Suasana masih sunyi, aku masih bisa mendengar suara kerikan jangkrik di tengah-tengah kesunyian malam. Cahaya rembulan menerangi sela-sela ruangan di dalam kamar. Kurasa kami berdua keasyikan mengobrol hingga lelah dan kantuk tak dapat ditahan lagi. Kami berdua langsung tidur, dan tanpa kusadari Celli juga tidur di dalam kamarku. Terakhir kali aku tidur dengannya kurasa saat aku masih kelas 6 SD. Celli tidur dengan sangat pulas. Ia tidur sambil memeluk guling yang biasa kugunakan ketika tidur. Mungkin saat ini guling itu aku biarkan berada di pelukan Celli supaya ia dapat tidur dengan nyenyak. Aku melihat jam di smarthphone, menunjukan jam 03.00 Pagi. Kurasa aku tidak bisa tidur karena perutku yang mulas tiba-tiba. Tapi, keinginanku untuk pergi ke kamar mandi seakan pudar ketika aku melihat Celli pulas tidur. Gadis manis dan baik hati ini selalu membuatku semangat untuk melakukan segala hal. Terlepas dari sifat cuekku, Celli tetap mau mengobrol dan mengakui diriku sebagai kakaknya. Kuusap rambut yang halus itu dari kening Celli. Saat ku usap rambutnya, wajah Celli tiba-tiba berubah. Sangat lucu, perubahan ekspresinya itu yang membuat aku ingin terus mengusap rambutnya berkali-kali. Samakin aku usap, maka semakin lucu ekspresi Celli saat tidur.
"Celli, kau adalah orang yang berharga. Kakak akan berusaha melindungi senyum manismu ini sampai kapan pun." Gumam hati kecilku kepada Celli.
"enngg..." tiba-tiba Celli mengigau setelah aku mengusap rambut Celli.
Seketika aku membiarkannya lagi untuk tidur dengan mengusap dan mendekatkan bantal di dekat kepala Celli senyaman mungkin agar dia bisa kembali tertidur pulas. Lalu, Celli kembali tertidur sambil memeluk gulingku.
Berhubung aku tidak bisa tidur, kucoba untuk menenangkan perutku yang dari tadi mengeluarkan suara yang aneh. Aku pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Sambil meminumnya, aku tak sengaja melihat tumpukan buku yang sangat berantakan. Siapa yang mengacak-acak rak buku di ruang tamu? Mungkinkah mamah? Biasanya dia selalu lupa menaruh dokumen penting di saat dia butuhkan. Makanya mamah mengacak-acak rak buku untuk menemukan dokumen yang ia butuhkan. Kucoba merapihkan tumpukan buku yang sangat berantakan ini untuk mengembalikan rasa kantukku supaya aku bisa kembali tidur.
Berapa banyak sih dokumen dan buku yang kita miliki. Aku baru sadar kalau kita memiliki banyak sekali buku. Mulai dari buku psikokogis hingga buku resep-resep yang suka dibaca ibu-ibu. Oh, aku juga menemukan album foto kita berempat dulu. Ya, kami berempat bersama ayah.
Aku mengambil album foto itu dan mulai melihat koleksi foto-foto itu. Kami berempat Nampak bahagia di foto itu. Ada foto dimana kami berempat berfoto di depan Metro Mall yang pada saat itu masih dibangun. Ya, ayah dulu bekerja di proyek pembangunan Metro Mall. Dan Celli pada waktu itu masih sangat kecil, ia digendong oleh mamah sambil terus menangis meminta susu dari mamah.
Ayah berfoto disampingku sambil memegang bahuku. Pada saat itu kenapa yah aku memasang wajah jutek kepada ayah. Kalau saja aku tahu kalau hari itu adalah hari terakhir aku bisa bertemu ayah. Semua orang yang merasakan hal yang sama sepertiku pasti akan menyalahkan segala keadaan yang ada. Padahal yang harusnya disalahakan adalah manusia itu sendiri. Manusia lahir di muka bumi ini adalah sebuah kesalahan. Dari lahirnya manusia mereka akan membuat kebahagian, kesedihan, dan yang pasti adalah perpisahan. Entah cepat atau lambat manusia akan membuat manusia lainnya bersedih dan menyisakan luka yang sangat pedih.
"Ayah, nggak perlu khawatir. Aku udah nggak nyalahin ayah lagi, aku udah nggak nyalahi keadaan lagi. Walaupun kita sudah berpisah, aku memulai sebuah pertemuan. Pertemuanku dengan seseorang yang membuatku membuka mata kepada dunia ini. Selama ini aku hanya fokus dengan meningkatkan nilaiku di bidang akademis. Hal itu kulakukan karena ayah selalu bilang belajar, supaya dapat nilai yang bagus. Namun kehampaan yang justru aku temui. Aku nggak bakal merasa sedih lagi dan menganggap semua perkataan ayah adalah keinginan ayah kepadaku. Aku akan membahagiakan semua orang yang ada disekitarku dengan caraku. Aku akan membuat kesan yang bagus sebelum mereka semua merasakan kesedihan karena diriku."

KAMU SEDANG MEMBACA
A Message
Romance"Diam bukan berarti aku tak peduli dengan sikapmu, diam adalah bentuk perasaanku padamu." Ketika sebuah pilihan membuat suatu perasaan yang begitu kuat, sebuah pesan sangat sulit untuk disampaikan. kisah seorang anak SMA, Arman Radithya yang tidak...