"Ayolah Rin, ya ya ya? Mau yaaa. Please, ya mau ya?" Rengek Yuqi.
Sesungguhnya, Arin sudah muak dengan rengekan sahabat karibnya itu. Iya, sudah hampir 3 jam Yuqi merengek. Ia meminta Arin menemaninya pergi bersama Mingyu.
Ah, ya. Beberapa hari yang lalu, Mingyu meminta Yuqi menjadi pacarnya. Setelah usaha keras Yuqi selama 3 bulan ini, akhirnya perasaannya terbalaskan. Entahlah, sebenarnya Arin masih belum yakin jika playboy dekil itu benar serius dengan sahabatnya. Mana bisa Arin percaya dengan manusia dekil yang ke-playboy-annya sudah terkenal se-antero sekolah, bahkan sudah menyebar keluar sekolah itu.
"Ayolah, ya ya Rin. Please." Yuqi terus memohon pada Arin.
"Apasih, Qi. Ga! Masa iya gue mau jadi obat nyamuk kalian berdua. Ga ga ga. Apalagi sama Mingyu jalannya. Ga! Ga ada!" Tolak Arin.
"Ayolah, Rin. Gue tu masi grogi sama Mingyu. Takut gue tiba-tiba pingsan aja, Rin."
"Gajelas lo! Ya kan si dekil sekarang pacar lo, Qi. Ya tugas dia dong jagain lo. Hih gimana sih."
"Ihhh aku kan masi belum siap."
"Belum siap apa?"
"Gimana kalo nanti gue beneran pingsan, trus kalo gue di pulangin ke rumah trus ketemu abang gue gimana?"
"Ya dia harus berani hadepin bang Yanan."
"Ihh lo tau kan ga semudah itu."
"Ya dia harus mau berjuang buat lo."
"Hihh, lo tau kan Gyu itu rada mesum, tar kalo gue pingsan, gue ga dipulangin sama Mingyu, trus di bawa kabur pergi gimana?"
Arin berpikir sesaat. Benar juga, Mingyu kan cukup mesum. Bagaimana kalau... Argh!
"Gimana?"
"Iya udah gue ikut! Gue temenin lo! Puas? Gue cuma gamau ya lo diapa-apain sama si dekil kampung mesum itu."
Great! Taktiknya berhasil. Kini Arin mau mengikuti permintaan Yuqi. Yuqi tau benar bagaimana cara membujuk sahabatnya yang tidak tega-an dengan orang itu.
***
Jam menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat. Kedua gadis itu telah siap, menanti pangeran berkuda putih yang akan menjemput keduanya.
Pangeran berkuda putih? Haha lucu sekali di telinga Arin. Mana ada playboy dekil kampung macam Mingyu dikatakan pangeran berkuda putih. Cih, sungguh tidak terima sekali Arin.
Tin tin
Suara klakson mobil membuat kedua gadis itu segera beranjak dari teras rumah Arin, tepatnya menuju mobil sang pangeran. Pangeran ubur-ubur bagi Arin.
"Hai sayang, halo Arin." Sapa Mingyu flirty seperti biasanya.
"Hai sayang." Sapa Yuqi sambil tersenyum dengan bahagia.
Arin mengacuhkan sapaan Mingyu dan memilih masuk di bangku penumpang belakang. Ketika membuka pintu belakang mobil Mingyu, Arin terkejut. Sangat terkejut. Membuatnya diam mematung, memandang lelaki tampan dengan ekspresi datar andalannya.
"Kita berangkat sama Wonwoo juga gapapa kan?" Tanya Mingyu pada Yuqi.
"Gapapa dong sayang, jadi Arin ada temennya, ga jomblo-jomblo banget." Jawab Yuqi semangat. Ya, semangat menghujat sahabatnya yang kini tengah sendiri itu.
Mingyu tertawa menanggapi kekasihnya itu. Sungguh, mereka berdua benar-benar cocok sekali. Sama-sama suka menghujat.
"Masuk, Rin. Ga jalan-jalan kita ntar kalo lo ga masuk-masuk."
"Terpana sama Wonwoo kali yang, Arinnya."
Sungguh hal itu tidak lucu. Mengapa kedua sejoli itu tertawa dengan sangat puasnya.
"Berisik lo!" Katanya sambil memukul kepala Mingyu cukup keras.
Bukan, itu bukan Arin. Dia tidak akan se-anarki itu. Yang memukul Mingyu adalah Wonwoo.
"Dih marah dih, malu ya Won?" Katanya sambil tertawa menggoda Jeon Wonwoo yang sudah kesal sekali dengan ulah sahabatnya itu.
Arin segera masuk ke dalam mobil Mingyu. Jujur saja, dia sangat gugup. Bagaimana tidak, dia sedang duduk di samping seorang Jeon Wonwoo, yang notabene adalah pujaan hatinya. Entah terlihat di mata Wonwoo atau tidak, tapi Arin begitu berusaha untuk menetralkan dirinya agar tidak terlihat gugup di depan lelaki kulkas itu.
Selama perjalanan tidak ada suara yang terdengar, tepatnya antara Wonwoo dan Arin. Kalau Mingyu dan Yuqi sudah tidak usah ditanya lagi. Mereka begitu berisik, bernyanyi lagu dari radio bersama dan memamerkan kemesraan mereka di hadapan keduanya.
"Eh duduknya kenapa misah sih?"
Ya, jadi Mingyu dan Yuqi memutuskan untuk menonton film romance di bioskop. Keduanya membeli tiket untuk mereka berempat, namun pemilihan kursinya membuat jantung Arin tak karuan. Bagaimana tidak, Mingyu dan Yuqi sengaja memilih bangku berdua yang terpisah dari bangku lain, begitu juga untuk Arin dan Wonwoo.
"Pfft, alay!" Sewot Arin dengan suara yang amat pelan.
"Emang alay, namanya juga bucin." Sahut Wonwoo.
Arin menoleh ke arah Wonwoo yang terlebih dahulu melihatnya dengan senyum yg terukir di wajahnya.
"Kamu... kalo pacaran bucin juga ga, Rin?"
Deg deg..deg deg.. deg deg..
'Kamu?'
Jantung Arin berdegup begitu kencang, bulu kuduknya berdiri. Bagaimana tidak? Wonwoo bertanya dengan deep voice khasnya, tepat di telinga Arin.
Yang bisa Arin lakukan saat ini adalah diam, menormalkan degup jantungnya, mengontrol sikapnya agar tak terlihat salah tingkah di depan Wonwoo.
"A-aku.. aku ga pernah pacaran." Kata Arin sedikit terbata karena gugup, masih tak menyangka apa yang telah terjadi barusan.
"Kenapa?" Tanya Wonwoo sambil memakan popcorn yang sempat mereka beli sebelum masuk dalam bioskop.
"Ya.. ya.. karena... Mungkin ga ada yang mau sama cewek kaku kayak aku."
"Bohong!" Sanggah Wonwoo segera.
Arin menoleh ke arah Wonwoo yang telah menatapnya terlebih dahulu. Menatap dengan tatapan yang begitu intens.
"Aku tau waktu itu kamu pernah nolak bang Seungcheol, kapten tim basket sekolah kita. Aku juga tau kalau banyak cowok yang deketin kamu. Tapi kamu yang selalu menghindar dan nolak mereka secara halus."
Wajah Arin berubah menjadi 'blank', tepatnya ia sedikit terkejut. Terkejut karena Wonwoo mengetahui semuanya, terkejut karena Wonwoo mengubah panggilan menjadi 'aku-kamu', juga terkejut karena untuk pertama kalinya Wonwoo mengatakan kalimat yang panjang, beda dari biasanya. Yang terucap dari mulut Wonwoo hanyalah beberapa kalimat singkat atau bahkan terkadang hanya satu kata 'ya' atau 'tidak'. Tak jarang juga hanya deheman yang terdengar.
Keheningan menyelimuti kedua insan itu setelahnya.
"Hanya..."
Wonwoo menoleh ke Arin. Menaikkan sebelah alisnya, menanti Arin melanjutkan perkataannya.
"Hanya gak ingin pacaran."
"Kenapa?" Tanya Wonwoo penasaran.
"Ngg... Entahlah. Hanya tidak ingin saja."
"Apa karena kamu menyukai orang lain?"
Deg
'Ya, Jeon. Karena aku menyukaimu. Karena hatiku telah jatuh kepadamu.'
Sayangnya, kata-kata itu hanya mampu terucap dalam batin Arin.
Arin mengendikkan bahunya sebagai jawaban sekaligus menjadi penutup dari percakapan diantara keduanya saat itu.
-----
Ingin rasanya ku katakan padamu, namun aku tak mampu. Andai aku memiliki sebuah keberanian.
-A
KAMU SEDANG MEMBACA
MENYIMPAN RASA - JEON WONWOO
FanfictionJika ada kontes mencintai seseorang tanpa disadari, maka aku lah pemenangnya. Karena menyimpan rasa adalah ... kemampuanku. [29 Jan 2019- 11 Mei 2020]
