Semua pesanan rerotian sudah diantar oleh kurir. Biasanya Hanna akan segera bersiap pulang jika pekerjaannya beres. Tapi akhir-akhir ini ia sangat bersemangat. Bahkan mencuci loyang, yang biasanya tugas karyawan lainpun ia lakoni. Entahlah. Rasanya setiap hari selama tiga bulan terakhir tubuhnya seperti punya kekuatan dua kali lipat. Terkadang tanpa disadarinya, senandung-senandung cinta kerap ia nyanyikan. Hanna juga lebih sering tersenyum. Aura cantiknya makin terasa.
Cece Yanti dan teman-temannya juga merasakan perubahan Hanna. Hanna periang, ramah, namun kini terasa dua kali lebih. Cece Yanti dan teman-temannya ikut terbawa bersemangat dibuatnya. Aura positif itulah yang membuat usaha Cece Yanti semakin ramai orderan. Sebab itu Cece tak segan memberinya gaji lebih dari kemarin.
Sedikit demi sedikit tabungan Hanna bertambah. Bukan jumlah yang besar, tapi setidaknya dari sana nanti cita-citanya ia mulai. Membuka usaha sendiri, dan sebagian ia sumbangkan untuk surau di kampung.
Surau itu berangsur lengang kini. Sudah tak ada lagi anak-anak yang belajar mengaji disana. Hanya beberapa orang saja jama'ahnya ketika waktu sholat fardhu tiba. Itupun mereka yang sudah lanjut usia. Sering adzan berkumandang diselingi suara batuk tertahan dari Datuak Mangkuto, dan hanya beliau mu'adzin sekaligus imam bagi jama'ah sholat fardhu.
Jangan ditanya kemana para pemudanya. Kampung yang dulu ramai kini lengang sudah. Gemerlap kota di pulau Jawa menjadi daya tarik para pemuda untuk berbondong-bondong mencari penghidupan yang lebih baik disana. Sebagian lagi merantau ke negeri yang lebih jauh demi mencapai cita-cita mereka. Merantau memang menjadi ciri khas masyarakat Minang. Sebut saja semua kota besar di Nusantara, ada saja warung nasi Padang, kan? Hehe...
Selain bertani, masyarakat Minangkabau juga pedagang. Tek Nian contohnya. Semua anaknya kini merantau ke Jakarta. Setiap hari raya mereka pulang. Perlente sekali gaya mereka. Kesuksesan mereka berdagang kain di Tanah Abang termasyur di kampung.
Di Bukittinggi sendiri ada pasar serupa Tanah Abang. Segala kebutuhan sandang dijual disana. Bermacam-macam jenisnya. Pasar Aua Kuniang namanya. Barang2nya pun rata-rata dari pusat grosir Tanah Abang Jakarta. Jika ingin mencari kebutuhan sandang dengan harga sedikit miring, tak ada salahnya mencoba berbelanja disana.
Ada lagi Pasa Ateh. Disana dijual bermacam kain khas Bukittinggi. Kain dengan berbagai jenis sulaman tangan yang indah. Tentu saja harganya lumayan untuk orang seperti Hanna. Songket Pandai Sikek yang terkenal itupun ada disana. Tak puas-puas mata memandang ke deretan kain yang ditata sedemikian rupa oleh pemilik toko. Kualitasnya pun bermacam-macam. Tergantung seberapa dalam anda merogoh kocek.
***
Ini bulan ke enam Hanna bekerja. Untuk pekerjaan seperti itu memang tidak ada hari libur khusus diberikan oleh Cece Yanti kepada karyawannya. Mereka mendapat hari cuti empat hari dalam sebulan. Terserah kapan mereka mau libur. Selama enam bulan itu Hanna belum mengambil cutinya itu. Jadi bulan ini ia berencana mengambil dua puluh hari masa cutinya untuk mengunjungi Mak Tuo Rosma di Pekanbaru. Dan juga ingin bertemu dengan... Besok ia akan pulang ke Bukittinggi, dan berbelanja sedikit oleh-oleh untuk Mak Tuonya.
Hanna membeli beberapa kantong karupuak kaliang, dan sanjai. Sanjai pedas dan asin adalah pilihan Hanna.
"Banyak sekali, Nak, kau berbelanja. Mak Tuomu kan hanya seorang diri."
"Dirumah Mak Tuo ada karyawannya, Ma, terkadang mereka memasak sampai larut malam kalau sedang banyak pesanan."
Nurhayati mengangguk maklum. Rosma kakaknya, memang tidak memiliki anak. Suaminya pun telah berpulang ke Rahmatullah. Karena itu, Rosma menyayangi Hanna seperti anak kandungnya.
***
Kedatangan Hanna yang tiba-tiba menjadi kejutan bagi Rosma. Dipeluknya keponakannya itu.
"Kenapa tidak memberi tahu Mak Tuo?"
"Surprise, Mak Tuo, hehehe..."
"Kau ini. Ayo, istirahatlah dulu."
Hanna menuju kamarnya. Maghrib hampir tiba. Ditutupnya gorden jendela itu. Sekelebat diluar sana, seorang pemuda lengkap dengan pecinya berlalu. Langkahnya panjang, takut terlambat untuk sholat berjama'ah di masjid. Darah Hanna berdesir. Hangat menjalari sekujur tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih kencang. Hanna terpaku ditempatnya berdiri. Wajahnya merona. Tanpa sadar bibirnya berbisik, "Mas Reza ..."
Pagi ini udara Pekanbaru cerah. Panas lebih tepatnya. Hanna menyapu pekarangan yang dipenuhi daun mangga kering. Di depan rumah Mak Tuo Rosma ada pohon mangga yang selalu berbuah. Tidak kenal musim. Entahlah, apa jenis mangga ini. Buahnya besar-besar dan manis. Reza baru pulang dari lari paginya pada car free day di pusat kota. Masih memakai kaos dan celana training. Motornya berhenti di depan Hanna.
"Hanna ..., kapan datang?"
Deg! Rasanya seperti disiram seember air es mendengar suara itu. Dialah yang sebenarnya ingin dikunjungi Hanna. Mengunjungi hatinya.
"Mas Reza?, semalam Mas."
Hanna berdiri dengan kikuk. Sapu ditangannya terlepas ke tanah. Dipungutnya kembali untuk menghilangkan rasa canggungnya. Lututnya sedikit lemas dan gemetar. Ia berharap semoga Reza tidak menyadari keadaannya.
"Oiya, sebentar ya, Mas ..."
Hanna bergegas masuk mengambil dua bungkus kerupuk sanjai, lalu kembali dengan sebuah kresek.
"Ini, ada sedikit oleh-oleh."
"Wah, enak ini. Makasi ya. Ehm... Mas masuk dulu ya, gerah. Mau mandi dulu."
Hanna mengangguk. Sebenarnya ada banyak yang ingin ia ceritakan. Tapi lidahnya terasa kelu saat Reza sudah berada di depannya. Dan mendadak ia lupa mau cerita apa. Entah kenapa.
***
Reza anak kedua dari dua bersaudara. Mbak Tin, kakaknya, sudah berkeluarga. Sesekali Mbak Tin datang berkunjung kerumah orang tuanya. Hanna pernah bertemu sekali. Orangnya ramah namun tidak banyak bicara. Jadilah hanya Reza dan kedua orang tuanya saja yang menghuni rumah besar itu. Mereka adalah Bu De Aminah dan Pak De Karyo. Mereka asli dari Sragen, Jawa Tengah. Namun sudah puluhan tahun menetap di Pekanbaru.
Masyarakat Pekanbaru terdiri dari banyak suku. Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Mandailing, dan Minang. Namun mereka saling menghormati satu sama lain. Mereka hidup rukun. Toleransi beragamapun sangat terasa disini.
Hanna memasukkan tumpukan daun kering kedalam goni bekas untuk dibawa ke halaman belakang. Ada tong sampah besar disana. Separonya diisi pasir. Sampah daun dan sisa sayuran dibuang disana untuk dijadikan kompos. Ia tidak menyadari Reza sudah berdiri di belakangnya.
"Han..."
"Astaghfirullah..., Mas,...."
"Hehe... Kaget ya, maaf. Makanya jangan sambil ngelamun. Ntar kesambet loh. Lagian mikirin siapa sih?"
"Enggak ada."
"Masa..."
"Iya."
"Oh, oke. Bu Ros ada?"
"Ada di dalam. Masuk aja Mas."
Reza memang sudah biasa ke rumah Rosma. Keluarga Reza sudah seperti saudara buat Rosma. Mereka tetanggaan sudah lama. Hampir dua puluh tahun. Saat itu umur Reza masih delapan tahun.
Tak lama Reza keluar sambil melempar senyum kepada Hanna. Deg! Hanya sekilas tapi manis sekali.
"Ya Allah, bolehkah....?" lirihnya.
Bukankah Tuhanlah yang telah menciptakan rasa cinta pada semua makhluk. Tetapi mengapa hadir pada seseorang yang belum tentu menjadi miliknya. Sekuat tenaga disimpannya rasa itu.
Dari balik jendela, Rosma tersenyum.
"Bagaimana Reza menurutmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DIJODOHKAN
Dragoste(Complete) Hanna, seorang gadis sederhana. Ia bekerja disebuah pabrik roti rumahan di luar kota. Tiba-tiba Hanna disuruh pulang kampung. Sebab keluarga Hanna menjodohkannya dengan seorang lelaki. Hanna tidak bisa menolak lamaran tersebut meskipun ia...
