PRANG
Helaan napas keluar begitu saja ketika pria itu mendengar kembali suara pecahan yang sudah tak asing baginya. Kakinya melangkah secara natural dan cepat menuju kamar utama. Membuatnya menghela napas ketika melihat kembali beberapa pecahan yang sudah tergeletak di lantai begitu saja.
Tentu saja. Pecahan itu tak mungkin terbuat jika tidak ada pelakunya. Dan pelakunya tak lain adalah seseorang yang kini memasang raut wajah kesalnya. Bersandar pada kepala ranjang.
Pria itu hanya menghela napasnya. Memilih untuk membersihkan pecahan-pecahan yang berserakan itu beserta bekas lainnya. Membuangnya pada tempat sampah sebelum kembali lagi ke kamar dan mendekat pada gadis yang bahkan tak merubah raut wajahnya sejak terakhir kali ia lihat.
"Apa lagi sekarang? Kau ingin sesuatu yang lain? Bukankah tadi kau memintaku untuk membuatkan nasi goreng kimchi?"
"Kau bodoh."
"Wae? Apalagi?"
"Kau terlalu asin membuatnya. Bagaimana jika Jieun sakit karena kau?"
Lagi. Hanya helaan napas yang pria itu keluarkan. Sudah terbiasa dengan beberapa keluhan yang terus keluar dari bibir seseorang yang tak lain adalah sang istri.
Ya. Dirinya tengah mengandung saat ini. Jika diperhitungkan, usianya telah mencapai 3 bulan. Itulah sebabnya sang suami harus bisa bersabar ketika sang istri sudah meminta hal-hal yang bahkan tak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Sayang, kau harus mengertiku. Aku bahkan baru pertama kali menggunakan kompor. Kau juga tak bisa pula membuang makanan seperti tadi. Itu tak baik. Apalagi di depan Jieun nanti."
Ya. Mereka bahkan sudah menamai anak mereka. Walaupun mereka belum mengetahui bagaimana jenis kelaminnya. Tapi sang Ayah sangatlah yakin jika anak yang ada dalam rahim istrinya saat ini adalah perempuan.
Mungkin, memang benar pepatah yang selalu mengatakan jika naluri seorang Ayah dan seorang putri sangatlah kuat.
"Benarkah? Apa aku selama ini mengajarkannya hal yang tak baik?"
Lihat. Emosi sang istri memang benar-benar sangat buruk. Beberapa menit yang lalu terlihat kesal, sekarang sudah akan menangis. Lihat saja bagaimana bibirnya mengerucut karena ingin menahan tangisnya.
"A-Aku ibu yang buruk, ya?"
Sabar. Itu adalah kata-kata yang terus ia lontarkan untuk dirinya sendiri. Jadi yang dia lakukan adalah memilih menghadapkan wajah sang istri padanya. Menghapus airmata yang tak pernah mau ia lihat seumur hidupnya itu dengan sebuah senyuman miliknya.
"Tidak, sayang. Aku tak mengatakan itu. Siapa yang mengatakannya? Jika ada yang mengatakannya, kau bisa katakan padaku siapa orangnya. Bagaimana bisa mereka menuduh istri tercantikku ini adalah seorang ibu yang buruk, hmm?"
Dan sekarang, sebuah senyuman terbentuk di wajah cantik itu. Senyuman yang masih sama yang mampu membuat debaran lain bagi sang suami ketika melihat wajah istrinya itu.
Setidaknya, sang suami merasa lega ketika ia dengan mudahnya membuat istrinya tersenyum hanya karena ucapan itu. Dan selanjutnya adalah dirinya yang membawa tubuh itu untuk ia peluk. Dibalas hal yang sama oleh sang Ibu muda itu bahkan dengan eratnya.
"Tae..."
"Hmm?"
"Maafkan aku."
"Untuk apa, sayang? Kau tak bersalah apapun."
"Apa ketika aku sedang hamil, aku merepotkanmu?"
Taehyung hanya tersenyum mendengarnya. Sedikit mengangkat tubuh Jisoo agar ia bisa duduk di pangkuannya. Lalu meregangkan pelukan mereka agar ia bisa menatap wajah sang istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Love
Fanfiction[18+] ✔ Apapun Taehyung lakukan untuk Jisoo, Karena dia adalah sang pujaan hati, Karena dia adalah belahan jiwanya, Dan yang paling terpenting, dia adalah cintanya. Istrinya. ----- ©A BTS's V & BLACKPINK's Jisoo Fanfiction ©iamdhilaaa, 2018
