Nama: Fahmi, Nurul, dan Daema.
Judul: Semunya Harapan Pandora.
Genre: Fantasi? Slice of life?
Jumlah kata: 2841
• happy reading •
Gigitan daging apel pertama terlaksana.
Manis. Merah sampul buahnya berbinar di antara remang-remang meteor harapan dan suara air yang berlomba-lomba untuk jatuh bersamaan melodi kutilang. Sulur halus merah gelap rambut panjangnya dibawa lari melambai-lambai oleh pesona dingin sang bayu malam yang menyetrum indra peraba dengan latar tarian pohon cemara tua.
Sedikit sel lega menjalar ke seluruh indranya. Cuma sedikit.
Ayunan kakinya menggantung di atas tumpukan aliran deras wilayah Yunani. Athena. Kota dengan segala istilah-istilah kebaikan yang baru dilahirkan oleh pemikiran-pemikiran para filosof memukau. Juga pusat segala partikel keburukan lahir. Tadi pagi. Hanya oleh seorang gadis yang terpedaya penasarannya sendiri. Atau, ia sebenarnya diperdaya oleh takdir dan nasib? Alam raya pun tidak tahu. Apalagi remaja malang itu.
Kekosongan pakuan maniknya pada sisi gelap batu cadas raksasa sejauh tiga ratus lima puluh tujuh meter di bawahnya seakan-akan meraung:
Semesta! Bangunkan aku dari mimpi burukku hari ini.
Namun akal pikiran sehatnya mengatakan bahwa dia memang salah. Bukan. Sisi lain hatinya mendamprat kenyataan. Yang salah itu Zeus. Kenapa dia memberikan hadiah itu kepadanya?
Gigitan daging apel ke-dua terlaksana.
Masih manis. Meskipun begitu, asamnya tetap menyengat sejenak dan wilayah lidahnya hanya sedikit yang tahu. Matanya mulai mengawasi wajah bumantara. Tataplah. Bulan saja enggan menyaksikan hari lahirnya akar ketiadaan cahaya. Tapi tunggu dulu. Pasukan bintang masih setia walaupun hanya beberapa. Sudut bibir merah muda itu refleks tertarik sedikit ke atas setelah kunyahan apel tertelan. Hanya sebentar.
Gigitan daging apel ke-tiga terlaksana.
Masih manis. Sorotnya juga masih setia terhadap bumantara yang mulai menjadi berkabut.
Setetes air mata mendahului lainnya untuk jatuh diiringi tawa kecil ironis mengalahkan jeritan rasa bersalah di pojok batinnya. Sebenarnya ada apa dengan hari ini?
Gigitan daging apel ke-empat terlaksana.
Sst! Apa ada yang mau tahu, kejadian beberapa saat lalu? Selamat teruntuk kalian jiwa panggung sandiwara kehidupan yang dikutuk oleh si penasaran! Karena sebentar lagi rekaman itu akan diputar otomotis oleh alam bawah sadar sang gadis.
Setitik gerimis jelaga netranya terjun menodai remah sisa isi kotak itu. Pandora. Jiwanya runtuh dihantam meteor penasaran yang benar-benar menipu. Ya, kini dia sangat percaya kepada nyanyian pasukan filosof bahwa penyesalan selalu datang terlambat.
Kemudian jagat raya dalam saraf pendengarannya angkat suara:
Bertanggung jawablah engkau wahai tokoh sejarah!
Dengarlah! Semesta telah menegur perbuatan si pengkhianat amanah. Ketiadaan cahaya ilahi pasti tersenyum bangga kepada tingkah cerobohnya beberapa menit lalu.
Sudah tak ada benteng persembunyian. Mereka pula tak menerima pengelakkan. Detik tadi. Semuanya benar-benar berubah. Teror masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya telah bebas. Tentu saja karena penjaranya dimakan nafsu batin dan dilaksanakan tangan biadab makhluk malang itu.
Semesta. Dia takut. Tenanglah wahai manusia, pesan semesta, harapan selalu setia. Kemudian bunyi ketukan pintu tiga kali, eksis. Gadis kecil itu masuk begitu saja setelah ritual membuka pintu terlaksanakan.
"Hei, namaku Alice. Aku berasal dari salah satu tokoh dalam film Alice in Wonderland di masa depan." Oh tengoklah alam raya. Takdir dan nasib benar-benar telah membuktikan bahwa mereka sudah mempermainkan gadis kebingungan itu sekarang!
KAMU SEDANG MEMBACA
[#AFC3] Cerpen
Short Story|• challenge ketiga: membuat cerpen •| Challenge ini dibuat untuk mengisi waktu luang ketika Auteur Fiable hiatus dalam rangka hari kemerdekaan. Yuk, simak cerpen buatan member kami.
![[#AFC3] Cerpen](https://img.wattpad.com/cover/161588025-64-k42944.jpg)