Gadis itu menutup pintu di belakangnya. Mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan mencari keberadaan dimana saklar sebelum menekannya dan membuatnya bisa melihat keadaan apartementnya.
Ia menghela napasnya ketika mendapati seorang pria disana. Duduk di sofa ruang tengah seolah dirinya tengah menunggunya. Senyuman pria itu begitu mendebarkan baginya dan membuatnya kini terdiam di tempatnya.
"Kemarilah."
Suara pria itu melewati indra pendengaran Jennie. Dan ia tak memiliki pilihan lain selain mendekat. Berdiri dengan sedikit memberi jarak pada Jungkook disana.
Pandangannya beralih pada sebuah tas yang berada di samping pria itu. Dan Jungkook menyadarinya. Mengikuti arah pandang Jennie.
"Ah, aku belum memberitahumu tentang hal ini." Lalu beranjak dari duduknya dan kini berdiri berhadapan dengan gadis itu. "Tae hyung sudah tahu jika aku yang berada di belakang semua ini. Cih, aku sampai lupa jika Tae hyung adalah orang yang paling peka di antara kami."
Jennie tampak terkejut disana. "Kau serius? L-Lalu bagaimana?"
"Entahlah. Dia yang terlalu menyayangiku atau dia yang benar-benar bodoh. Dia datang ke rumah dan mengatakan di depan semuanya. Tapi dia juga mengatakan jika dia tak akan mengatakan apapun pada Jisoo. Hah, jika begini, bukankah akan lebih bagus?"
Jennie masih diam. Sampai dirasanya sebuah pelukan pada tubuhnya. Menariknya mendekat dan menatap pada Jungkook.
"Jadi, tidak apa jika aku tinggal disini, bukan? Tatapan mereka semua benar-benar menggangguku seolah aku ini adalah seorang kriminal."
Jennie masih diam. Namun akhirnya ia mengangguk menjawabnya. Membuat senyuman tampak di wajah pria itu.
"Hah, sepertinya, aku ingin memberikan hadiah padamu. Jadi, kau ingin hadiah apa dariku, hmm?"
"Kau."
Dan Jennie tak perlu menunggu jawaban dari bibir pria itu. Karena dirinya dengan cepat membawa bibir itu untuk bertemu dengan bibirnya. Kedua tangannya bahkan sudah mengalung sempurna pada leher Jungkook.
Sementara sang pria memilih membalasnya. Semakin menarik tubuh ramping itu untuk mendekat padanya. Kedua bibir yang bertemu itu terdengar nyaring di telinga keduanya.
Dan Jennie tak tahu jika dirinya kini sudah berada di bawah kuasa seorang Jungkook. Menindih tubuh kecilnya dan membaringkan dirinya pada sofa yang ada disana. Masih dengan kedua bibir mereka yang bertemu.
Jennie nampak menunjukkan raut wajah kecewanya ketika ciuman di antara keduanya terhenti. Ia menatap pria itu yang masih berada di atas tubuhnya.
"Apa kau tetap tak akan pernah mau menyentuhku?"
"Aku sedang menyentuhmu saat ini."
"Kau tahu maksudku."
Jungkook menghela napasnya. Beranjak dari atas tubuh Jennie dan berlalu begitu saja menuju satu kamar yang ada disana. Siapa lagi yang memiliki kamar itu jika bukan Jennie?
Sementara gadis itu masih berbaring disana. Berusaha untuk menahan tangisnya dengan tangannya yang terkepal.
Waktu. Ya, hanya itu yang bisa ia andalkan sekarang. Waktu untuk dirinya akan datang. Ia selalu berharap seperti itu. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah terus menunggu. Walaupun itu benar-benar menyakitkan untuknya.
Jennie mulai beranjak dari berbaringnya. Mengambil tas milik Jungkook dan membawanya bersamanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Disana. Pria itu telah melepaskan atasannya. Menyisakan dirinya yang hanya berbalut celana yang ia kenakan. Memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sempurna. Berdiri membelakangi Jennie.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Love
Fanfiction[18+] ✔ Apapun Taehyung lakukan untuk Jisoo, Karena dia adalah sang pujaan hati, Karena dia adalah belahan jiwanya, Dan yang paling terpenting, dia adalah cintanya. Istrinya. ----- ©A BTS's V & BLACKPINK's Jisoo Fanfiction ©iamdhilaaa, 2018
