Part 1
Sudut kota Jogja menjadi saksi awal perjumpaan kita. Senja yang indah, awan yang lembut, dan deru mesin kendaraan lalu lalang menjadi penghias suasana kala itu. Sungguh sempurna.
Tapi, tiba-tiba ...
Di salah satu tepi persimpangan jalan, di bawah redupnya lampu pijar, kita hampir beradu badan. Punggung kita nyaris saja bersentuhan, tapi beruntung rasa sadar masih ada.
"Astaghfirullah ...", ucapku kaget.
"Eh, aduh. Maaf mas nggak sengaja, hehe.", balasnya dengan ramah.Kaget!
Jelas!Sebab tak pernah sekalipun aku bersentuhan langsung dengan lawan jenis, beda cerita jika tak sengaja.
Terkejut, bukan main.Namun semua sirna dengan keramahan gadis itu. Jujur, baru pertama ku melihat senyum manis nan memikat seperti itu. Jantung ini berdebar dan rasa canggung berbalut sikap malu-malu muncul seketika.
Astaghfirullah, jaga mata jaga mata, ucapku dalam hati.
"Ah, iya, mbak. Hati-hati ya, mbak", balasku dengan senyum gugup.
"Hmm, iya.", balasnya ramah.
"Kamu sih, jalan hati-hati dong.", ketus temannya.
"Ihh, apasih. Kan ga sengaja.", jawabnya dengan tingkah lucu.Tersenyum saja aku melihat tingkahnya.
Kemudian, ...
Mata kita tak sengaja saling beradu dan senyum malu-malu pun muncul dengan sendirinya. Untuk kedua kalinya hati ini bergetar dengan hebat, tapi ku sembunyikan rapat-rapat. Ku beranikan diri untuk bertanya dahulu.
"Hmm, namanya siapa mbak?", kutanya.
"Nur.", jawabnya singkat.Nama yang singkat juga memikat. Entah mengapa mudah saja diingat dan familiar di telingaku. Perjumpaan pertama yang unik dan amat berkesan.
"Tunggu! Mungkinkah kau ... ?"
"Ya, benar. Salam kenal ya." , jawab Nur sambil tersenyum dan mengedipkan mata.
"Wuahh, luar biasa. Masya Allah. Kau benar benar Nur? Nur, wuaahh. Kau nampak berbeda."Nur adalah teman kecilku dulu. Sudah 20 tahun kita tidak bertemu. Meskipun parasnya makin ayu, tapi tingkahnya tetap seperti dulu, Nur yang amat ku kenal.
Hampir setiap hari kita selalu bersama, dan minggu lalu baru saja kita bertemu di Jogja. Sungguh, dunia memang tak selebar daun kelor.
Namun ada hal yang berbeda sekarang, yakni perasaanku saat melihatnya. Sungguh berbeda dengan yang dulu, jauh sekali. Tak pernah ku menyangka akan memandang Nur dengan rasa yang berbeda.
Nur yang dulu lugu, menggemaskan, dan pecicilan. Sekarang ayu, harum, dan tak tahu kenapa tetap pecicilan. Sikapnya yang satu ini benar-benar melekat padanya.
Nur, sekarang engkau berbeda dan aku pun berbeda. Tapi entah mengapa anganmu tak sudi terlepas.
→Prolog Part 2

KAMU SEDANG MEMBACA
Nur
RomanceKisahku dengan Nur Berbagai lika-liku terlewati Namun, hal tak terduga terjadi Pilu, tangis, tawa, canda, dan segalanya #aksaranur 📩 ilmannuriman@gmail.com 👤 Instagram : @ilmannuriman