Failure ~ 3

9K 421 11
                                    

Crista terdiam saat matanya bertemu dengan mata sang Ayah. Ia baru saja pulang dari rumah sakit saat Ayahnya tiba-tiba pulang. Bukankah ibu bilang ayah baru pulang besok?

"Mas Aashim?" Hasna memanggil nama suaminya dengan kaget.

"Assalamu'alaikum ...."

"Wa'alaikumussalam. Aku pikir Mas baru sampai rumah besok." kata Hasna sambil mencium tangan kanan Aashim dan mengambil alih tas yang dibawa oleh suaminya.

"Aku langsung pulang setelah Herman menghubungiku kemarin. Aku sangat menghawatirkan kondisi anak kita. Perasaanku sangat tidak enak, Hasna. " jawab Aashim sambil mendekati Crista. Hasna terdiam. Perasaan suaminya itu memang sangat peka.

"Bagaimana keadaanmu, Crista?" tanya Aashim lembut. Crista tak menjawab. Ia hanya menatap wajah sang Ayah tanpa berkedip.

"Crista ...? " panggil Aashim pelan. Tangan kanannya menggenggam tangan kanan putrinya.

Crista masih diam. Namun kali ini, mata gadis itu berkaca-kaca. Perlahan, air mata mulai menetes di pipinya.

"Hei ...! Kenapa menangis, Sayang?" tanya Aashim sambil mengusap air mata putrinya. Namun air mata itu justru mengalir lebih deras.

"Ayah ...." panggil Crista sambil terisak. "Ayah pulang, Crista." kata Aashim lembut. "Ayah ... Hiks .... Ayah ...." desis Crista disela-sela tangisannya.

Melihat Crista menangis tersedu-sedu, Aashim langsung memeluk anak gadisnya dengan sayang. "Ayah .... Huuhuu ...."

"Ayah di sini, Sayang." bisik Aashim sambil membelai rambut Crista penuh sayang. Crista mencengkeram baju ayahnya dengan erat dengan isak tangisnya yang semakin kencang.

Aashim menjadi bingung. Mengapa Crista menangis sampai seperti itu? Putrinya itu gadis yang sangat tegar. Dia gadis yang jarang sekali menangis.

"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini? Apa yang terjadi?" tanya Aashim cemas. Crista tersentak. Gadis itu segera menggeleng. Ia lalu menatap Sang Ayah sambil menghapus air mata di pipinya.

"Ayah .... Jangan marah ya?" pinta Crista. Aashim mengerutkan keningnya karena bingung. "Kenapa Ayah harus marah?" tanya Aashim bingung.

"Janji dulu. Apapun yang akan aku sampaikan pada ayah, ayah tidak boleh marah." Crista menuntut Ayahnya. "Insyaallah, Ayah tidak akan marah. Apa yang akan kamu sampaikan pada Ayah?" tanya Aashim sambil mengusap pipi kanan Crista.

Crista menoleh pada sang ibu yang berdiri di dekat lemari pakaian setelah meletakkan tas Sang Ayah. Hasna mengangguk, mendukung Crista. Gadis itu menghela nafasnya pelan. Untuk pertama kalinya ia harus membohongi Sang Ayah.

"Aku ...."

"Hm?"

"Aku ingin menikah, Yah." kata Crista. Aashim mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ayah kira kamu ingin mengatakan apa. Ternyata kamu ingin me ...." ucapan Aashim terhenti. Seketika ia memandang wajah anak gadisnya dengan tatapan tak percaya.

"HUH?? KAMU MAU APA???" tanya Aashim dengan sangat terkejut. Laki-laki berusia 45 tahun itu seketika berdiri. "Aku ingin menikah, Yah. Aku sudah menerima lamaran kak Gustaf." jawab Crista.

"Tunggu, Crista. Kamu ini bicara apa? Kamu baru saja lulus SMA, nak. Apa kamu serius?" tanya Aashim tak percaya. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing. "Iya, Yah. Aku akan menikah dengan kak Gustaf. Dia sudah melamarku kemarin." jawab Crista.

Flashback

"Aku akan bertanggung jawab atas kekeliruanku, Crista. Aku akan menikahimu." kata Gustaf sambil memegangi bahu Crista.

Beautiful FailureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang