Warn! Alur cepet.
Chapter yang panjang. Cari waktu yang tepat.
Semoga kita berbahagia😊
.
.
.
.
.
.
.
Miracle In December
.
.
.
.
.
Daniel turun dari mobilnya sambil membawa Arin yang sibuk dengan wafer green tea yang sedari tadi dia emut. Daniel kali ini tidak memotongnya kecil-kecil melainkan membiarkannya di tangan Arin begitu saja. Dia sedikit membetulkan kain gendongannya dan memasuki sebuah café besar di daerah gangnam.
Jadi ini café milik mucikari itu? Hebat sekali dia, belum ada dua tahun kafenya sudah tiga kali lebih besar dam desainnya semakin kekinian. Selain itu setahu Daniel juga Hyun Bin banyak membuka cabang.
Sayangnya Hyun Bin gagal mengajak Daniel bekerja sama, Daniel selalu menolaknya.
“Selamat sore, mau pesan apa?” Tanya pelayan itu, namun sepertinya Daniel tak tertarik menikmati jamuan kafe ini.
“Dimana bosmu?” Daniel malah bertanya balik, nadanya membuat Arin mendongak menatapnya tapi Daniel segera memegang kepalanya perlahan menyuruh Arin menunduk.
“A-Apa sudah membuat janji? Bos kami sedang si-“
“Aku tanya dimana?!”
Hardikan Daniel membuat Arin takut, anak cantik itu menempelkan kepalanya di dada ayahnya masih dengan mengemut wafer green tea yang belum habis. Karena tidak mendapat jawaban apapun, Daniel keburu kesal dan matanya menangkap tangga yang bukan mengarah ke arah balkon.
“Tu-Tunggu!”
Dua pelayan langsung mengejar Daniel yang seenaknya saja berjalan cepat ke arah tangga itu. Sambil sebelah tangannya memeluk Arin dia naik dua tangga sekaligus membuat pelayan itu kewalahan. Sampai tangga teratas dia langsung bertemu dengan pintu ruangan yang bertulisan ‘Daepyo-nim’
“Daepyeo?” Daniel tersenyum remeh dan membuka pintu itu dengan cepat.
Brak!!
Tepat dua pelayan itu di depan pintu Daniel langsung menutupnya dengan kencang, sang pemilik ruangan juga sangat kaget dengan kehadiran mantan clientnya(dari profesinya dulu).
“Bos!!” Kedua pelayan itu masuk dengan paniknya namun Daniel sudah duduk santai di sofa.
“Sudah tidak apa-apa. Jangan ganggu dia, bisa hancur kita semua.” Hyun Bin mengusir dua karyawannya itu.
Dengan helaan napas berat Hyun Bin duduk di hadapan Daniel. Sebelumnya ia menelepon karyawannya untuk mengantarkan minum dan makanan ke ruangannya. Padahal dia sedang pusing dengan pekerjaannya tapi Daniel lebih mengerikan dari pekerjaannya.
“Pertama kalinya kau kemari, bukan untuk menjemput Seong Woo atau Justin.” Ucap Hyun Bin.
“Arin-iee...” Hyun Bin gemas pada Arin yang menoleh padanya. Anak itu menatapnya tanpa ekspresi.
“Paman punya permen nih.” Hyun Bin merogoh kantung celananya dan mengeluarkan permen gummy.
“Aaaa...” Arin langsung mengeluarkan suaranya dan tangannya ingin mengambilnya namun masih dalam kain gendongan.
