Ruangan tiga kali empat meter di sebuah gedung lima lantai. Desain interiornya dirancang minimalis modern terbaru. Di salah satu sudutnya ada meja besar berlapis kaca tebal penuh dengan berbagai berkas yang mesti kuperiksa. Aku Irwandi. M.E. Gelar M.E kuraih belum lama ini, untuk penyetaraan jabatan di kantor. Saat ini aku menjabat sebagai marketing manager di sebuah perusahaan.
Jabatan yang bagus, dan punya segudang prestasi ternyata tidak bisa membuatku berpuas diri. Aku merasa belum lengkap ditengah kemilau karirku. Jalan hidupku tidak semulus prestasiku di kantor.
Usiaku sudah kepala tiga. Namun belum juga berumah tangga. Secara fisik mungkin aku bukanlah pria menarik. Tapi bukankah uang punya kekuatan? Erika, pacarku itu, bertahan denganku karena tentu saja ia butuh kucuran dana setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan hidup dua balitanya. Saat berkenalan, aku tidak mengetahui status janda dengan dua balitanya itu. Hubungan kami sudah melebihi batas. Dia dengan begitu mudahnya menyerahkan diri kepadaku. Dan aku dengan bodohnya telah terperangkap. Erika hamil. Dan aku mau tidak mau harus bertanggung jawab atas perbuatanku.
Keluargaku sebenarnya telah menjodohkanku dengan seorang gadis baik-baik. Yah, dia tidak semodis Erika. Bukan pula berasal dari keluarga kaya. Hanya lulusan madrasah. Tidak pula punya pekerjaan yang bergengsi. Aku menyetujui perjodohan ini, semata-mata karena wajah cantik itu. Hanna namanya. Gadis desa, polos, taat pula beragama. Setidaknya kelak jika kami menikah dan memiliki anak, aku yakin dia akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Ah, yang jelas dia cantik. Dan aku suka.
Keluarga kami sepakat akan melangsungkan pernikahan kami dengan megah disebuah hotel bintang empat. Yah, keluargaku sebenarnya yang merancang semuanya. Keluarga Hanna, seperti yang telah kukatakan, bukanlah dari kalangan berada. Awalnya mereka menolak. Mereka lebih memilih menikahkan kami di masjid, di kampung Hanna. Tapi keluargaku meyakinkan mereka, bahwa relasi kami yang banyak akan menyulitkan bagi mereka jika pernikahan ini dilangsungkan disana. Dan akhirnya mereka setuju.
Hanna dan keluarganya bahkan tidak meminta uang sepeserpun untuk pernikahan ini. Sungguh sebenarnya aku sangat terkesan dengan kesederhanaan mereka.
Menjelang pernikahan, Hanna tinggal bersama Mak Tuonya di Pekanbaru. Gadis polos itu akhirnya dapat kubawa keluar untuk kami saling mengenal. Hanna benar-benar sangat kaku. Berbeda sekali dengan Erika yang agresif. Dia terlihat tidak berselera terhadap makanan yang telah kupesankan untuknya. Bibir merah mudanya mengunyah pelan-pelan makanan itu. Gemas sekali aku melihatnya.
Sejak diperjalanan memang dia lebih banyak diam. Dia menjawab satu dua patah kata saja. Sungguh sangat pemalu.
Aku pikir dia akan senang jika aku mengenalnya 'lebih'. Aku mengajaknya berkeliling mall, membelikan apapun yang ditunjuknya. Tapi ternyata dia lebih memilih ke toko buku. Ah, sungguh wanita idaman para pria. Aku merasa beruntung akan memilikinya sebentar lagi. Dan bibir merah muda itu, ah, tak ada salahnya, bukankah dia sudah bertunangan denganku?
Entah bagaimana, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipiku. Aku murka. Bukan karena rasa perih dan panas akibat tamparan jemari lentik itu, tetapi karena rasa malu. Seumur-umur belum pernah ada seorang wanita menolak ciuman dariku. Mereka bahkan dengan senang hati membuka kedua pahanya untukku. Gadis sombong. Lihat saja, nanti jika sudah menjadi istriku kau yang akan meminta.
Aku menyusulnya ke rumah Mak Tuonya. Yah, aku tidak sempat mengejar. Dia pulang dengan taksi. Aku berhasil meyakinkan Mak Tuo. Aku mengaku khilaf dan meminta maaf padanya.
Seminggu setelah itu, aku mengajaknya bertemu keluarga besarku. Sepertinya dia sudah memaafkanku. Hanna sama sekali tidak membahas kejadian tempo hari. Hari itu aku yakin bahwa hubungan kami akan baik-baik saja. Dan aku akan memilikinya tak lama lagi.
Dua hari setelah kunjungan Hanna pada keluarga besarku, Hanna mengirim pesan padaku untuk mengantarnya membeli keperluan pernikahan kami. Aku katakan padanya bahwa aku tidak bisa mengantar karena kurang enak badan. Padahal sungguh, aku hampir melompat kegirangan kalau tidak ingat bobot tubuhku yang bisa mengancurkan sebagian lantai mall.
Aku membenci hari itu. Menyesali kebodohanku terhadap kelicikan Erika. Hari itu Erika mengancam akan memberi tahu keluarga besarku tentang janin yang dikandungnya. Tentu saja aku panik. Aku berusaha membujuknya untuk tidak melakukan hal bodoh itu. Yah, dengan menjanjikan sebuah pernikahan. Erika dengan licik juga berhasil menguras isi dompetku hari itu.
Entah apa saja yang ia beli. Aku yang sudah gerah terhadapnya memilih menunggu tak jauh dari kasir. Tiba-tiba Mak Tuo dan Hanna juga berada di mall yang sama. Mereka bertemu Erika. Dan lagi. Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Kali ini Mak Tuo sendiri yang melakukannya. Dan aku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa-apa. Tapi, apa yang harus kujelaskan? Aku hanya bisa diam, memandangi sepatuku sambil memegang wajahku yang terasa panas dan kebas. Luar biasa tenaga wanita tua itu.
Mak Tuo menelponku. Membatalkan sepihak atas pernikahanku dan Hanna. Lagi-lagi aku terdiam. Aku bingung. Bagaimana nanti reaksi keluargaku. Apa yang akan dikatakan wanita tua itu pada ayah ibuku. Aku hanya bisa pasrah. Dan Erika, tanpa rasa berdosa perempuan itu bergelayut manja di tanganku. Aku memang tidak menepisnya. Lagipula siapa yang bisa menepis dua gundukan bukit indah di balik blouse tipis itu. Hey.... Aku laki-laki normal.
Hampir delapan bulan aku tidak lagi mendengar kabar tentang Hanna. Hingga hari ini, teleponku berbunyi. Salah seorang kerabat yang diundang memberi tahukan padaku bahwa Hanna sedang melangsungkan pernihannya. Kututup laptop, dan kutinggalkan ruanganku. Persetan dengan berkas-berkas itu. Aku harus kesana, memastikan kabar itu.
Aku memarkir mobilku lumayan jauh dari rumah Mak Tuo Rosma namun masih dapat kulihat suasana disana. Ish! Hanya sebuah pernikahan ala kampung. Tidak istimewa sama sekali. Bahkan tidak ada organ tunggal layaknya perhelatan meriah.
Hanna sendiri, aku tidak melihatnya. Aku hanya ingin memastikan kabar pernikahan itu. Aku pastikan mereka tidak boleh bahagia. Sebuah rencana berkelebat dikepalaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIJODOHKAN
Romance(Complete) Hanna, seorang gadis sederhana. Ia bekerja disebuah pabrik roti rumahan di luar kota. Tiba-tiba Hanna disuruh pulang kampung. Sebab keluarga Hanna menjodohkannya dengan seorang lelaki. Hanna tidak bisa menolak lamaran tersebut meskipun ia...
