prolog x cast

2K 214 11
                                        

Juwita itu tidak paham apa arti sebuah pacaran. Punya hubungan dengan Yogi Anggara pun rasanya tidak ada beda selain teman jalan bersama. Katakanlah Juwita itu polos, padahal usianya sudah 21 tahun. Jika teman seusianya sudah memikirkan komitmen lebih, Juwita mengerti arti sebuah hubungan saja belum. Hal itu kadang membuat Bunda khawatir. Anak bungsunya terlalu bersikap cuek. Malah bisa dikatakan terlalu datar, sampai tak jarang ia dikira tidak memiliki emosi padahal Juwita bukan mannequin.

Hari ini Juwita pergi ke kampus. Ia sedang mengurus kelulusannya. Tentunya Yogi Anggara sebagai pacar siap siaga bersedia mengantar jemputnya. Namun, Juwita menolak karena dia tidak ingin merepotkan Yogi. Kenyataannya Yogi sengaja ingin bertemu Juwita. Yogi pun tetap datang ke rumah Juwita, toh dia juga tak akan diusir pacarnya bukan ratu tega.

"Kenapa kakak kesini?" Tanya Juwita saat melihat Yogi di ruang tamu rumahnya.

"Mau nemenin kamu." Jawab Yogi disertai senyuman lebarnya.

"Emangnya ga kerja?" Tanya Juwita datar.

"Aku ambil cuti. Wit jangan protes dulu aku gini karena hari ini momen penting kamu loh ambil surat keterangan lulus." Jawab Yogi.

"Okedeh." Timpal Juwita. Singkat, padat dan jelas. Yogi pun jadi malas menimpali, sikap Juwita yang seperti ini kadang membuat Yogi lelah. Namun perasaan sayang terhadap adik sahabatnya membuat ia tetap bertahan. Yogi yakin ia bisa membahagiakan Juwita sesuai janjinya pada Nina.

Selama perjalanan hanya terdengar alunan lagu Chris Brown, penyanyi kesukaan Yogi. Kali ini Yogi tidak membuka percakapan seperti biasanya ia lakukan. Ia justru mengambil sebucket bunga.

"Selamat ya Juwita akhirnya kamu lulus. Semoga selaga cita - cita kamu terkabul. Maaf ya selama ini aku jarang nemenin kamu." Kata Yogi.

Jika perempuan lain mendapatkan hal seperti ini tentunya akan kegirangan, sebuha pelukan dipastikan menjadi balasan untuk kekasihnya. Akan tetapi Juwita berbeda, reaksinya hanya tersenyum kecil dan berterima kasih. Yogi jadi bingung dibuatnya. Tak ada kata sayangku atau ungkapan cinta sejenisnya hanya terima kasih kak. Kali ini Yogi mulai frustasi, bagaimana cara membuat Juwita tersenyum senang?

Selepas ke kampus, Juwita meminta Yogi mengantarnya pulang. Harapan Yogi, kekasihnya itu mengajaknya makan siang bersama. Kenyataannya Juwita lebih ingin pulang karena Bunda memasak makanan kesukaannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Yogi harus mengerti. Bunda adalah sosok terpenting dalam hidup Juwita. Semenjak perceraian kedua orang tuanya, Juwita dan Nina ikut Bunda. Walau Juwita sesekali menemui Ayah namun tetap saja tidak sedekat hubungannya dengan Bunda.

"Kakak kamu pulang emang Wi?" Tanya Yogi.

"Pulang Kak, soalnya ngidam masakan Bunda. Makanya pada ke Jakarta." Jawab Juwita.

"Pantesan kamu pengen pulang cepet." Timpal Yogi.

"Iya, soalnya aku juga mau tahu cerita ngidam kakak." Kata Juwita.

"Nanti juga kamu ngerasain Wi, kalau udah nikah." Ujar Yogi.

"Iyasih." Timpalnya.

Percakapan terhenti, Yogi memutuskan fokus menyetir dan Juwita melamun. Hubungan seperti ini terjalin sejak awal. Tidak ada kemajuan sama sekali. Pergerakan yang Yogi lakukan semua sia - sia karena benteng Juwita terlalu kuat.

"Kak, aku kayaknya mau lanjutin usaha Bunda ajadeh." Kata Juwita tiba - tiba.

"Bagus dong, biar ada yang selalu dekat sama Bunda." Timpal Yogi.

"Salah satunya, sama aku merasa kurang bisa bersosialisasi." Kata Juwita.

"Kamu bukan ga bisa, belum terbiasa aja." Kata Yogi.

 Your Happiness ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang