kabut dan langsung terbang menuju kediaman Flo.

Dan disinilah Flo. Duduk di ruang tamu bersama Ale serta kakek. Dari pandangan matanya saja Flo tau bahwa beliau marah besar. Ia bertanya-tanya, apakah murka sang kakek akan berimbas dengan penghapusan namanya dari kartu keluarga? Membayangkannya saja membuat Flo meringis. Sementara disebelahnya, Ale duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Saking santainya, Flo bisa mendengar Ale menyenandungkan beberapa lagu dengan lirih.

"Kakek, Flo bisa jelasin semuanya," ujarnya sedikit panik.

Kakek terdiam sebentar sembari menyeruput tehnya dalam-dalam. Meski tangannya telah gemetaran, wibawa kakek masih melekat dengan sangat kuat. Dulu ketika usianya masih tiga puluhan, kakek dikenal sebagai pemilik empire world, perusahaan sukses yang dibangunnya sendiri. Ia adalah seorang pengusaha handal dan penuh ambisi. Sehingga saat masa kejayaannya telah runtuh, kakek mendapat hasil yang memuaskan dari jerih payahnya semasa muda.

"Jelaskan," katanya penuh penekanan sambil memandang tajam wajah Ale yang dibalas dengan senyuman.

"Jadi, namanya adalah Ale. Dia...." Flo terdiam sebentar. Sejujurnya Flo bingung harus menjelaskan apa kepada sang kakek.

"Kakek menunggu Flo."

"Sebenarnya, Ale itu..."

"Iya, siapa?"

"Teman Flo kek. Orang tuanya kecelakaan dan meninggal kemarin. Dia sendirian. Niatnya Flo cuma bantu doang kok kek. Flo kasihan, kalau lihat Ale berasa lihat Flo yang dulu. Jadi Flo mutusin buat nampung dia sementara. Boleh ya kek, please," Pintar Flo. Lancar sekali kamu berbohong. Ejeknya dalam hati.

Kakek mengernyit. Dari Flo, ia beralih ke Ake. Dipandanginya wajah tampan itu dengan lekat. Raut wajahnya tidak nampak seperti orang berduka. Malahan terkesan datar dan dingin. Kakek curiga namun lagi-lagi kasih sayangnya kepada sang cucu semata wayang mengalahkan keraguannya. Lagipula ia memiliki orang-orang yang sanggup menggali informasi Ale serta menjaga Flo kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maka dengan berat hati ia memutuskan.
"Kakek izinkan. Dengan syarat anak ini sama sekali tidak boleh naik ke lantai dua apalagi ke kamarmu. Cukup di lantai satu saja batas teritorinya."

Flo menghela napas lega. Ia tersenyum. Walaupun Flo lebih suka kalau kakeknya mendepak si brengsek ini keluar rumah, tapi Flo harus menahannya. Ia butuh Ale untuk menemukan Anna. Meski tau Ale adalah sosok berbahaya, tapi ia harus.

"Makasih kek. Nanti Flo bikinin sketch spesial deh buat kakek, hehe."

Seulas senyum terbit dari wajah kakek. Kemudian matanya beralih ke Ale.
"Dan kamu. Kalau sampai berani macam-macam dengan cucu saya, jangan harap kepalamu masih menempel dengan leher."

Abe sedikit meringis. Meski ia seorang vampir, tapi ia tau kakek Flo bukan orang sembarangan yang asal bicara. Ale memegangi lehernya. Ngilu sekali membayangkan kalau kepalanya menggelinding dari tubuhnya.

2

"Gue curiga kakek lo adalah reinkarnasi Hitler. Kejamnya gak main-main."
Tentu saja Ale mengucapkannya saat sang kakek sudah pergi mengurus urusan kantor. Dan kini ia sedang tiduran di sofa dengan level kemalasan tingkat tinggi.

"Indeed. Kejam. Dia iblis bagi lo tapi malaikat buat gue." Flo tidak menampik ucapan Ale. Bahkan ia pernah mendengar kata-kata yang lebih kasar lagi yang ditujukan untuk kakeknya. Kakeknya memang iblis bagi sebagian orang. Ia mampu menghancurkan hidup seseorang hanya dalam satu kedipan mata. Namun begitu, sang kakek adalah sosok malaikat pelindungnya. Pengganti peran orang tuanya.

"Wow. Ini bukan grand-daughter-complex kan?"

"Sinting lo!"

Ale terkekeh.
"Ngomong-ngomong, gue laper."

Flo menegang kemudian memegangi lehernya dengan kedua tangannya. Flo tidak bodoh. Ia tau siapa Ale, yang tidak lain dan tidak bukan adalah iblis penghisap darah. Flo yakin setelah semalaman memikirkan hal tersebut. Dan makhluk yang paling mendekati ciri-ciri fisik Ale adalah vampir. Ia kira vampir hanya ada di film atau novel. Ternyata mereka nyata. Wajah panik Flo membuat tawa Ale semakin kencang.
"Gue belum berniat sejauh itu kali."

"Belum!? Maksudnya suatu saat lo ada niat buat ngisap darah gue gitu!?" Suara Flo melengking memekakkan telinga.

Ale hanya mengedikkan bahu.
"Lihat aja nanti."

"Kurang ajar! Gak bakal gue ijinin lo nyentuh gue barang sedikitpun!"

"Gue gak butuh ijin lo."

"Pokoknya gak!"

Ale menyeringai.
"Gue bilang, lihat aja nanti."

"Asshole!"

"Untuk sekarang gue butuh kelinci."

"Buat?"

"Makan."

"Lo doyan sate kelinci?"

"Cantik-cantik goblok."

"Cantiknya fakta. Gobloknya fitnah. Lo beneran suka sate kelinci? Hewan selucu itu?"

"Otak lo cuma se-gram ya? Gue butuhnya darah. Lama-lama lo yang gue sate."

Flo hanya ber-o ria mendengarnya.
"Ih sewot banget, kan gue cuma nanya."

"Nanya juga yang berkualitas kali. Ketahuan kan gobloknya."

Bibir Flo maju mendengar cibiran Abe.
"Darah ayam aja gimana? Gue gak tega kalau harus kelinci."

"Yang makan juga gue bukan lo."

"Tetep aja ih! Ayam aja ya. Nanti gue beliin sekandang deh buat lo."

"Hmm, boleh juga tawaran lo."

"Ya kan? Ya kan?"

"Tapi sayangnya kelinci adalah makanan favorit gue."

"Gak boleh! Sana cari aja sendiri kalau gitu!"

"Oke. Kalau gitu gue makan lo aja. Sumber makanan terdekat dan sangat bernutrisi."
Ale bangkit dari tidurnya. Sementara Flo menegang, dalam hati ia kocar-kacir memperhatikan gelagat Ale namun di luar berusaha tetap tenang.

Ale berdiri dengan mata memandang tajam pada Flo.

'Oke, gue harus tenang'

Ale maju satu langkah.

'Sial sial sial! Kenapa jantung gue kayak mau copot sih'

Dua langkah.

'Gila. Dia gak beneran mau ngisap darah gue kan?'

Tiga langkah.

Flo menyerah. Ia berlari terbirit-birit ke lantai tiga sambil memanggil mbok Ijah untuk membelikan selusin kelinci.
"Mboooook! Beliin kelinci selusin!"

Kemudian terdengar suara bantingan pintu kamar Flo. Ale tebahak tak karuan. Entah bagaimana ia menyukai situasi ini. Dimana Flo akan selalu bertingkah absurd saat ia mulai mengancamnya. Flo adalah hiburan bagi Ale yang telah hidup terkekang selama setengah abad lamanya.

.

.

.

TBC

____________________________________

Minggu, 10 Juni 2018

Pekalongan | 22.33

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 10, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Time for the Moon NightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang