Dalam bias cahaya itu kurebahkan dukaku, duka mendalam tentang hati yang ditinggal pergi kekasih hatinya. Seperti gemercik air yang bersahutan bersama tetes embun diwaktu fajar. Akankah kau kembali bersama cakrawala? Hanya untuk sekedar menina bobokan rindu yang sudah mulai meracau dalam bahasanya sendiri,
Ataukah kau hanya akan mengintip dari celah-celah dinding itu, seperti tirisan purnama yang terhalang dedaunan? Kulihat setitik cahaya yang kau tinggalkan diujung jalan sana, jalan setapak yang kini mulai berani kutelusuri. Kau tau, aku terkadang lelah dengan semua gambaran surga yang mungkin itu hanyalah sebuah fatamorgana, tapi tidak sedikit aku berhenti bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas panjang sebagai penghilang sesak, karena ku tahu setidaknya aku melangkah dijalan yang hanya tertuju padamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan sebuah perpisahan
PoetryAdakah yang lebih menyakitkan dari sebuah perpisahan?
